Tuesday, August 8, 2017

Anak Pasti Akan Memilih Ibunya


"Gue sedih. Ketika gue pulang ke rumah (dari kerja), anak gue bukannya ngedatengin gue. Tapi malah nyari mbaknya."

Kata seorang ibu muda lagi curhat ke temennya. Pilu banget nadanya. Bukannya doyan nguping. Tapi waktu itu jarak antara meja saya dan kumpulan ibu-ibu muda itu deketan. Plus si ibu muda ngomongnya rada besar juga volumenya. I couldn't help but follow her stories kan jadinyaaa :D



"Yaelah. Apa-apa dikerjain sama babysitter. Sampek urusan kecil pun dikerjain babysitter. Ibunya sibuk milih kerja. Anak dipercayain sama orang lain. Itu anak dia atau anak babysitter yak?"

Ini lain cerita lagi. Ini saya denger seorang ibu (pastinya) yang udah senior lah umurnya, nggak tau lagi ngomongin siapa. Ketok palu judgemental banget isi omongannya. Seandainya si ibu punya pilihan untuk nggak usah ninggalin anaknya, pasti udah dia kerjain kan. Yang pasti kalau ada orang ngomong kayak gitu di depan Madam, pasti langsung kena pedas oleh Madam. Lucky her!

Saya mau paparin my kind of stories. Again. Ini udah kejadian dan sudah terbukti keshahihannya. I want all the people in this world to know. Siapapun ibu yang memilih punya babysitter, atau pembantu kek, atau salah satu relasi keluarga yang ngebantu ngurusin anaknya sementara si ibu itu bekerja... please put this into your brain:

Anak Pasti Akan Memilih Ibunya.

Titik.
Tanpa koma.
Mutlak.

Saya berani kasih statement itu karena saya sudah buktikan sendiri kepada 4 anak saya. Tapi memang untuk bisa mencapai keadaan seperti itu, dimana anak pasti akan memilih ibunya walaupun ibunya sibuk di luar rumah, harus ada effort yang dilakukan oleh ibu.


Big Mommy dan Melvyn

Ketika saya baru punya anak pertama, Melvyn, saya masih bekerja di Majalah Tempo. Saat itu malah sambil nyanyi di cafe malamnya. Nggak tiap hari. Palingan waktu itu 2x seminggu. Tapi ada hari dimana saya harus jalanin latihan bareng band, itu juga cuman 1x seminggu. Jadi abis kerja, saya lanjut dengan acara nyanyi atau latihan. Itu artinya ada 3 hari dalam seminggu, saya (hampir) seharian nggak ketemu anak saya. Besok paginya pun sebelum berangkat bekerja belum tentu juga ketemu dengan Melvyn. Karena anaknya masih molor. Melvyn itu tipe anak yang bangunnya siang. Jadi, baru ketemuan pas pulang kerja. Sekitar jam 6 sore.


Big Mommy dan Marshall Marvell

Ketika saya punya twinster, saya masih kerja di Majalah Tempo. Udah nggak nyanyi sik waktu itu. Tapi saya ada kegiatan lainnya yaitu jualan kerudung. Kalo lagi ada bazaar, weekend diisi dengan bazaar. Tiap kamis malam pengajian. Weekend kadang ke Bandung. Pengajian juga. Jadi berkurang ketemu 3 anak cowoknya.


Big Mommy dan Najmah

Ketika akan melahirkan Najmah, saya resign dari Tempo. Udah letih banget rasanya tulang belulang ini. Maklumlah. Ketika twinster umur 2,5 bulan, saya sudah hamil Najmah. Nah.. punya waktu luang doong?? Nggak juga. Karena saya masih dipekerjakan di Majalah AsiaViews. Ini projectnya Majalah Tempo yang merupakan gabungan 5 media besar di Asia Tenggara. Jadi cakupannya lebih luas.


Penugasan AsiaViews ke Singapore

Penugasan saya waktu itu ke Singapore, Malaysia, dan Bangkok. Sering meeting. Sering pergi-pergi. Walaupun saat itu ada bargain power untuk banyak melakukan pekerjaannya dari rumah. Pergi-pergi hanya untuk meeting aja. Atau penugasan.

Saat itu udah pasti saya nggak bisa 'kerja' sendiri untuk ngurusin anak-anak. Saya harus punya support system yang baik. Dalam keadaan anak 4, saat itu saya punya 2 Babysitter, 1 ART, 1 tukang cuci gosok pulang pergi, dan 1 orang ART cowok. Banyak yak.. hahhahhaa saya juga baru nyadar.

Dengan waktu saya yang kebanyakan di luar, anak-anak pasti waktunya banyak dengan Grannynya dan babysitternya. Pasti itu. Apakah saya jealous ketika ngeliat anak-anak saya bertingkah manis ke mereka? Ngebelai-belai rambut mereka? Ngelus pipi mereka? Nggak. They deserved it! Mereka yang selalu pasang mata terhadap anak-anak saya. Hati saya nggak akan tertusuk karena anak-anak pasti akan tetap menyayangi saya lebih dari siapapun di dunia ini. 

Ketika saya pergi seharian. Pulang tengah malam. Lalu baru melihat wajah malaikat mereka dengan bekas ilernya di pagi hari, mata mereka demi Allah berbinar-binar melihat wajah ibunya. Senyumnya seakan merobek wajah mereka saking happynya liat ibunya. Mereka memilih saya. Keempatnya. Semuanya. Tanpa terkecuali. Inilah pattern yang saya lakukan..



Saya ikhlas mereka dihandle oleh Granny-nya dan Babysitternya.
Iya. Saya nggak pake ragu. Saya yakin mereka akan mengurus anak-anak saya dengan baik. Kalau ada yang nggak benar, saya yakin Allah akan menunjukkan kepada saya. Dan itu terbukti. Beneran. Ketika saya sudah ikhlas, saya akan bahagia melihat mereka mengurus anak-anak saya. Nggak ada perasaan jealous ketika melihat anak saya berlari dengan langkah berserakan krn baru bisa melangkah demi mencium gemes Grannynya. Saya nggak akan kotor hati mendengar anak saya manggil mbaknya "Siti sayaang..".

Dengan begitu hati dan pikiran saya nggak akan diisi dengan hal-hal yang bikin paranoid.
Duh jangan-jangan anak gue lebih sayang mbaknya nih.
Duh anak gue kok nggak mau gue peluk ya.. jangan-jangan terlalu deket sama neneknya nih.
Pikiran-pikiran yang nguras energi kayak di atas nggak akan hinggap sama sekali.

Ketika ada di rumah, pikiran udah harus tertuju ke anak-anak. Bukan hal lain.
Jujur. I wasn't very good at this. But at that time, itu yang gue perintahkan ke diri gue.
Yonna, kalo udah di rumah, fokus ke anak-anak. Bukan hal lain.
Tapi pada prakteknya, sering gue terdistract dengan urusan masalah kantor. Ntar gue jadi bad mood. Jadi nggak fun berada di antara anak-anak. Tapi itu manusiawi. Gue adalah seorang ibu yang berusaha untuk menjadi ibu yang baik. Gue setrong.. but am also a human.

Udah pasti saya harus bisa kontrol diri. Kalau emang sadar, ya jangan diulangin lagi. Well kadang berhasil, kadang nggak. Tapi toh terbukti everything was fine at the end. 

Be the best cheerleader you can be.
Naini kayaknya salah satu jurus yang paling pamungkas nih. Ketika gue pulang dari kantor, yang gue lakukan pertama kali ketika pertama kali ngeliat wajah anak saya adalah..

Saya pasang wajah sebahagia mungkin.
Mulut menganga sambil senyum.. sambil narik nafas kayak orang ngeliat surprise yang luarbiasa..

Lalu dengan nada yang sangat bahagia biasanya saya akan bilang...

"Ow my... helloooo darliiiing... look at my sweet boy.. oow come here my darling.. Mom miss you soooooo much.."


Acting as if saya udah sebulan nggak liat wajah anak saya. Dunia pasti tau bahwa koneksi antara ibu dan anak itu nyambungnya kuat sekali. Anak pasti akan langsung bisa ngerasain excitement yang dirasain ibunya. Lalu akan bereaksi yang sama.

Muncullah itu..
Mata berbinar-binar.
Senyum lebar yang seolah-olah siap merobek bibirnya.
Pontang panting langkahnya berlari menghampiri emaknya.
Lalu berpelukan.

Kurang lebih kayak gitu yang saya lakukan ketika mereka masih kecil-kecil. Sehingga efek ke depannya adalah mereka nggak akan keberatan apabila Big Mommy harus pergi kerja kemana kemani. Mereka ngerti. Dan ketika mereka sudah besar.. tentunya actingnya udah berbeda dooong.. Nggak kayak waktu mereka masih kecil.

Saya akan setengah berteriak mencari mereka. Berusaha bikin suasana rumah meriah. Lalu mereka akan berhamburan keluar dari kamar dengan wajah excited mau ketemu emaknya.

Doing something fun with them. Or you can call: the quality time
Quality time tiap orang pasti beda-beda. Tiap rumah pasti beda. Quality time versi saya sepertinya hampir tidak pernah bacain mereka buku. Karena saya nggak suka baca. Go ahead, you can judge me in your heart, but not to my face. Tapi pastinya saya nggak mau mereka kayak saya yang nggak suka baca ini. Biarinlah urusan baca membaca itu porsi Granny nya aja. Atau bapake.

Yang saya lakukan biasanya main aja gitu sama mereka. Apaan kek. Atau pancing mereka untuk bercerita. Atau saya yang cerita ke mereka. Kadang ketika ada masalah yang mau dibahas, saya adakan sesi Heart to Heart Talk dengan mereka. Biasanya ini endingnya kami saling peluk-pelukan. Kadang tangis-tangisan.

Dengan segala hal yang saya lakukan di atas, anak-anak saya tetap memilih saya untuk menumpahkan tangisnya.
Mereka tetap memilih saya untuk mengeluarkan segala ledakan emosinya.
Mereka tetap memilih saya untuk menceritakan betapa nakalnya dunia hari ini pada mereka.
Mereka tetap memilih saya untuk dipeluk erat hanya sekedar untuk recharge energi mereka.

Jadi..
Saya punya 4 anak yang pasti kepribadian berbeda-beda. Kebiasaannya berbeda-beda juga. Isi pikirannya beda-beda. Perasaannya beda-beda juga. Semuanya terbukti memilih saya dibanding siapapun yang ada dalam kehidupan mereka. Saya tidak pernah khawatir. Karena saya ibu mereka. Saya yang membawa mereka dalam rahim saya dengan setiap partikel yang ada dalam tubuh saya. Dengan semua rasa yang ada dalam diri saya. 

Moral of the story adalah.. untuk semua ibu bekerja atau tidak bekerja tapi punya support system (baca: babysitter, ART, atau apapun itu) dalam mengasuh anak, you really don't have to worry about this. Anak kalian tidak akan pernah mengasingkan kalian. Kalau sampai ada orang yang berani bilang di hadapan kalian "itu anak mamanya atau anak baby sitternya?" silakan jawab langsung di depan muka mereka: "isi kepalamu pasti cukup pintar untuk tau jawabannya, kan?"



10 comments:

  1. Rasa terharu timbul pas baca kutipan ini
    "Muncullah itu..
    Mata berbinar-binar.
    Senyum lebar yang seolah-olah siap merobek bibirnya.
    Pontang panting langkahnya berlari menghampiri emaknya.
    Lalu berpelukan."

    Lalu aku pengen cepet2 punya anak. Semoga Yang diatas mengaruniakan anak dirahimku. Amin


    ReplyDelete
  2. feel energized mba Yo...
    Tapi emang bener sih, apapun ke sok tahuan dan komen orang tentang sy yang kerja dan sering ninggalin anak2 dinas keluar mereka tetap gak bisa merubah fakta bahwa
    Trio krucils adalah fans berattttt sayah :)
    *begitu juga sebaliknya saya

    thanks sharingnya mba Yo

    ReplyDelete
  3. Kuncinya di ikhlas ya Mbak
    Ibu pekerja banyakin sabar diri karena waktu mereka terbatas. Dan terima kasih buat para pengasuh dg membiarkan anak2 dekat

    ReplyDelete
  4. Yang mengasuh kadang ngerti dan 'tahu diri'. Yang lihat itu biasanya byk nyir2 nya

    ReplyDelete
  5. i can not agreeeeeee moooooorrrreeee!!! #workingmom :)
    Thanks Bundddd....

    ReplyDelete
  6. Aaaakk, seneng bisa ketemu tulisan ini. Soalnya sbg ibu baru saya masih sering was2 takut anak lebih deket sama mbaknya. makasih yaa mak :)

    ReplyDelete
  7. anak udah dibawa bawa di perut ibunya sembilan bulan, dan pas lahiran di dekap pertama kali oleh ibunya, pastilah si ibu punya aura kuat bagi si anak hingga lebih besar rasa cintanya dibanding pada si apapun ya mbak.. tapi memang sepemahaman saya, anak balita terutama baiknya punya waktu yang banyak dengan ibu.. karena secara batin memang lebih dekat dengan ibu dan ibu akan menanamkan nilai-nilai kebaikan baginya yang masih polos itu.. wallahu a'lam bishawab.. salam kenal mbak :)

    ReplyDelete
  8. Temenku, ibu bekerja, pakai ART juga, tapi sepulang kerja, anak2 dia yg urusin, sampai anak tidur, jadi gantian ARTnya istirahat waktu itu.

    ReplyDelete
  9. Aku bukan ibu bekerja, tp ttp aja strea pas liat Aisyah lengket sm uthinya, apalg klo uthinya pake banding2in Aisyah klo sm utihinya gini klo sm umminya gini. Rasanya panas bgt dada. Tp skrg udh agak mending krn aisyah lbh milih sm umminya, hihi

    ReplyDelete
  10. Sebagai ibu baru, masih was-was kalo anak tidak dalam penjagaan saya, tapi baca tulisan ini ada sedikit pencerahan, terimakasih

    ReplyDelete

How Do You Talk to an Angel?

Scene 1: Di bagian mainan anak-anak. Tiba-tiba ada anak yang kira-kira umur 4 tahunan langsung teriak. "Mau yang ini!!!!" ...