Wednesday, August 21, 2019

Tips Pilih TK: Faktor Humanisnya


Beberapa waktu yang lalu, di group whatsapp Indonesian Female Bloggers pernah seru dan rame ngebahas tentang apa aja sih yang harus diperhatiin kalo nyari sekolah TK untuk anak. Udah banyak artikel tentang tips milih sekolah yang seliweran di internet, pastinya. Tapi waktu itu Madam hanya tekankan 1 hal pada teman-teman blogger yang saat itu berdiskusi. Dan better dishare di blog ini juga lah yak. Sapa tau berguna kan. Dan sharing ini berdasarkan pengalaman pribadi lho yaa..



Satu hal yang suka lupa diperhatikan oleh orang tua untuk diperhatikan saat lagi pilih-pilih TK untuk anaknya adalah faktor humanisnya. Maksudnya disini adalah bagaimana si guru memperlakukan anak kita sebagai objek manusia. Bagaimana cara dia berinteraksi dengan anak kita. Bagaimana atensinya terhadap anak kita. 

Tahun 2010 waktu mau masukin Twinster dan Mayra Najmah ke TK (yes.. mereka masuk TKnya barengan), kami survey ke beberapa TK di sekitar rumah. Lokasinya ya harus deket dengan rumah, supaya kalo pas kami orangtuanya ga bisa nganterin, bisa Eha (mbaknya krucil saat itu) yang nganterin.

Final decision saat itu jatuh kepada TK Orchid karena gurunya fokus interaksinya ke anak-anak dengan gesture yang hangat dan menyenangkan. Bukan fokus ke bapak ibunya. Lha yang mau sekolah dan berinteraksi tiap hari dengan gurunya kan si anaknya yak, bukan bapak ibunya. Bapake mamake mah cuman tinggal bayar aja.

Guru-gurunya saat itu bener-bener bisa merhatiin mana yang Marshall, mana yang Marvell. Ga gampang lho ngebedain Twinster ini. Ketika berinteraksi pun, udah langsung manggil nama mereka. Instantly, 3 krucil langsung merasa welcome dan betah main-main di sekolah itu walaupun cuman sebentar.

Sementara sekolah sebelumnya (TK Islam dan katanya paling bagus dan disiplin), cara gurunya menghadapi kami tuh, orangtua dan 3 anak kicik, dingin buangeeett kayak ubin marmer. Pas liat Marvell yang rambutnya gondrong, komen dodolnya adalah:

"Hai Marvell.. rambutnya panjang ya? Mau jadi cewek ya?" Kan semprul yak pendidik kayak gitu 😄😄

Dan ketika Marvell izin untuk liat kolam yang ada di sekitaran situ, komen si guru:

"Awas yaa.. jangan dimasukin yaa kolamnya.."

Ya kaliiiii anak gue seliar itu. Kalaupun emang udah pernah ada kejadian anak yang menginjakkan kakinya ke kolamnya, cara ngomongnya juga nggak langsung judgemental gitu juga kali.

Itulah akhirnya, mau sebagus apa sekolahnya, kalau cara beinteraksi ke anaknya itu nggak rileks, nggak hangat, mendingan nggak usah dimasukin kesitu deh anaknya. Itu kalo pendapatnya Madam lho yaa. Masa-masa TK itu adlaah masa-masa si anak main tapi ada 'asupan' belajarnya. Terbukti, begitu kami memilih TK Orchid ini, anak-anak semangat banget berangkat sekolahnya. Mereka pun bebas mengekspresikan tingkah laku mereka di sekolah itu. Tiap hari adaaaaa aja ceritanya mereka yang bikin Madam ngakak.

Termasuk: "I swept (slept maksudnya) on my desk, Mommy. I'm sweepy (sleepy maksudnya)" 😄😄Udah bisa nebak lah yaaa ini anak yang mana yang ada di foto di ataaassss 😄😄


No comments:

Post a Comment

Jangan Sampai Hidup Diatur Uang

Ya iya ini bener. Salah satu tugas kita di muka bumi ini adalah untuk berikhtiar menghidupi diri sendiri dan keluarga. Dengan cara ...