Monday, January 20, 2020

Anakku Dibully - The Story


Postingan ini akan lebih fokus ke cerita tentang Marshall. Yup! Dari 4 anak Madam, Marshall yang kerap menghadapi anak-anak pembully. Sebetulnya si Sulung Melvyn juga pernah, tapi nggak terlalu serius karena Melvyn berani bertindak. Ketika dia ditonjok oleh si pembully, Melvyn nggak mikir-mikir untuk langsung balas lagi, dan keduanya berujung di ruangan kepala sekolah. Dan masalah ini berujung dengan Madam menuntut pihak sekolah membereskan masalah ini segera sampai tuntas. Sejak saat itu si pembully kicep.

Semua anak Madam pada dasarnya mengalami peristiwa diintimidasi oleh kawannya. Dan mereka udah mendapatkan bekal harus bagaimana menghadapinya. Pokoknya jangan didiemin. Dan kalau udah mulai fisik, harus dilawan balik. Untuk Melvyn, Marvell, dan Mayra nggak begitu ada masalah. Hanya Melvyn yang berlanjut ke masalah fisik waktu itu. Marvell dan Mayra bisa 'menggigit balik' ketika ada kawannya yang mengintimidasi. Beda dengan Marshall. Dia memilih untuk menghadapinya dengan kebaikan. Karena dia merasa pasti ada alasannya kenapa temannya bisa sekasar itu. Dan mungkin karena ada pengaruh ADD dalam dirinya, most of the time, Marshall merasa ada dari dirinya yang membuat temannya itu terganggu. Nggak selalu sik. Tapi most of the time dia ngerasanya begitu.

Contohnya waktu Marshall SD. Pas kelas 5 SD nilainya Marshall aslik turun banget. Ini karena dia menghadapi bullying dari 2 orang temannya. A dan B. B ini kebawa-bawa si A. Biang keroknya ya si A ini. Marshall nggak pernah luput cerita ke Madam tentang apa yang dilakukan oleh 2 orang temannya ini. Nah, berhubung dari 4 anak, hanya Marshall inilah yang hatinya kelewat lembut, kami orang tuanya memutuskan bahwa Marshall harus dilatih utk kuat. Dia harus bisa menghadapi masalah2nya sendiri, sambil diawasi oleh kami orangtuanya. 

Ketika Marshall pertama kali cerita tentang kelakuan kasar si A dan B, Madam dengerin dengan sepenuh hati. Kasih isyarat bahwa 'you got my full attention, boy! So spill it out..'. Lalu Madam pancing apa yang dilakukan oleh Marshall ketika 2 temannya itu berkata kasar ke dia.. Dan Marshall bilang dia hanya bilang 'tapi kan aku...blablablabla...'

Lalu yang Madam lakukan adalah merespon tindakannya dia..

"That's a good thing kamu udah mau ngomong begitu.
That was good. That was brave."

Lalu, Madam mulai ajak dia untuk mengukur kemampuannya dia dengan menanyakan..
"Do you want to handle it by yourself? Or do you need me to do something for you?"

Anaknya mikir dulu. Bagus itu. Artinya dia menganalisa dirinya dulu. Terus si anak baik bilang..
"I want to handle it by myself, Mommy.."

"Ow ok. I know you can handle it. But, please don't hesitate to let me know if you need my help, OK?
Then we can handle it together.."

Jadi, dengan ada sedikit rasa patah hati, Madam harus bisa menghargai keputusan si anak. Dan tiap kali Marshall cerita kelakuan 2 anak ini ke dia di sekolah, dan bagaimana dia menghadapinya, ada rasa gemas dan darah mendidih pastinya. Pingin banget buru-buru ngelabrak orangtuanya si A dan si B. Well, mostly emaknya si A sik, karena dia biang keroknya. Itu nafsunya Madam.

Tapi Madam ingat, bahwa Marshall harus juga 'dididik' dalam menghadapi hal-hal yang buruk, supaya hatinya nggak terlalu soft lagi. Jadi Madam kuat-kuatin deh tuh dengerin cerita-ceritanya dia.

Pernah suatu hari pas lagi mid test, di hari pertama mid-test Marshall nggak masuk karena batuk dan asma. Lalu pas hari berikutnya, Selasa, masuk dan menjalani ujian. Selama menjalani ujian itu dia batuk-batuk terus. Si A dan B ini ngomel-ngomel kayak babu comel ke Marshall. Padahal anak-anak lainnya sik biasa aja. 

"Apaan sih loe batuk-batuk terus!!!"

"Sorry, aku lagi sakit.."

Terus si A lanjut marah-marah lagi.

Terus Madam bilang ke Marshall "Kok gitu amat sih jadi orang? Nggak ada pengertiannya orang lagi sakit?"

Lalu dengan tenang dan damai Marshall menjawab "It's OK Mommy. Mereka begitu karena terganggu sama batuk aku.."

Mendengar dia mampu berbesar hati seperti itu, dengan air mata ditahan, Madam bilang ke Marshall..

"I promise you, sayang. You're gonna be a great person someday!"

"Thank you Mommy. You know what Mommy? I'm gonna stay with you forever you and protect you.."

Maasyaa Allah.. susah banget nahan air mata saat itu..

Cerita2 gimana perlakuan kasar 2 anak tersebut masih berlanjut. Yang paling sering si A memang. Si B cuman diajak-ajakin sama si A. Sampai suatu waktu, pas malam hari.. Marshall came to me dan tiba-tiba nangis sesegukan..

"Mommy, can please call A's mother? Please ask her what did I do wrong to A that made him hate me so much?"

"What's wrong, sayang?"

"Jadi tadi di kelas, guru ngebagi kelompok untuk Bahasa Indonesia. Aku sekelompok sama si A. Terus si A pas tau sekelompok sama aku langsung teriak-teriak 'aah males banget gua sekelompok sama dia' dan temen2 aku ngeliatin..

Terus abis itu pelajaran olah raga. Kami dibagi jadi 2 kelompok. Aku sekelompok lagi sama dia. Dia langsung teriak-teriak lagi bilang ga mau sekelompok sama aku. Temen-temen aku pada ketawain.."

Jadi si A ini udah kelewatan mempermalukan Marshall di hadapan teman-temannya dalam 1 hari ini. Then Big Mommy said..

"Ok sayang, then let's handle this thing together ya. I'm calling his mother now.."

Lalu Madam telponlah ibunya, dimana sebetulnya kita deket banget. Jadi kurang lebih Madam udah tau gaya-gaya suami istri tersebut dalam mendidik anaknya. Sebetulnya si A ini kasar juga ke anak-anak lainnya. Tapi harus ada orang yang 'slap' the parents on the face supaya mereka tau bahwa anaknya jadi manusia pengganggu di sekolah..

Reaksi standar emaknya pas Madam ceritain apa yang terjadi adalah..
"Waduh kok Mayo baru ceritain sekarang?"

"Ya gue harus hormatin keputusan anak gw lah ketika dia bilang dia bisa handle. Tapi kali ini udah keterlaluan. Tolong loe tanganin anak loe ya, karena gue bayar mahal untuk nyekolahin anak gw bukan untuk dibully sama anak loe.."

Lalu si ibu manut dan mulai the next day sampai akhirnya Marshall lulus SD, anak itu ga berulah lagi. Tapi masih ngebully yang lain? YA IYA BANGET MASIIIIHH. Oiya, Madam bukan cuma tepon emaknya si A ya, tapi juga nepon emaknya si B. Bahasanya agak beda kalo sama emaknya si B, karena kan anaknya cuman kebawa-bawa si A.

Selanjutnya lancarlah sekolahnya Marshall. Dia bisa fokus belajar UN pas kelas 6nya. Dan untuk SMPnya, Marshall akan nerusin di SMP yang sama dengan SDnya. Karena menurut info dari wali kelasnya Marshall, guru-guru di SMP tersebut sudah terbiasa untuk menangani anak yang memerlukan perhatian lebih, casenya di Marshall adalah dengan kondisi ADDnya.

Akhirnya waktu berjalan terus dong. Masuk ke jenjang SMP lah Marshall ini. Apesnya, si A ini dimasukin pulak sama emaknya ke SMP yang sama dengan Marshall. Madam tanya ke anaknya waktu itu..

"Sayang, are you OK being in the same school with A again?"

"I'm fine Mommy. Lagian A udah baik kok sekarang.."

That's my sweet boy. Dia selalu melihat hal yang baik-baik dalam diri seseorang. Nggak ada dendam. Nggak ada benci.
Lalu dimulailah pendidikan SMPnya. Di bulan-bulan pertama, Marshall akhirnya bilang bahwa si A udah mulai ketus dan berperilaku penuh benci lagi ke dia. Tanpa dia tau apa sebabnya. Akhirnya daripada keterusan kayak pas di SD, Madam teponlah itu emaknya..

"X, ini anak loe udah mulai lagi deh kayak pas SD.. mulai ngintimidasi Marshall lagi.."

"Ogitu ya Mayo, duh maaf ya Mayo.. iya nanti gue bilangin deh di rumah. Soalnya pas SMP ini gue emang lagi nggak begitu kontrol dia banget.."

"Coba tolong dihandle aja ya. Marshall ini mulai lembaran baru lho di SMPnya. Dan dia suka sama sekolahnya. Gue nggak mau dia sampe dapet gangguan lagi dari A.."

"Iya Mayo.. tolong sampein maaf ke Marshall yaa..."

Abis itu tenang sik. Lalu si A mulai deh tuh kena kasus ngerokok, barengan sama anak lainnya. Marshall tetap aman lah.. bisa tenang fokus belajar. Nah pas naik ke kelas 8, mulai lagi deh nih anak kelakuannya. Dia dan beberapa teman2nya kena kasus lagi di sekolah. Ngevape. Ada lagi kabur dari acara sekolah berdelapan dengan anak-anak lainnya.

Sampek akhirnya, si A ini ngajakin 4 anak lainnya untuk ngintimidasi Marshall. Bullying lah itu masuknya. Beberapa kata-katanya kayak gini nih...

"Loe mau nggak temenan sama kita-kita?"

"Ummm... Nggak.." Itu jawab Marshall. Dia bilang dia jawab begitu karena "I know exactly they don't want to make friends with me, Mommy.." gitu penjelasannya Marshall. Lanjut lagi ya..

Si A nanya.. " Loe punya temen nggak sih?"

"Punya.."

"Siapa temen loe, hewan???"

"Bukan.."

Rangkaian intimidasi itu terhenti ketika salah satu dari pembully itu nanya..
"Loe kalo kayak gini, bilang nggak ke nyokap loe?"

"Iya, bilang.."

Baru deh tuh anak pada pucet mukanya. Mereka tau banget emaknya Marshall itu kayak apa. Sebelum mereka bubar, mereka mulai kasih tekanan ke Marshall..

"Nangis lagi loe, jangan nangis! nangis lagi.. nangis lagi!!"

Marshall yang hatinya lembut kayak gitu, butuh suatu tempat khusus untuk dia nenangin diri. Akhirnya dia ke kamar mandi, dan ngunci diri di kamar mandi! Akhirnya ada anak yang lapor ke guru bahwa Marshall ngunci diri ke kamar mandi, lalu wali kelasnya Marshall berusaha bujuk Marshall untuk keluar. Rada lama bujuknya. Nggak mau keluar juga. Sampai akhirnya wali kelasnya bilang...

"Marshall, kalau kamu nggak mau keluar juga, Bapak terpaksa dobrak pintunya ya. Bukannya apa-apa, Bapak takut kamu kenapa-kenapa.."

Baru deh Marshall akhirnya mau keluar kamar mandi. Lalu Marshall cerita kejadiannya ke walasnya, dan di saat yang bersamaan, Madam terima laporan dari salah satu teman Madam yang lapor apa yang terjadi ke Marshall di sekolah.

Setelah Madam konfirmasi ke Marshall tentang apa yang terjadi di sekolah (waktu itu Madam di rumah, Marshall masih di sekolah), Madam langsung telp itu ibunya si A, dan aslik the bitch in me keluar saat itu juga. Madam aslik marah banget dan maki-maki itu si ibu yang nggak becus didik anaknya. Siapa juga ibu yang rela denger anaknya ngunci diri di kamar mandi, gara2 anak orang lain, coba?

Emaknya si A ini sibuk2 minta maaf. Lalu Madam minta untuk ketemuan di sekolah besok harinya untuk beresin masalah ini. 4 ibu lainnya juga Madam telp, minta mereka untuk hadir di sekolah. Jam 9 pagi. Nggak lupa, kepala sekolah juga Madam telp saat itu juga.

Malam itu, ketika Marshall cerita keseluruhannya ke Madam, I told him..

"You know what sayang, you are a brave person.
Kamu pemberani banget.
Kamu tetap berani menjawab mereka dengan jawaban yang jujur, bukan malah kamu jawab dengan jawaban yang mereka pingin dengar supaya mereka nggak menyakiti kamu.
Kamu nggak takut. Kamu jawab apa adanya.
Kamu pemberani. Mommy is so proud of you..
It took 5 of them to intimidate you.."

Keesokan harinya, rapat tertutuplah antara pihak sekolah yang dihadiri wali kelasnya Marshall, guru kesiswaan, dan 2 guru lainnya (nggak tau di bidang apa), plus 4 ortu dari anak2 yang membully Marshall. 1 ortu nggak hadir. Yang sedihnya, salah satu ortu malah mikirnya anaknya itu selama ini anak yang baik nggak macem2. Malah gesturenya dari awal udah kasih gesture songong. Eiittss.. jangan coba2 kamu memulai kayak gitu ya Sugiyeeeemmm... bisa menyesal nanti! :D

Akhirnya bener aja. Si ibu yang kasih ekspresi julid ke Madam, dia bilang dia ga mau anaknya dihukum. Karena anaknya kan cuman ikut-ikutan. Duh Sugiyem... bisa aja loe ah. Langsung lah Madam bersabda..

"Gini ya. Logikanya aja. Kalau ada 5 orang maling masuk ke rumah orang. Terus yang 4 orang lainnya ngambil barang, yang 1 laginya nggak. Lalu mereka ketangkep. Yang 1 orang nggak ngambil barang ini, tetep ditangkep ga? Ya tetep ditangkep laaahh.. Nah si S (anaknya dia) ada disana, gesturenya nggak bersahabat, dan dia diem aja nggak nyetop intimidasi itu, ya dia salah lah.."

"Tapi ya mbak, gue sakit hati anak gue loe bilang nakal, biang kerok.."

"Lho kenapa sakit hati? Emang kenyataannya anak loe biang kerok kok.."

"Iya, tapi kenapa diomong2in ke orang?"

"Lho, yang ngomong2in ke orang siapa? Ngomongin ke D ya? (D ini adalah ibunya salah satu anak pembullynya Marshall yg hadir juga saat itu). Itu gw bilang ke D karena dia bilang dia bingung kok anaknya nakal. Padahal dulu nggak gitu. Padahal udah nggak main sama si A lagi. Ya gue bilang karena anaknya main sama anak loe sih.. jadi ada konteksnya ya.. bukan gw main omongin aja"

"Nakalnya dimana coba anak gw?"

"Ok kita tanya ya.."

Anak-anak pembully itu emang akhirnya dihadirkan ke ruangan pas sesi terakhir.
Lalu Madam tanya ke anaknya dia.. S namanya..

"S, bener nggak yang di group instagram, kamu nanya2in ke temen-temen kamu, 'nikotin mana nih nikotin..?', betul nggak?"

Anaknya ngangguk. Emaknya kaget. Madam tanyain lagi..

"Ngerokok kan kamu???"

Anaknya ngangguk lagi. Emaknya langsung terkesiap terus nyolot ke anaknya..

"Duuh ngapain sih loe kayak gitu?"

See?? Banyak ortu yang masih lugu (tadinya mau pake kata 'bodoh' tapi kayaknya terlalu kasar yaaa) yang menganggap bahwa anaknya manis-manis aja. Karena ya di rumah manis-manis aja. Dan kurangnya komunikasi antara mereka. Tapi langsung terkaget-kaget ketika ternyata ortunya dipanggil ke sekolah karena anaknya terlibat beberapa kasus. 

Saat itu Madam bilang ke pihak sekolah, bahwa Madam ingin diberlakukan tindakan disipliner terhadap 5 anak pembully tersebut. Bagaimana tindakan disiplinernya tentu saya Madam nggak akan setir pihak sekolah. Silahkan ditentukan sendiri. Tapi Madam sampaikan bahwa Madam tidak akan tinggal diam atas segala bentuk bullying di sekolah. Pihak sekolah pun memahami permintaan Madam ini.

Akhirnya, di akhir acara pertemuan ortu-guru-siswa tersebut, kami maaf-maafan. Termasuk ibunya S itu minta maaf ke Madam. Dia katanya sama sekali nggak nyangka anaknya kayak gitu. Sama ibunya si A pun kami maaf-maafan. Karena Madam kan sebenernya temenan sama ibunya si A ini. Dan terakhir.. Marshall came to Mommy. Dia langsung peluk Madam dan nangis sesegukan. Lalu Madam bisikkan di telinganya..

"Everything's gonna be fine, darling.
You're brave. Mommy is so proud of you.
Mommy will always be here until the last breath leaves my body..”


(to be continued)

1 comment:

  1. Setelah baca ini aku jadi merasa "I have to do something" Mayo. Gak sabar menanti episode lanjutannya.

    ReplyDelete

Lemonilo: Penantian yang Usai untuk Mi Instan Sehat

Sampai keempat anak saya minimal kelas 6 SD, mereka hanya boleh makan mi instan seminggu sekali. Sampai mereka kelas 4 SD, mi instan yang...