Friday, May 6, 2016

#OneStepAhead: Cara Memilih Pendidikan untuk Anak



Materi yang disajikan di acara Office-to-Office Talkshow yang diadakan oleh Nutrilon Royal ini, dibawakan oleh Drh. Damayanti Jusuf, M.SC., Ph.D. Beliau seorang praktisi pendidikan di Indonesia, dan pemilik SD Kupu-Kupu dan Sekolah Menengah Garuda Cendekia.

Setelah One Step Ahead Mum mengerti bagaimana mengawal tumbuh kembang anak, lalu mengidentifikasi potensi anak, selanjutnya  ibu dapat melakukan perencanaan, dimana salah satunya adalah memberikan dukungan yang tepat bagi anak. 

Mengenai pemilihan pendidikan anak, ini merupakan kebingungan yang akan selalu ada. Bisa dibilang bisa menimbulkan masalah baru buat para orangtua. Tapi sekali lagi, segala sesuatunya bisa disiasati kok. Kita para orangtua harus selangkah lebih maju dalam mempersiapkan pendidikan anak, mulai dari memilih sekolah yang tepat, memberikan pendampingan di sekolah hingga menyesuaikan dengan gaya belajar anak. Karena pada dasarnya setiap anak memiliki potensi akan sesuatu hal dan pendidikan yang tepat dapat memaksimalkan potensinya tersebut. Disamping itu orangtua juga harus memasukkan berbagai aktivitas di luar sekolah yang dapat medorong potensi anak secara maksimal.

Apa aja sih pertimbangan dalam memilih sekolah? Ada 4 hal, dan akan gue share infonya satu per satu.

1. Idealisme Keluarga



Dalam menentukan pendidikan yang akan kita pilihkan untuk anak, sebelumnya harus punya visi keluarga dulu. Apakah keluarga oke-oke aja apabila anak bersekolah di sekolah islam, misalnya? Atau keluarga beragama islam, tapi bersekolah di sekolah Katolik, misalnya? Jadi sesuaikan dulu dengan visi keluarga.

Lalu cari tau kurikulum yang digunakan oleh sekolah yang di tuju. Apakah Nasional Plus (bisa ditanyakan ke sekolah yang bersangkutan). Apakah bilingual.

Sesudah itu orientasi sekolah. Harus disurvey betul-betul. Bagaimana keamanannya. Kebersihannya. Lingkungan sekitarnya. Suasana kelasnya. Guru-gurunya. Dan hal-hal detail lainnya. Ini yang kadang banyak sudah dilakukan oleh orangtua, tapi mereka nggak detail-detail amat ngeliatnya.

Dan tentukan apakah orangtua ingin menyekolahkan anaknya di sekolah Negeri atau Swasta. Buat list plus minusnya bersekolah di negeri. Lalu buat plus minusnya bersekolah di swasta. 

Untuk menentukan sekolah menengah untuk anak, ditentukan juga.. apakah ingin yang pulang hari atau yang tinggal di asrama. Sama kayak yang sebelumnya, dibuat juga list plus minusnya. Supaya mempermudah kita untuk menentukan keputusan.

2. Kondisi Keluarga
Ini juga harus dibahas dengan detail nih. Apakah orangtua berdomisili tetap di suatu daerah? Nggak akan pindah-pindah? Apakah orangtua memiliki pernikahan campuran (nikah dengen WNA)? Karena ini berpengaruh ke jenis sekolah yang akan diambil. Apakah sekolah internasional atau sekolah yang menggunakan bahasa ibu atau ayah?

Kalau misalnya ortu masih harus berpindah-pindah, jadinya kan bisa ditentukan cari sekolah yang nggak kayak roket melesat biayanya. 

3. Keuangan Keluarga
Nah ini yang penting nih. Pada akhirnya segala pertimbangan sebelumnya itu, harus disesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga. Karena apabilah pilihan jatuh kepada sekolah swasta, itu artinya uang yang disediakan nggak akan sedikit.

4. Kondisi Anak
Kondisi anak harus selalu ada dalam pertimbangan orangtua. Biar bagaimanapun, yang akan menjalani nantinya adalah anak kita.

Secara umum yang harus kita lihat adalah sebagai berikut:

Kita harus bisa melihat kemampuan akademis anak.

Lalu lihat juga persaingan saat akan masuk ke sekolah tersebut. Soalnya kan ada yaaa.. untuk masuk ke suatu sekolah tertentu, daftarnya harus beberapa tahun sebelumnya.

Lalu lihat juga ukuran sekolahnya. Apakah terlalu kecil, atau terlalu besar.

Lalu bagaimana keadaan sosioekonominya. Karena sudah pasti, anak akan terpengaruh dengan kondisi sosioekonomi teman-temannya. Bukan nggak mungkin ketika kelas 2 SD nanti, si anak akan memaksa meminta dibelikan handphone mahal atau sepatu mahal hanya karena dia ngeliat teman2nya..

Dan kalau secara khusus, yang harus kita perhatikan adalah:

Cara belajar spesifik, difabel, kesubel. 

Apakah ada program pembelajaran khusus di sekolah tersebut, siapa tau anak kita membutuhkan.

Dan lihat juga ration guru : murid. Jangan sampai anak kita masuk ke sekolah yang gurunya kewalahan mengatasi muridnya karena jumlahnya terlalu banyak.

Nah hal-hal yang sudah gue jembrengin di atas itulah yang harus kita pertimbangkan dengan baik saat kita mau memilih pendiidikan untuk anak kita. Kalau udah mantap dengan pilihan, tinggal bagaimana komitmen One Step Ahead Mum dalam mendampingi anak kite bersekolah.

Yang harus diingat pada saat kita mendampingi anak bersekolah itu adalah:

ORANGTUA ADALAH ORANGTUA PERTAMA DI RUMAH.
GURU ADALAH ORANGTUA KEDUA DI SEKOLAH.

GURU ADALAH GURU PERTAMA DI SEKOLAH
ORANGTUA ADALAH GURU KEDUA DI RUMAH

Dan yang sering dilupakan orangtua adalah, bahwa orangtua dan guru itu adalah partner. Ini yang harus kita tanamkan baik-baik. Sehingga orangtua nggak bisa main lepas tangan aja akan perkembangan anaknya dalam hal pendidikan hanya karena merasa sudah ‘membayar’ ke sekolah/guru.

Dan yang harus dipahami juga oleh para guru adalah, bahwa orangtua itu bukan klien. Jadi harus ada revolusi pemahaman juga dari para guru agar bisa menjalin komunikasi yang interaktif dengan para orangtua yang merupakan partner para guru.

Dan kita sebagai orangtua dan juga para guru harus bisa mendidik anak agar belajar menghargai sekolah dan gurunya.

Ada hal-hal yang harus kita lakukan dan tidak boleh kita lakukan saat kita mendampingi anak-anak sekolah. Menurut ibu Damayanti, ini dia listnya:

DO:
  1. Melunasi SPP - ini penting agar kita bisa tetap fokus pada pengamatan perkembangan anak tanpa ada gangguan masalah. Dan membuat anak belajar dengan tenang juga tanpa harus menerima panggilan dari guru.
  2. Mendukung sekolah - terutama pada kebijakan-kebijakannya yang mendukung kegiatan belajar anak di sekolah.
  3. Membantu anak sesuai jenjang - ini juga penting untuk dilakukan karena gue masih melihat ada orangtua yang justru lepas tangan dengan kegiatan belajar anaknya. Baru mulai turun tangan ketika anaknya kelas 6 SD karena mau persiapan Ujian Nasional. Lah kemane aje yak...
  4. Mengobrol dengan anak - gue terbiasa banget melakukan ini dengan 4 anak gue. Dan mereka juga jadinya terbiasa menceritakan hal-hal yang baik dan buruk yang terjadi di sekolah, jadi mempermudah gue dalam mendampingi mereka bersekolah.
  5. Berkomunikasi dengan sekolah - berdasarkan obrolan dengan anak-anak tadi, jadinya gue bisa berkomunikasi dengan pihak sekolah apabila ada kejadian-kejadian tertentu. Gue juga terbiasa banget berkomunikasi mengenai progres anak-anak gue terutama dalah hal-hal yang emang perlu banget diperhatikan.

Seperti itulah ilmu yang gue dapat dari pakar pendidikan Indonesia di acara talkshow yang diadakan oleh Nutrilon Royal. Langkah-langkah jelas banget jadi bisa jadi pegangan buat kita-kita dalam menentukan pendidikan anak-anak kita.

Pesan terakhir dari ibu Damayanti adalah, anak itu adalah titipan dari Tuhan. Jadi sudah menjadi kewajiban semua orangtua agar bisa menjaga mereka sebaik mungkin. Kita sebagai orangtua harus selangkah lebih maju dalam memilih pendidikan anak. One step ahead, one step at a time.

Sebetulnya sik sesudah sesinya ibu Damayanti, Nutrilon Royal juga menghadirkan pakar financial planner yang udah ngetop banget di Indonesia, Ligwina Hananto. Tapi.. berhubung gue bener-bener paid attention banget pas dia ngomong, dan gue nggak terlalu ngerti bagaimana membahasakan pengetahuan finansial yang gue dapet dari mbak Wina ini, jadi minta maaf banget gue nggak bisa cerita banyak di blog gue ini.


Long story short, apa yang disampaikan mbak Wina adalah kita memang sudah seharusnya menyiapkan dana pendidikan untuk anak dari jauh-jauh hari. Persiapannya itu bisa dengan cara investasi ke:

- Tabungan/Deposito
- Logam Mulia
- Reksadana
- Surat Berharga
- Properti

Dan Tips yang diberikan untuk menyiapkan dana pendidikan anak adalah:
  1. Tentukan dulu sekolahnya dimana (ini bisa merujuk ke tips dari ibu Damayanti)
  2. Cari tau biayanya berapa
  3. Jangka waktu untuk mulai masuk sekolah dan lamanya pendidikan
  4. Hitung kebutuhan di masa mendatang
  5. Siapkan dana mulai dari sekarang
  6. Investasi sesuai profil risiko.

Terus terang gue agak mumet begitu di sharing by mbak Wina ini.. hahhahaa.. secara anak gue kan 4 yaa.. dan gue dan suami itu tipe yang gimana Allah aja lah.. (please please agen asuransi yang abis baca postingan gue ini, nggak perlu prospek-prospek gue yaa.. please..) 

Dan gue sik udah usul ke pihak Nutrilon Royal untuk membuat sesi khusus mengenai perencanaan keuangan untuk emak-emak. Pasti gue bakalan duduk paling depan dan nyimak dengan jidat berkerut deehh...

Oke… demikian ilmu yang bisa gue share.. yang gue dapet dari Nutrilon Royal. I was so happy diundang ke acara talkshow ini, karena biar bagaimanapun setiap orangtua pasti butuh reminder.



Dadaaaahh….

No comments:

Post a Comment

Si Entong (Harus) Kerja

Punya anak banyak, membuat saya dan suami punya 'gaya' tersendiri dalam mendidik anak-anak kami. Sejak kecil kami nggak membiasak...