Sunday, May 15, 2016

#TemanBaru: Anita Carolina, Semangatnya Blogger Newbie

Wait!
Itu bukan maksud saya ngelabelin blogger lama, blogger baru. Senior Junior. Tapi itu memang Anita, teman baru saya, yang bilang kalau dirinya masih newbie. Masih baru. Dan pasti ada dari Anita ini yang bisa kita ambil poin-poinnya. Saya sik pinginnya profil temen-temen baru saya di blog ini bisa memberikan ide atau mungkin membakar semangat para pembaca yang baik hatinya.

Anita Carolina Tampubolon.
Awal chatting di group sama Anita, pertanyaan pertama saya adalah:

"Ini bukan Anita Carolina penyanyi jaman 80an kan?"

Friday, May 6, 2016

#OneStepAhead: Cara Memilih Pendidikan untuk Anak



Materi yang disajikan di acara Office-to-Office Talkshow yang diadakan oleh Nutrilon Royal ini, dibawakan oleh Drh. Damayanti Jusuf, M.SC., Ph.D. Beliau seorang praktisi pendidikan di Indonesia, dan pemilik SD Kupu-Kupu dan Sekolah Menengah Garuda Cendekia.

Setelah One Step Ahead Mum mengerti bagaimana mengawal tumbuh kembang anak, lalu mengidentifikasi potensi anak, selanjutnya  ibu dapat melakukan perencanaan, dimana salah satunya adalah memberikan dukungan yang tepat bagi anak. 

Mengenai pemilihan pendidikan anak, ini merupakan kebingungan yang akan selalu ada. Bisa dibilang bisa menimbulkan masalah baru buat para orangtua. Tapi sekali lagi, segala sesuatunya bisa disiasati kok. Kita para orangtua harus selangkah lebih maju dalam mempersiapkan pendidikan anak, mulai dari memilih sekolah yang tepat, memberikan pendampingan di sekolah hingga menyesuaikan dengan gaya belajar anak. Karena pada dasarnya setiap anak memiliki potensi akan sesuatu hal dan pendidikan yang tepat dapat memaksimalkan potensinya tersebut. Disamping itu orangtua juga harus memasukkan berbagai aktivitas di luar sekolah yang dapat medorong potensi anak secara maksimal.

Apa aja sih pertimbangan dalam memilih sekolah? Ada 4 hal, dan akan gue share infonya satu per satu.

1. Idealisme Keluarga



Dalam menentukan pendidikan yang akan kita pilihkan untuk anak, sebelumnya harus punya visi keluarga dulu. Apakah keluarga oke-oke aja apabila anak bersekolah di sekolah islam, misalnya? Atau keluarga beragama islam, tapi bersekolah di sekolah Katolik, misalnya? Jadi sesuaikan dulu dengan visi keluarga.

Lalu cari tau kurikulum yang digunakan oleh sekolah yang di tuju. Apakah Nasional Plus (bisa ditanyakan ke sekolah yang bersangkutan). Apakah bilingual.

Sesudah itu orientasi sekolah. Harus disurvey betul-betul. Bagaimana keamanannya. Kebersihannya. Lingkungan sekitarnya. Suasana kelasnya. Guru-gurunya. Dan hal-hal detail lainnya. Ini yang kadang banyak sudah dilakukan oleh orangtua, tapi mereka nggak detail-detail amat ngeliatnya.

Dan tentukan apakah orangtua ingin menyekolahkan anaknya di sekolah Negeri atau Swasta. Buat list plus minusnya bersekolah di negeri. Lalu buat plus minusnya bersekolah di swasta. 

Untuk menentukan sekolah menengah untuk anak, ditentukan juga.. apakah ingin yang pulang hari atau yang tinggal di asrama. Sama kayak yang sebelumnya, dibuat juga list plus minusnya. Supaya mempermudah kita untuk menentukan keputusan.

2. Kondisi Keluarga
Ini juga harus dibahas dengan detail nih. Apakah orangtua berdomisili tetap di suatu daerah? Nggak akan pindah-pindah? Apakah orangtua memiliki pernikahan campuran (nikah dengen WNA)? Karena ini berpengaruh ke jenis sekolah yang akan diambil. Apakah sekolah internasional atau sekolah yang menggunakan bahasa ibu atau ayah?

Kalau misalnya ortu masih harus berpindah-pindah, jadinya kan bisa ditentukan cari sekolah yang nggak kayak roket melesat biayanya. 

3. Keuangan Keluarga
Nah ini yang penting nih. Pada akhirnya segala pertimbangan sebelumnya itu, harus disesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga. Karena apabilah pilihan jatuh kepada sekolah swasta, itu artinya uang yang disediakan nggak akan sedikit.

4. Kondisi Anak
Kondisi anak harus selalu ada dalam pertimbangan orangtua. Biar bagaimanapun, yang akan menjalani nantinya adalah anak kita.

Secara umum yang harus kita lihat adalah sebagai berikut:

Kita harus bisa melihat kemampuan akademis anak.

Lalu lihat juga persaingan saat akan masuk ke sekolah tersebut. Soalnya kan ada yaaa.. untuk masuk ke suatu sekolah tertentu, daftarnya harus beberapa tahun sebelumnya.

Lalu lihat juga ukuran sekolahnya. Apakah terlalu kecil, atau terlalu besar.

Lalu bagaimana keadaan sosioekonominya. Karena sudah pasti, anak akan terpengaruh dengan kondisi sosioekonomi teman-temannya. Bukan nggak mungkin ketika kelas 2 SD nanti, si anak akan memaksa meminta dibelikan handphone mahal atau sepatu mahal hanya karena dia ngeliat teman2nya..

Dan kalau secara khusus, yang harus kita perhatikan adalah:

Cara belajar spesifik, difabel, kesubel. 

Apakah ada program pembelajaran khusus di sekolah tersebut, siapa tau anak kita membutuhkan.

Dan lihat juga ration guru : murid. Jangan sampai anak kita masuk ke sekolah yang gurunya kewalahan mengatasi muridnya karena jumlahnya terlalu banyak.

Nah hal-hal yang sudah gue jembrengin di atas itulah yang harus kita pertimbangkan dengan baik saat kita mau memilih pendiidikan untuk anak kita. Kalau udah mantap dengan pilihan, tinggal bagaimana komitmen One Step Ahead Mum dalam mendampingi anak kite bersekolah.

Yang harus diingat pada saat kita mendampingi anak bersekolah itu adalah:

ORANGTUA ADALAH ORANGTUA PERTAMA DI RUMAH.
GURU ADALAH ORANGTUA KEDUA DI SEKOLAH.

GURU ADALAH GURU PERTAMA DI SEKOLAH
ORANGTUA ADALAH GURU KEDUA DI RUMAH

Dan yang sering dilupakan orangtua adalah, bahwa orangtua dan guru itu adalah partner. Ini yang harus kita tanamkan baik-baik. Sehingga orangtua nggak bisa main lepas tangan aja akan perkembangan anaknya dalam hal pendidikan hanya karena merasa sudah ‘membayar’ ke sekolah/guru.

Dan yang harus dipahami juga oleh para guru adalah, bahwa orangtua itu bukan klien. Jadi harus ada revolusi pemahaman juga dari para guru agar bisa menjalin komunikasi yang interaktif dengan para orangtua yang merupakan partner para guru.

Dan kita sebagai orangtua dan juga para guru harus bisa mendidik anak agar belajar menghargai sekolah dan gurunya.

Ada hal-hal yang harus kita lakukan dan tidak boleh kita lakukan saat kita mendampingi anak-anak sekolah. Menurut ibu Damayanti, ini dia listnya:

DO:
  1. Melunasi SPP - ini penting agar kita bisa tetap fokus pada pengamatan perkembangan anak tanpa ada gangguan masalah. Dan membuat anak belajar dengan tenang juga tanpa harus menerima panggilan dari guru.
  2. Mendukung sekolah - terutama pada kebijakan-kebijakannya yang mendukung kegiatan belajar anak di sekolah.
  3. Membantu anak sesuai jenjang - ini juga penting untuk dilakukan karena gue masih melihat ada orangtua yang justru lepas tangan dengan kegiatan belajar anaknya. Baru mulai turun tangan ketika anaknya kelas 6 SD karena mau persiapan Ujian Nasional. Lah kemane aje yak...
  4. Mengobrol dengan anak - gue terbiasa banget melakukan ini dengan 4 anak gue. Dan mereka juga jadinya terbiasa menceritakan hal-hal yang baik dan buruk yang terjadi di sekolah, jadi mempermudah gue dalam mendampingi mereka bersekolah.
  5. Berkomunikasi dengan sekolah - berdasarkan obrolan dengan anak-anak tadi, jadinya gue bisa berkomunikasi dengan pihak sekolah apabila ada kejadian-kejadian tertentu. Gue juga terbiasa banget berkomunikasi mengenai progres anak-anak gue terutama dalah hal-hal yang emang perlu banget diperhatikan.

Seperti itulah ilmu yang gue dapat dari pakar pendidikan Indonesia di acara talkshow yang diadakan oleh Nutrilon Royal. Langkah-langkah jelas banget jadi bisa jadi pegangan buat kita-kita dalam menentukan pendidikan anak-anak kita.

Pesan terakhir dari ibu Damayanti adalah, anak itu adalah titipan dari Tuhan. Jadi sudah menjadi kewajiban semua orangtua agar bisa menjaga mereka sebaik mungkin. Kita sebagai orangtua harus selangkah lebih maju dalam memilih pendidikan anak. One step ahead, one step at a time.

Sebetulnya sik sesudah sesinya ibu Damayanti, Nutrilon Royal juga menghadirkan pakar financial planner yang udah ngetop banget di Indonesia, Ligwina Hananto. Tapi.. berhubung gue bener-bener paid attention banget pas dia ngomong, dan gue nggak terlalu ngerti bagaimana membahasakan pengetahuan finansial yang gue dapet dari mbak Wina ini, jadi minta maaf banget gue nggak bisa cerita banyak di blog gue ini.


Long story short, apa yang disampaikan mbak Wina adalah kita memang sudah seharusnya menyiapkan dana pendidikan untuk anak dari jauh-jauh hari. Persiapannya itu bisa dengan cara investasi ke:

- Tabungan/Deposito
- Logam Mulia
- Reksadana
- Surat Berharga
- Properti

Dan Tips yang diberikan untuk menyiapkan dana pendidikan anak adalah:
  1. Tentukan dulu sekolahnya dimana (ini bisa merujuk ke tips dari ibu Damayanti)
  2. Cari tau biayanya berapa
  3. Jangka waktu untuk mulai masuk sekolah dan lamanya pendidikan
  4. Hitung kebutuhan di masa mendatang
  5. Siapkan dana mulai dari sekarang
  6. Investasi sesuai profil risiko.

Terus terang gue agak mumet begitu di sharing by mbak Wina ini.. hahhahaa.. secara anak gue kan 4 yaa.. dan gue dan suami itu tipe yang gimana Allah aja lah.. (please please agen asuransi yang abis baca postingan gue ini, nggak perlu prospek-prospek gue yaa.. please..) 

Dan gue sik udah usul ke pihak Nutrilon Royal untuk membuat sesi khusus mengenai perencanaan keuangan untuk emak-emak. Pasti gue bakalan duduk paling depan dan nyimak dengan jidat berkerut deehh...

Oke… demikian ilmu yang bisa gue share.. yang gue dapet dari Nutrilon Royal. I was so happy diundang ke acara talkshow ini, karena biar bagaimanapun setiap orangtua pasti butuh reminder.



Dadaaaahh….

#OneStepAhead: Menggali dan Mendukung Potensi Anak



Fakta yang nggak bisa dipungkiri lagi di sekitar kita adalah sebagian besar ibu pasti punya keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada anak. Tapi nggak tau atau kurang paham apa aja yang paling dibutuhkan oleh anak.

Banyak faktor sik kenapa fakta ini jadi ada. Bisa jadi karena kurangnya pengetahuan dalam membimbing anak, ibu yang belum siap untuk menjadi ibu, faktor kegiatan yang sangat hectic, dll dll dll. Dan di postingan sebelumnya gue bilang bahwa ya kan nggak ada sekolah persiapan untuk menjadi ibu kan.. tapi ya ilmu gratis banyak. Asal mau belajar. Dan gue juga belajar dari program Office-to-Office Talkshownya Nutrilon Royal. Nara sumber yang dihadirkan juga yang berkelas. Dan gue akan sampaikan detail ilmu apa yang gue dapat.

Tema yang diusung dan sekaligus menjadi tagar oleh Nutrilon Royal adalah One Step Ahead. Dan di talkshow kali ini akan diperinci menjadi One Step Ahead Mum. Di sesinya Psikolog Ajeng Raviando, Psi yang kebetulan juga teman gue (anak kita sama-sama bersekolah di sekolah yang sama.. terus gue juga pernah makeupin Mbak Ajeng ini untuk acara photoshoot), hadirin hadirat diajarin langkah-langkah gimana caranya jadi One Step Ahead Mum (Ibu yang selangkah lebih maju).

One Step Ahead Mum itu adalah seorang ibu yang tidak hanya memahami apa yang terbaik untuk masa depan anaknya, tapi juga aktif mendukung anaknya dengan mencari tahu apa potensi anak.

Emang sik banyak yang bisa scan anaknya: oh anak gue suka gambar, anak gue suka nyanyi, anak gue suka nulis..
Tapi kalo yang gue liat sik banyak yang masih kurang spesifik saat nge-scan kesukaan anaknya secara detail.

Anak suka gambar. Sukanya gambar apa? Contoh kasus adalah si sulung Melvyn waktu dia umur 3 tahun - 6 tahun. Dia seneng banget gambar. Tapi gue perhatiin lebih detail lagi, dia itu sukanya ngegambar segala jenis dinosaurus. Umur 4 tahun dia udah tau apa jenis-jenis dinosaurus. Dan umur 6 tahun dia janjian sama sahabatnya bahwa dia akan menjadi Paleontologis pas udah gedenya nanti. Kenapa dia bisa menjadi spesifik itu? Karena gue dan suami bener-bener memantau secara detail kesukaannya. Terus kami stimulasi dengan penunjang kesukaannya itu. Beliin buku yang isinya dinosaurus. Langganan TV kabel sehingga ada channel TV yang suka bahas tentang binatang purbakala. Dll dll.

Anak gue suka nyanyi. Sebetulnya empat2nya suka nyanyi. Tapi si sulung udah jadi jaim sekarang. Terus kayaknya berasa rugi kalo ngeluarin suaranya.. hahahaa.. Tapi adik-adiknya yang 3 orang masih istiqomah dengan  kesukaan nyanyi-nyanyi mereka. Yang gue pantau bukan hanya sekedar mereka doyan nyanyinya. Tapi gue selami lebih dalam lagi.

Marshall. Suka nyanyi. Tapi ternyata dia lebih suka nyanyi untuk dirinya sendiri, demi merangsang pikirannya untuk bikin lagu. Yup! Anak gue yang satu ini udah mulai bikin-bikin lagu sejak kelas 3 (sekarang kelas 4). Cara bikin lagunya juga yang koboi banget. Dia nyanyi2 terus direkam di henpon. Awalnya emang dia ‘terinspirasi’ dulu dengan lagu2 yang sedang hits. Awalnya kayak ngejiplak nadanya. Tapi gue arahin gimana dari proses terinspirasi itu akhirnya bisa bikin lagu sendiri tanpa harus mencontek. Ya gue jelasinnya standard aja sik.. kalo terlalu njelimet ntar anak gue mimisan lageeehhh… Kesian kan anak gue. Terus apa langkah selanjutnya dari gue untuk mendukung potensinya? Gue udah arrange Marshall les piano sama adiknya temen gue. Belum berjalan sik.. tapi in syaa Allah akan mulai di saat yang tepat nanti.

Marvell suka nyanyi. Dan dia banci tampil. Dia seneng diliat orang. Dan dia PDnya bener-bener kepedean kalo udah tampil di depan orang. Apa yang gue lakukan? Gue arahin dia lebih detail tentang how to sing yang benar. Terus minimal sebulan sekali gue ajak anak-anak gue untuk nonton live musik, dan Marvell udah pasti naik ke panggung untuk nyumbang lagu. Kebetulan my BFF got married to vokalis bandnya Chaplin yang manggung muluk. Plus.. gue bikinin krucil ini akun Smule, jadi mereka bisa nyanyi2 puas disana dan dengerin penyanyi2 lain yang join nyanyi dengan mereka. Dan mereka compare their ability dengan anak-anak lainnya.

Kira-kira begitulah versi gue gimana memahami potensi anak lebih detail lagi.

Balik lagi ke One Step Ahead Mum, silahkan diliat foto di bawah ini tentang apa yang perlu kita perkaya untuk menjadi One Step Ahead Mum..



Bingungkah apa itu kecerdasan majemuk? Namanya juga majemuk yak, artinya kan banyak ya. Kecerdasan majemuk itu ada 8 kecerdasan. Ini dia macam2nya..



Nggak harus sedelapan2nya terlihat menonjol di anak kita lho. Kedelapannya itu sudah pasti ada di anak kita. Tapi hanya satu atau beberapa aja yang menonjol. Contoh kasus kalo di anak-anak gue yaaa...

MELVYN. Yang menonjol itu kecerdasan bahasa, kecerdasan logika, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan visual - spasial.
MARSHALL. Kecerdasan bahasa, musikal.
MARVELL. Kecerdasan bahasa, kecerdasan intrapersonal, musikal.
MAYRA NAJMAH. Kecerdasan bahasa, kecerdasan logika, musikal

Namun.. jeng-jeeeeengg….
Dari 8 macam kecerdasan yang disebutin di atas, penting bagi anak untuk memiliki kecerdasan intrapersonal. Karena kecerdasan inilah yang bisa memudahkan kita para ibu untuk mengembangkan potensi anak.

Kenapa anak kita perlu memiliki kecerdasan intrapersonal? Karena untuk menjadi seorang anak yang selangkah lebih maju, anak perlu kecerdasan ini. Kecerdasan intrapersonal yaitu kemampuan untuk memahami diri sendiri yang akan membantunya menghadapi situasi dan mengendalikan dirinya.

Nah terus gimana dong kalo anak kita terlihat tak ada tanda-tanda kecerdasan intrapersonal dalam dirinya? Jangan gusar jangan ragu.. jangan pula galau. Karena kecerdasan adalah hal yang bisa kita stimulasi. Bisa men-temen liat pas gue jembrengin di atas kan.. dari empat anak gue, hanya 2 anak yang kecerdasan intrapersonalnya menonjol. Yang 2 lagi nggak. Yang gue lakukan sekarang adalah menstimulasi 2 anak lainnya sehingga mereka bisa memiliki kecerdasan intrapersonal.

Cara gue menstimulasi mereka kayak apa? Ya masih standard aja sik.. secara gue kan nggak pakar yak di bidang psikologi. Yang gue lakukan adalah gue meningkatkan intensitas komunikasi dengan 2 anak lainnya. Sering ngobrol heart-to-heart. Gue suntik mereka dengan rasa percaya diri. Gue yakinkan mereka bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. Gue yakinkan mereka untuk membuktikan bahwa mereka bisa dan hasilnya pasti akan bagus. Setelah mereka bisa membuktikan (walaupun setelah beberapa kali mencoba), akhirnya pelan-pelan kecerdasan intrapersonal mereka jadi nambah. Gitu sik kalau gue.

Dan untuk bisa menstimulasi kecerdasan majemuk si anak, kita harus paham bener dengan gaya belajar yang pas untuk anak.



Pada akhirnya, kalau para orangtua udah tau apa aja kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh anak, orangtua perlu mendukungnya dengan pola asuh yang tepat juga. Pola asuh kayak gimana sik yang tepat untuk membimbing anak-anak kita yang merupakan generasi Z ini?


Positive Parenting itu ngebantu banget dalam penerapan disiplin efektif dan interaksi menyenangkan antara orangtua dan enak. Ingat kata kuncinya yaa men-temen… disiplin efektif dan interaksi menyenangkan. Ada kedisiplinan yang harus diterapkan. Jadi kalo positif bukan berarti harus iya mulu apa yang dimau anak.

Kiat mengasuh anak dengan cara Positive Parenting yang diberikan oleh mbak Ajeng kemarin itu adalah:
  1. Jadilah model yang baik dan ajari anak dengan teladan.
  2. Kenali perkembangan anak
  3. Luangkan waktu berkualitas dengan rutin & beri kasih sayang tanpa syarat
  4. Beri dukungan, tunjukkan penghargaan dan fokus pada tingkah laku positif.
  5. Berikan konsekuensi logis juga ruang untuk tumbuh dan melakukan kesalahan.
  6. Tanamkan nilai-nilai.
  7. Lakukan diskusi dan negosiasi serta ciptakan ‘Komunikasi Efektif'
  8. Bersikap tegas, disiplin jelas & konsisten

Sekarang ini kan udah maju kan yak. Udah mulai ada deh tuh tes-tes untuk melihat potensi anak. Tapi.. sebenernya nih.. tes sesungguhnya untuk melihat potensi minat dan bakat anak adalah observasi yang dilakukan secara rutin sejak usia dini oleh orangtua. Jadi ya semuanya balik lagi ke orangtuanya sik..

Mungkin ada yang masih bingung apa aja sik yang kita butuhkan sebagai ortu untuk mengidentifikasi potensi anak. Kita membutuhkan hal-hal ini:
- kepekaan dan kejelian
- pemahaman terhadap beberapa bidang minat
- observasi
- eksplorasi minat
- pilih satu - dua, lalu kembangkan.
- kembangkan bakat anak, bukan bakat orangtua.

Nah.. point yang terakhir itu gongnya deh tuh. Karena ya emang banyak banget ortu yang masih ‘memaksakan’ bakatnya untuk dimiliki anak. Mereka suka lupa bahwa anak itu adalah pribadi unik yang memiliki potensi yang berbeda dengan orangtuanya.

Terus kalau kita udah ready nih mau mengembangkan potensi anak. Terus apa dong kiatnya dalam mengembangkan potensi bakat dan minat anak? Ini dia jawabannya yak..

  1.  Cermati berbagai kelebihan, ketrampilan, dan kemampuan yang tampak menonjol pada anak.
  2.  Bantu anak dalam meyakini dan fokus pada kelebihan diri
  3. Kembangkan kepercayaan diri anak
  4. Perkaya anak dengan wawasan, pengetahuan, serta pengalaman di berbagai bidang.
  5. Upayakan berbagai cara untuk meningkatkan minat anak untk belajar dan menekuni bidang yang menjadi kelebihan
  6. Sediakan fasilitas dan sarana untuk mengembangkan bakat.
  7. Motivasi dan stimulasi anak dalam menekuni bakat dan minat.
  8. Dukung anak untuk mengatasi kendala dan kesulitan ketika menjalani proses pengembangan bakat dan minat.

Pesan terakhir sik dari mbak Ajeng adalah.. jangan lupa untuk:
- memberikan nutrisi terbaik untuk tumbuh kembang anak.
- memberikan pendidikan dan pengetahuan sesuai dengan karakter anak
- siapkan serta ajarkan keterampillan finansial untuk masa depan anak.

Nah… kebingungan baru timbul kan. Gimana caranya memilih pendidikan anak yang tepat? Untuk hal ini gue akan posting di postingan selanjutnya aja yaaa.. Materi memilih pendidikan anak ini disampaikan oleh Drh. Damayanti Jusuf, M.SC., Ph.D, seorang praktisi pendidikan dan juga pemilik SD Kupu-Kupu dan Sekolah Menengah Garuda Cendekia. Cusss deh langsung ke postingan selanjutnya yaaa men-temeeeenn...

Dadaaaaahhh….


Instagram | Twitter | Youtube | Facebook Page | Makeup Artist Blog Makeup

#OneStepAhead: Memantau Tumbuh Kembang Anak



Pernah saya mendengar statement dari ibu Elly Risman: “untuk menjadi orangtua itu nggak ada sekolahnya”. Iya bener. Seandainya ada sekolahnya. Terus ada acara naik kelasnya. Terus ada acara graduationnya. Setidaknya palingan saya udah nggak punya yang namanya panick attack dalam membimbing 4 anak saya: Melvyn, Marshall, Marvell, Mayra Najmah.

Emang nggak ada sekolahnya. Tapi banyak ilmu gratisnya. Banyak workshopnya. Yang penting balik ke kita lagi, mau belajar nggak? Nah kalas saya tipe yang dimana aja ada ilmunya, gue kejar deh. Apalagi gratis. Apalagi tujuannya untuk kebaikan anak-anak.

Alhamdulillah kemarin ini gue diundang ke acara Office-to-Office Parenting Talkshow yang diadakan oleh Nutrilon Royal di Bursa Efek Indonesia, dengan tagar #OneStepAhead. Beuuhh neeyykk.. banyak banget ilmu yang gue dapet disana. Tapi apalah ilmu yang kita dapat kalau nggak dibagi-bagikan, tul?

Untuk itu makanya postingan blog mengenai One Step Ahead Mum ini akan gue posting dalam 4 artikel yaa. Karena kalau gue posting dalam 1 artikel, gue yakin kalian akan mimisan bacanya nanti. Karena gue mau nyampein informasinya penuh. Nggak seuprit-seuprit. Nggak dikit-dikit. Mau kan? Mau kan?



Ilmu yang pertama dari Dr. Bernie Endyarni Medise, SpAK, MPH. Seorang Dokter Spesialis Anak dan Tumbuh Kembang. Mengenai Pentingnya Pemantauan Tumbuh Kembang Anak Sejak Awal Kehidupannya untuk Mempersiapkan Masa Depannya. Biar cepet nangkep di kepala, gue ketik ulang ya: penting banget kita merhatiin perkembangan anak kita di umur 0-5 tahun. 

Definisi anak apaan sik?
Kalau menurut UU no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak: anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan

Dan jangan sampek salah kaprah ya. Anak itu bukan ‘bentuk mini’ orangtuanya. Nggak asik sekali anak kita diliatnya kalau dia adalah suami kita tapi dalam bentuk mini. Ya kan? Ya kan?
Anak mempunya keunikan fisik sendiri yang berbeda dari kedua orangtuanya. Mereka punya keunikan kepribadian sendiri yang juga berbeda dari orangtuanya. Maha besar Allah yang menciptakan manusia.


Yang wajib banget kita perhatikan adalah CIRI KHAS ANAK yaitu: tumbuh dan berkembang. 2 hal tersebut haruslah ada pertambahannya, terutama pada saat golden periodnya (0-3 tahun). Tumbuh dan berkembang itu adalah 2 hal yang berbeda yaa men-temen sekalian.

Anak tumbuh diukur dari:
berat badan
lingkar kepala
tinggi badan

selama ada penambahan dalam ketiga hal diatas, berarti anak kita tumbuh dengan baik. Kalau yang tidak bertambah dari 3 hal diatas pada saat golden periodnya dalam waktu yang lama, maka kita harus buru-buru konsultasi ke dokter. Itulah makanya yaaa… pada saat kita habis lahiran anak, pihak Rumah Sakit ngebekelin kita dengan buku catatan anak. Disana kita mengisi data-data tentang bayi baru kita. Ketiga hal diatas akan dicatat oleh suster yang mengukur pertambahan ketiganya.

Gue jadi inget buku Rumah Sakit yang diserahkan waktu gue abis ngelahirin Twinster dan juga Mayra Najmah. Bukunya dari Nutrilon dan di dalamnya udah terisi lengkap data-datanya twinster. Ada cap kakinya juga. Lucuk.

Ok.. kembali ke pembahasan..
Sekarang tentang berkembang. Anak itu berkembangnya dilihat dari perkembangan fungsi tubuh

Bagaimana perkembangan motorik kasarnya?
Bagaimana perkembangan motorik halusnya?
Bagaimana perkembangan bahasanya?
Bagaimana perkembangan personalisasi dan sosialisasinya?

Semua itu harus kita perhatikan dengan baik. 

Lalu apa yang membuat anak kita bisa tumbuh dan berkembang dengan baik? Faktor apa aja yang berperan?
Ada 3 faktor ya sodara-sodara...
Genetika (keturunan)
Environment (pola asuh, psikologis, kesehatan, imunisasi, stimulasi)
Nutrisi (ASI, MP ASI, makanan seimbang)

Penting bagi kita untuk melihat faktor-faktor yang bisa mempengaruhi genetika anak-anak kita nanti. Kalo jaman dulu kan para orangtua mengedepankan Bibit, Bebet, Bobot dalam menentukan calon pendamping anaknya. Itulah cara mereka memastikan bahwa anaknya akan memiliki masa depan yang baik. Walopun belon tentu juga berhasil sik. Tapi jaman sekarang cukup kita pastikan bahwa pasangan sehat secara fisik dan mentalnya, agar dapat memberikan keturunan yang sehat juga.

Selanjutnya environment/lingkungan yang kita berikan untuk anak kita haruslah baik. Pola asuh seperti apakah yang akan kita terapkan kepada anak-anak kita. Militerkah? Orangtua tipe keset kah? Demokratiskah?
Seperti apakah stimulasi untuk tumbuh kembangnya yang akan kita berikan?
Setiap anak membutuhkan imunisasi. Mereka membutuhkan bantuan dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya. Mereka punya hak untuk itu. Jadi utamakan kebutuhan anak dalam hal imunisasi ini. Because they really need it.

Dalam membimbing anak-anak kita agar bisa berkembang dengan baik, stimulasi yang kita berikan haruslah:
  1. Setiap hari. Diulang setiap ada kesempatan.
  2. dalam suasana bermain dan interaktif.
  3. Penuh kasih sayang dan gembira.
  4. dengan pola asuh yang otoritatif (demokratik)
  5. Diberi contoh, dibantu, dan tuntas (selesai).
  6. penuh pujian dan penghargaan.

Lalu mengenai nutrisi. Pastikan anak terpenuhi kebutuhan ASInya. Apabila si ibu tidak dalam kondisi tidak bisa memberi ASI, maka usahakan banget-banget kebutuhan ini terpenuhi. Karena beda banget lho antara sistem kekebalan anak-anak ASI dan anak-anak yang tidak mendapatkan ASI.

Lalu berikan anak kita Makanan Pendamping ASI yang memang sesuai dengan umurnya. Sesuai juga dengan kondisi kesehatannya. Apabila anak kita alergi telur, udah pasti kita nggak bisa kasih MP ASI yang ada kandungan telurnya kan. Jadi kita sebagai emaknya emang harus aware banget.

Dan ketika mereka sudah melewati masa2 ASI dan MP ASI, makan kita harus memberikan mereka makanan yang seimbangnya. Jangan kasih makanan yang hanya dominan lemak dan karbohidrat aja, misalnya. Poin terakhir ini sik merupakan PR besar untuk gue nih. Secara gue sekarang dalam masa nggak ada ART nih, dan kemampunan masak memasak gue itu masih di bawah standard lah. Jadi masih belum komplit penyajiannya. But am getting there, for sure. I’m still learning. Yah doakan sajalah dalam proses belajar ini, tiba-tiba dapet berkah punya ART baru, ye kaaann? Amin-kan dong sodara-sodaraaa...



Baeklah sekian dulu postingan pertama #OneStepAhead yang isinya  tentang tumbuh kembang anak, yaaakk.. Silahkan intip artikel selanjutnya yang gue dapet dari psikolog Ajeng Raviando, Psi mengenai Menggali dan Mendukung Potensi si Kecil. Cuuuss yaaa….

Dadaaaah...

Instagram | Twitter | Youtube | Facebook Page | Makeup Artist Blog Makeup

Tuesday, May 3, 2016

Nu Oceana: Kenapa Gue Butuh



Akhirnya kami sekeluarga nginjakin kaki lagi di Bali. Pulau dimana pengunjungnya itu harus berani nantangin matahari. Gue bukan penyuka matahari. Kalau matahari tempat belanja, gue suka. Disana banyak diskonan atau program beli 2 dapat 3.

Anyway..
Kami sekeluarga ini deket. Kami tau apa kesukaan satu sama lain. Krucil pun tau gue doyannya minum apa. Tapi begitu hari pertama kami di Bali, mereka ngeliat gue nenteng sesuatu yang beda. Anak #3 Marvell pun nanya..

Sibuk? Anak Banyak? Belanjanya Begini Aja

Lagi fokus banget di lokasi shooting, dapet whatsapp dari si bungsu kalo odol abis, sabun abis, ini abis, itu abis.. plus dia minta c...