Monday, August 14, 2017

How Do You Talk to an Angel?

Scene 1:
Di bagian mainan anak-anak. Tiba-tiba ada anak yang kira-kira umur 4 tahunan langsung teriak.

"Mau yang ini!!!!"
"Kita liat dulu yang lain yuk"
"Nggak mauk!!! Mau yang iniiiii!!! Yang ini pokoknya!!"
Lalu tiba-tiba nangis kejer di area mainan anak-anak. Di Mall.
Nggak cuman sampe situ, si anak lanjut jongkok. Lalu duduk. Lalu ngegoser-goserin kedua kakinya. Sambil nangis kejer. Lalu tiduran. Lalu guling-guling. Sambil nangis kejer.

Scene 2: 
Seorang ibu dan anaknya baru aja nyampe di Bakso Gondrong Tebet langganan saya.
Si ibu mulai mesen bakso ke abang bakso. Sambil ibunya ngomong, anak cowoknya yang kira-kira umur 5 tahun langsung ngomong teriak:

"Mau bakso ibuuuuuuuuu!! Ibuuuuuuuuu mau baksooooo.."
"Iya sebentar" volume kecil suara ibunya ngejawab.
"Baksoooooooooo buuuuuuu!!! Pesen baksoooooooooo....!!!"

Scene 3:
Di mall. Di bagian mainan anak-anak. Di Malaysia. Ada seorang bapak dan ketiga anaknya yang masih kucil-kucil. Kalau saya tebak usianya palingan 5 thn, 6 thn, 7 thn. Saya liat dia bicara dengan anaknya yang paling kecil.

"Ayah, I want to buy this."
"How much is it?"
"I dunno"

Lalu ayahnya ngecek harga mainannya yg ada di box mainannya.

"This is too expensive. We can not buy this."
"But Ayah, I really like it."
"I know. But I'm sorry. Ayah should buy 3 toys for all of you. If it's this expensive, I don't have the money"

Keliatan anaknya mukanya antara sedih dan kesel. Tapi akhirnya anak itu bergerak nyari mainan lain lagi.


Scene 1 dan 2 banyak banget saya liat kejadiannya. Dalam versi yang berbeda-beda memang. Scene 3 yang jarang banget. Ngeliat kejadian2 kayak begitu, bikin saya jadi mikir: apakah para orang tua benar-benar sudah memikirkan cara komunikasi seperti apa yang akan diterapkan ke anak-anaknya nanti? How do you talk to your angels?

Scene 3 yang indah itu, pastinya tercipta karena si orangtua menerapkan tata krama dalam berbicara di keluarganya. Bagaimana cara mengungkapkan keinginan yang baik. Lalu bagaimana bereaksi apabila apa yang diinginkan nggak bisa terpenuhi. 

Saya sering baca ada statement yang mengatakan bahwa anak adalah produk orang tuanya. Bagaimana tingkah lalu anak, itu adalah hasil didikan orang tuanya. Saya sik nggak sepenuhnya setuju. Itu kasuistik kalo menurut saya. Ada kasus-kasus tertentu yang sebetulnya nggak bisa disalahin sepenuhnya ke orang tua. Tapi cara anak berbicara, cara anak bereaksi dengan kata-katanya.. ini memang mutlak adalah didikan orang tua.

Seperti yang sudah saya bilang di postingan blog sebelumnya, bahwa tulisan parenting yang saya sharing adalah hal-hal yang sudah saya terapkan pada anak-anak dan sudah ada hasilnya. Jadi saya nggak hanya cuman menyampaikan teori yang saya dapat dari seminar ini seminar itu.



Scene 1 dan 2 (hampir) tidak pernah terjadi pada keluarga saya. Karena saya tidak membiarkan hal itu terjadi. Buat mereka yang kenal dekat dengan saya atau keluarga saya, pasti tau kalau saya bukan ibu yang lembut. Saya adalah ibu yang kalau bicara tegas pada kondisi tertentu. Bisa juga sik lembut, lapi lembut in my own way. Yang penting mah bukan lelembut lah. Itu mah serem yak. 

Ada beberapa yang udah melabel saya itu ibu yang galak. Tak apa. Yang paling tau cara menghandle anak saya ya adalah saya. Saya adalah ibu yang emosional dan ekspresif. Jadi ya pasti akan ada variasi nada rendah.. lalu nada tinggi ketika saya dealing dengan anak-anak. Toh hasil akhir yang saya inginkan tercapai.

Kembali lagi ke scene 1 dan 2. Iya itu tadi. Saya tidak pernah mengizinkan hal itu terjadi ke anak saya.

Bicara teriak-teriak.
Ngomong bentak-bentak ke orang tua.
Kalau nggak dapet apa yang dimau, langsung nangis jerit-jerit.
Ngglesor-ngglesor di tempat umum karena nggak dapet apa yang dimau.
Dan bad tantrum lainnya.

Bukannya mereka nggak pernah mencoba untuk kayak begitu ya. Mereka juga bukan 4 anak yang langsung dilahirkan dengan sikap yang manis. Nggak. 
Believe me. They tried. Tapi tidak berhasil. Karena saya dan suami tidak mengizinkan itu terjadi. Berikut cerita saya dan gimana cara saya dan suami menghandlenya. Tiap anak pasti beda-beda.

Melvyn
Si Sulung ini kebetulan adalah cucu pertama dari keluarga suami saya. Disayang banget sama Grannynya. Disayang juga sama Opa Omanya (ini ortu saya). Dia terbiasa selalu dapet apa yang dia mau. Terutama dari Granny. Kalau emaknya sik udah kayak ibu tiri. Karena saya memposisikan sebagai polisi dalam hal ini. Kalau nggak, Melvyn bisa bablas jadi anak yang kelewat manja nantinya.

Melvyn ini punya cara tersendiri kalau dia lagi pengen sesuatu. Dia persuasif. Paling bisa ngambil hati Granny atau orangtuanya. Jadi apa yang dia mau itu harus didapet. Dan sering berhasilnya ketimbang gagalnya. Melvyn ini nggak ada deh riwayat dia nangis guling-guling kalau lagi pingin sesuatu. Atau teriak-teriak ngomong ke orang tuanya.

Tapi..
Melvyn ini waktu kecil adalah anak dengan energi berlebih. Udah gitu anak ini imajinasinya tinggi. So many things in his mind. Ini dokternya yang bilang. Jadi biasanya pelampiasan energinya itu kalau nggak petakilan petantang petuntung kesana kemari, muter-muter ga jelas, ya larinya ke suara.

Sehingga..
Kalau dia nggak mau melakukan sesuatu, teriak-teriaknya itu bisa panik banget. Udah kayak anak yang digebukin emak bapaknya.

Contoh..
Nggak tau kenapa, sempat ada masanya waktu umur 3 tahunan itu dia nggak mau banget potong rambut. Ada suatu masa rambutnya gondrong kayak The Beatles. Begitu mau dipotong rambutnya, teriak-teriak, ngebentak-bentak nggak jelas. Kalau udah kayak gini yang bisa handle ya cuman emaknya.

Untuk mengalahkan suaranya dia dan bikin dia terhenyak, saya biasanya agak 'naikin volume suara' dulu. Kayak ngebentak. Tapi tujuannya bukan ngebentak. Yang penting biar dia sadar ada suara yang lebih besar dari dia. Lalu dia diem. Baru deh bisa ngomong ke dia.

Setelah dia (terpaksa) diam, baru Big Mommy bisa ngomong sama dia.

"Listen to me. Why do you have to scream?"
Dia diem.
"Ini kan cuman potong rambut. Nggak akan ada yang sakit. You won't feel a thing."
Dia diem. Liatin emaknya.
"Think. Is there any reason why you have to scream?"
Dia diem. Mikir kayaknya.
"See? There's no reason. What do you want now? Tell me."
Dia liatin emaknya.. lalu bilang..
"I want on the bike"

Jadilah mulai saat itu tiap kali potong rambut, ini anak duduknya bukannya di dalem salon kayak anak-anak lainnya. Tapi di parkiran dan di atas motor :D
You must be thinking: "kenapa nggak dibawa ke Kiddy Cut aja? Kan tempat duduknya model mobil, model motor.."

Trust me.. ini anak waktu kecil pikirannya tua. Dia nggak doyan yang bentukannya boongan atau mainan. Dia maunya yang real. Lha wong pernah selama beberapa bulan dia maunya sekolah pake helm kok ke kelas. Helm beneran! :D

Menghandle Melvyn ini waktu dia kecil emang tricky banget. Ya karena kondisi dia itu, yang energi berlebih dan banyak banget imajinasi yang ada di kepalanya dia. Jadi.. tiap kali dia teriak-teriak nangis atau jerit-jerit, kurang lebih patternnya seperti di atas itu yang saya terapkan.

Marshall
He is the sweetest boy on earth. Tapi dia punya tantrumnya sendiri. Marshall ini adalah seorang anak yang dilahirkan dengan hati yang sangat lembut. Tapi ya jadinya sering banget gampang melow, sedih, kecewa. Kalau yang lagi kecewa banget, dia akan langsung nangis kejer. Sejak kelas 3 SD udah nggak gini lagi sik.

Contoh.
Marshall ini adalah anak yang semuanya serba berpattern. Udah ada urutannya. Dan biasanya dia akan gusar kalo sesuatu berjalan nggak sesuai berdasarkan urutan versi dia.

Pernah waktu itu lagi hujan deras, dan papanya harus ngedropin mereka di sekolah.
Urutan versi Marshall itu biasanya adalah..
Sampai di depan sekolah..
Dia keluar mobil..
Ambil tas di bagasi mobil..
Terus berjalan ke arah supir, ke papanya (dan mamanya kalau lagi ikut) untuk cium tangan..
Lalu bilang: assalaamu'alaykum.. I love you papi..

Tapi pas waktu hujan deras, nggak bisa dong kayak gitu. Waktu itu Marshall kelas 2 SD kalo nggak salah. Begitu sampai di lobby sekolah, satpam sekolah yang bukain pintu, sambil mayungin anak-anak, dan ngegiring mayungin mereka sampai masuk ke lobby sekolah.

Saya waktu itu lagi nggak ikut. Di rumah.
Tiba-tiba dapet telepon dari salah satu orang tua murid yang lapor kalau Marshall nangis kejer karena mau salaman sama papanya. Then I talked to him. Temen saya ngasih handphonenya ke Marshall. (Btw, Marshall itu kalau di rumah dipanggilnya Syafiq)

"Syafiq, you can't hear me if you're crying like that"
Masih nangis. Lalu saya naikin volume suara.
"Syafiq, you better stop crying if you want to hear me"
Lalu nangisnya mulai pelan.

"Can you tell me what's going on?"
"Papi just left. Main pergi aja. Syafiq mau salaman"
"Tapi kan itu hujan deras, Sayang. Pak Satpam kan harus nurunin kalian cepet-cepet. Dan Papi juga harus langsung jalan karena mobil di belakang kan ngantri"
"Tapi Syafiq mau salaman"
Lalu gue sentuh sisi baik hatinya anak ini..

"I know, Sayang.. tapi kalau nanti dipaksain harus keluar mobil dulu dan salaman, Syafiq basah kuyup, papi juga basah kuyup.. terus nanti sakit, Mommy juga jadi sedih.."
Lalu dia diem.

"Now you stop crying ok? Everything's gonna be fine walaupun Syafiq nggak salaman. I'm gonna see you after school, OK? Mommy love you soooo much.."

Lalu selesai..

Ada lagi kejadian pas lagi makan siang keluarga di Bakmi GM. Marshall waktu itu lagi terlena banget in his own world dengan muntir-muntir Mie GMnya.. terus dia makan sendiri. Kalau nggak salah waktu itu umur 5 tahun. Saat Marshall sedang ngunyah dan nggak megang sendok garpunya, Granny yang sangat sayang banget ke cucunya tiba-tiba memutuskan ngambil sendok garpunya lalu motong-motongin mie GMnya Marshall.

Marshall langsung nangis teriak karena dia nggak suka bentuk mie-nya berubah :D
Kalau saya dan papanya kan emang udah tau.. kalau mau kayak gitu biasanya kami akan tanya dulu: "do you need my help?" atau "do you need me to cut it for you?" jadi nggak langsung eksekusi.

Akhirnya Marshall bad tantrum banget. Nangis kejer. Ngamuk. My sweet Marshall.
Nah kalau lagi rame begitu, maksudnya ada 3 anak saya lainnya yang ngeliat kejadian itu, biasanya ini yang saya lakukan..

Daripada moodnya nanti nular ke anak-anak yang lain.. saya biasanya akan langsung bilang ke suami..

"Would you please handle him?"
Suami langsung ngangguk.
Lalu menggendong Marshall.
Ngajak ke tempat yang agak sepi.
Lalu sambil ngusap-ngusap punggungnya, papanya akan minta Marshall ngeluarin unek-uneknya.
Didengerin dulu sama papanya.
Baru papanya ngomong. Berusaha nenangin Marshall.
Kasih tau bahwa maksudnya Granny itu baik. Tapi memang salah karena nggak tanya dulu.
Bla..bla..bla..bla..
Sampai anaknya tenang. Dan ready gabung lagi dengan yang lainnya.

Perlahan-lahan, karena kami membiasakan cara yang seperti ini, Marshall sedikit demi sedikit bisa menghandle tantrumnya. Jadi scene-scene drama kayak di atas itu nggak terlalu sering di The Kairupan.

Marvell
Nah kalo yang ini beda. Anak yang ini rada tengil. Biasanya kalau dia mau sesuatu emang rada ngotot. Ngototnya itu nggak yang bentak-bentak. Tapi selalu ada aja jawabannya ke kami orang tuanya.

Kurang lebih kalo lagi tantrum kayak Marshall, yang kami terapkan sama seperti Marshall. Tapi biasanya kalo Marvell itu ada penambahan statement-statement drama gitu.

Najmah
She's an angel. Tapi semua anak kecil pasti ada tantrumnya. Saya inget banget waktu itu Naj pernah liat anak kecil yang nangis jerit-jerit dan teriak-teriak ke ibunya. Naj umurnya 2 tahun waktu itu. Abis liat kejadian itu, nggak berapa lama dia menolak mau makan dan mraktekin kayak anak kecil tadi. Nangis jerit-jerit dan teriak-teriak.

Saya liatin aja.
Saya biarin.
Saya coba peluk, dia berontak.
Saya biarin aja.
Begitu nangisnya agak pelan baru deh dengan agak tegas saya bilang..
"NO!! That is not good!"

Nggak perlu juga panjang-panjang ngomongnya. Masih kucil juga.. jadi dia nggak ngerti. Tapi karena aksi nyonteknya itu, beberapa kali dia coba terapkan. Tapi saya tegas selalu kasih reaksi yang sama. Akhirnya dia ngerti kalau itu nggak bagus.

Suatu waktu sempet kaget juga dapet laporan dari nyokap. Waktu itu Najmah (kira-kira umur 4 tahun) lagi pergi sama Opa Omanya. Orang tua saya. Tiba-tiba ibu saya nelp dan bilang bahwa Najmah lagi nangis kejer sampek jongkok-jongkok karena minta dibeliin boneka sama Omanya.

Reaksi pertama saya adalah ngakak. 
Karena dia belum pernah kayak begitu sebelumnya. Dan... dia nyoba-nyoba untuk praktekin itu ke opa omanya. Karena dia tau kalau ke papa mamanya dia nggak bisa begitu. Akhirnya pas sampek rumah saya ajakin ngomong.

"What you did was not nice. Do you know that?"
"I know"
"Did you get something by doing that?"
"No, mommy"
"See? You didn't get the doll and you were tired, right?"
Diem aja..
"Promise me you won't do it again, darling?"
"Promise, mommy"

Dan Najmah memang cuman sekali itu aja kayak begitu tuh. Ntah dia nyontek. Atau emang kepikiran spontan mau kayak gitu.

Let the child be the child. Iya itu saya setuju. But they can be a well-mannered child.
Kalau ada yang bilang: "
Kalau menurut saya: ya itu karena dibiasakan.. atau diijinkan terbiasa kayak begitu.
Mungkin ada yang berpendapat "lha contoh yang ditulis sama Madam mah beda sama scene 1 dan scene 2"..
Ya karena tantrum yang terjadi di anak-anak saya ya seperti itu. Mereka sejak dari mulai bisa berinteraksi sudah langsung kami ajarkan sopan santun. Penerapan please, thank you, dan sorry itu sangat kami tekankan banget.

Jadi memang hampir nggak ada kejadian dimana 4 anak kami berbicara atau bernada nggak sopan ke orang tuanya. Jadi cara anak berbicara itu sangat bisa diatur oleh orangtua ya teman-teman. Mohon disingkirkan statement pembenaran "namanya juga anak-anak.. wajarlah". Lha justru karena mereka masih anak-anak harus kita benerin. Supaya nggak terbiasa sampai besar nanti.

Dan seandainya kalian mendapati keadaan dimana anak berteriak-teriak seperti scene 1 dan 2, atau yang serupa itu, kita sebagai orang tua harus bisa mengoreksi mereka. Harus. Karena bagaimana cara anak-anak kita berbicara nantinya itu, sebetulnya adalah cerminan bagaimana kita mengajarkan anak-anak kita dalam berbicara.

Semoga sharing saya ini ada gunanya. Parenting saya nggak sempurna. Itu udah pasti. Saya bukan juga mau sok-sokan jadi psikolog. Gaya parenting saya itu koboi banget. Tapi setidaknya apa yang saya sharing ini adalah yang sudah berhasil saya terapkan pada anak-anak saya. Siapa tau ada yang cocok, karena masalah parenting itu juga cocok-cocokan.. tergantung value yang diterapkan dalam keluarga masing-masing.

Friday, August 11, 2017

This is Us: Pelajaran dalam Rumah Tangga


"We had a fight and we both need a minute to catch our breath. The kids are gonna be fine. We show them how in healthy marriage that it’s just gonna be just a bloop in the radar few years from now. We’re the parents. We do the best we can. But at the end of the day, what’s happened to them, how they turn out, it’s bigger than us. Sometimes they make good decision, sometimes bad decision. Every once in a while they’re gonna do something that knocks our feet. Our kids are gonna be fine."

Tuesday, August 8, 2017

Anak Pasti Akan Memilih Ibunya


"Gue sedih. Ketika gue pulang ke rumah (dari kerja), anak gue bukannya ngedatengin gue. Tapi malah nyari mbaknya."

Kata seorang ibu muda lagi curhat ke temennya. Pilu banget nadanya. Bukannya doyan nguping. Tapi waktu itu jarak antara meja saya dan kumpulan ibu-ibu muda itu deketan. Plus si ibu muda ngomongnya rada besar juga volumenya. I couldn't help but follow her stories kan jadinyaaa :D

Saturday, August 5, 2017

Sebelum Punya Anak, Punya Value Dulu Dalam Keluarga



"Jadi orang tua itu emang nggak ada sekolahnya. Kita nggak dididik untuk menjadi orang tua yang baik. Jadi sebelum kita bisa bicara (tentang peraturan) ke anak, orang tua sudah harus punya commitment dulu tentang value apa yang akan diterapkan pada anak"

Jeng..jeeeng...
Susunan kata-kata itu saya tangkap ketika pertama kali hadir di seminar parentingnya ibu Elly Risman beberapa tahun yang lalu. Lupa tahun berapa. Tapi twinster masih kucil-kucil. Saat itu saya niat banget untuk memperdalam ilmu parenting, mengingat krucil kenyataannya nggak akan bertahan cilik terus. Yang saya ingat saat itu udah ada gejolak dalam menghadapi si sulung Melvyn.

How Do You Talk to an Angel?

Scene 1: Di bagian mainan anak-anak. Tiba-tiba ada anak yang kira-kira umur 4 tahunan langsung teriak. "Mau yang ini!!!!" ...