Saturday, April 2, 2016

CARA MENDIDIK ANAK BEREMPATI



“Mommy, do you want me to massage your back?"

“Kecilin musiknya, Mama lagi terima telepon!"

“Don’t go inside mom’s room, Mommy’s sleeping.."

“Baby (the lil sister), you can take my chicken. I only eat one.."

Itulah beberapa rasa empati yang ditunjukin anak-anak gue di rumah. Bukan. Gue menulis itu bukan berarti gue mau bilang bahwa gue sudah berhasil mendidik anak-anak gue sebagai anak-anak yang berempati. Justru malah gue mau share pembahasan psikolog tentang bagaimana caranya kita mendiidik anak kita agar menjadi anak-anak yang berempati.

Sudah menjadi tujuan mulia semua orangtua, bahwa mereka ingin sekali mendidik anak-anaknya supaya tumbuh menjadi anak yang hebat. Kalo kata psikolog Roslina Verauli, M. Psi yang gue panggil dengan Mbak Vera, kriteria anak hebat itu gampang banget. Cuman 3 doang kok.

  1. Sehat
  2. Cerdas IQ
  3. Cerdas psiko-sosial (emosi sosial) atau kompeten secara emosi dan sosial.

Kalau mau anaknya sehat secara fisik dan mental, faktor pentingnya kan udah pasti makanan yang bergizi kan yaa… Pake susu juga kalo untuk anak-anak. Kalo ngomongin susu tuh, bisa bikin wajah gue jadi datar laahh.. 

Jadi inget waktu Twinster dan Najmah masih kucil-kucil. Gue itu harus beli susu kaleng Bebelac sampek 15 kaleng tiap bulannya. Mungkin kalo si sulung bedanya nggak jauh sama Twinster, gue bisa beli sampek 20 kaleng deh tuh.

Terus ketika  Baby (baca: Najmah) udah umur 3 tahun, demi alasan kepraktisan karena kami serombongan sirkus (emak, bapak, 4 anak, 2 nannies) demen bener kesana kemari berjamaah, akhirnya susu berganti ke UHT dalam kemasan kotak.

Bebelac itu punya history manis tersendiri di keluarga gue. Akhir tahun 2008, gue inget banget betapa global economic crisis menghantam dunia. Pelan-pelan imbasnya ke Indonesia. Januari 2009 harga susu naik. Termasuk Bebelac si kaleng kuning cerah yang biasa gue beli. Totalnya per bulan untuk budget susu itu gue harus kasih tambahan kurang lebih 1 juta lagi. Ya karena harganya naik itu. Dan gue kudu beli 15-17 kaleng.

Lalu susu anak-anak gue downgrade dooong. Awalnya gue beli cuman 1 kotak dulu aja. Karena mau test dulu. Cocok nggak susunya di anak-anak. Deg-degan gue tunggu reaksi dari anak-anak. Dan yak betul aja… Terdengarlah di telinga lebar gue gedebak-gedebuk langkah anak kecil. Terus pintu kamar terbuka. Dan muncullah salah satu twins monster gue, Marvell, dengan mata besarnya. Sambil bawa botol susu yang masih penuh. Dengan wajah begging anak ini bilang:

“Mommy, can I have Bebewac (baca: Bebelac), pwease? Atuuuuuu aja.."

Hoahahhahaa… antara sedih dan lucu gue liatnya. Baiklah nak. Ganti lagi aja kalo gitu yaaa… And, if you’re wondering kenapa dari sekian banyak produk susu, kok gue milihnya beli Bebelac, ya simply karena gue mau ngasih asupan yang kualitasnya bagus untuk anak gue, tapi nggak overprice macam susu-susu lainnya. Terlalu berlebihanlah harganya. Padahal fungsi dan kandungannya sama dengan Bebelac. Gue nggak jembrengin disini apa aja kandungan dan kegunaannya, tapi detailnya bisa deh diliat di www.bebeclub.co.id

Kembali lagi ke topik...

Dari 3 kriteria anak hebat yang udah gue sebutin di atas, biasanya kriteria 1 dan 2 para ortu udah ngerti gimana cara achievenya. Tapi banyak yang nggak sadar pentingnya kriteria yang ke 3. Atau gimana cara achievenya si kriteria yang ke-3 ini? Cerdas psikososial (emosi sosial) atau si anak kompeten secara emosi dan sosial.

Kalau yang gue tangkep dari penjelasan Mbak Vera sang psikolog, cerdas psikososial ini adalah gimana si anak bisa mengolah emosinya saat dia terhubung dengan fungsi sosialnya. Saat dia berada di antara orang lain. Ini yang jujur gue liat masih kurang distimulus dengan baik oleh para orang tua. (Trust me, gue abis nemenin anak-anak gue outing dengan sekolahannya. Dan gue liat BANYAK teman-temannya yang mengedepankan keegoisan, menyalahkan teman, dan emosi tak terkendali. And I was wondering, para orang tuanya concern nggak ya dengan hal ini?)

Apa aja faktor yang harus distimulus pada anak, supaya anak kita menjadi cerdas psikososial? Emosi ke-aku-annya harus muncul. Yang termasuk dalam emosi ke-aku-an pada anak itu adalah:
- anak itu harus tau potensi dirinya. Arahkan anak untuk tau potensi-potensi yang dimilikinya.

- anak tahu mana yang bisa dia kerjakan, dan mana yang tidak. Kalau anak sudah bisa mengenal potensi dirinya, arahkan anak untuk bisa menilai mana yang saat itu bisa dia kerjakan, dan mana yang tidak. Gue sih ngeliatnya hal ini bisa meminimalisir kefrustasian pada anak ketika dia masih belum berhasil melakukan sesuatu yang sesuai dengan stagenya. Sehingga anak akan stays happy dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

- Percaya diri. Ini menjadi PR besar buat kita para orang tua untuk selalu mengembangkan kepercayaan diri anak kita. Anak-anak Indonesia harus menjadi anak yang maksimal percaya dirinya. Ini udah tahun 2016. Para orang tua juga sudah banyak yang berpendidikan bagus. Jadi harusnya sudah melek bahwa untuk bertumbuh, anak-anak kita perlu banget dipersenjatai dengan kepercayaan diri. 

Anak yang cerdas secara psiko-sosial ditandai dengan memiliki rasa empati. Belum banyak anak yang seperti ini kalau gue liat di lingkungan gue. Tapi bisa jadi banyak. Bisa banget! Asal orang tua aware akan pentingnya rasa empati untuk dimiliki anak kita.

Gue rasa itulah alasan kuat kenapa Bebelac sedang gencar mengkampanyekan (atau mengampanyekan?) Bebehero: Grow Them Great sebagai bentuk dukungan untuk para orang tua dalam membesarkan anak hebat.

Melalui kampanye Bebehero, Ibu diajak untuk mengerti bagaimana mengembangkan kecerdasan dan menumbuhkan empati anak melalui pengenalan akan nilai kebaikan yang dilakukan dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini dilakukan agar ibu dapat menumbuhkan empati pada anak sejak dini sehingga dapat menampilkan aksi hebat di lingkungan keluarga dan sekitarnya. Tepat guna banget kan ini kampanye jadinya.

Kata mbak Andi Airin, Senior Brand Manager Bebelac, “melalui kampanye Bebehero, Bebelac menggandeng seluruh anak yang mempunyai aksi hebat dalam kehidupan sehari-hari untuk menginspirasi anak-anak lainnya bahwa nilai kebaikan adalah bagian dalam kehidupan sehari-hari."

Menurut Mbak Vera sang psikolog, “empati adalah gerbang dari aksi peduli kepada orang lain termasuk nilai kebaikan yang dimiliki oleh anak, oleh karena itu, dasar pendidikan moral dengan berempati harus dimulai sejak dini karena tumbuh dan berkembangnya empati pada anak sejak dini akan berpengaruh pada perkembangan watak atau kepribadian dan perilaku anak saat dewasa nanti."

Empati itu adalah salah satu dasar dari karakter kepahlawanan yang perlu dimiliki anak. Kalau si anak sudah punya karakter kepahlawanan, artinya anak memiliki kepedulian sosial (melakukan aksi yang bermanfaat bagi orang lain tanpa pamrih), paham norma sosial (tau mana yang benar dan yang salah terkait pelanggaran atas hak orang lain, serta mampu mengikuti “aturan main” yang berlaku dilingkungan sosial.

Sepanjang penglihatan gue (di lingkungan gue berada), masih banyak anak-anak yang belum memiliki karakter kepahlawanan ini. Penting makanya kita para orang tua untuk ikut menyuarakan kampanye Grow Them Great ini. For the sake of our kids!

Bambang Pamungkas malah bilang (iya! mas Bambang yang pemain bola kesohor itu.. idola hampir seluruh pencinta bola di Indonesia): “tantangan terbesar bagi saya, selaku orangtua adalah mengenai bagaimana cara memunculkan aksi hebat anak dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, saya selalu berusaha memperlihatkan nilai-nilai kebaikan dari hal-hal kecil agar dapat dengan mudah dicontoh oleh anak, seperti misalnya dengan membantu orang lain yang mobilnya mogok di jalan, atau mengajak anak terlibat dalam kegiatan yayasan yang saya dirikan."


Aaahh.. pasti pembaca yang budiman berpikir kok ya gue keren bangeeett.. temennya itu psikolog, senior brand manager, pemain bola kesohor… Sebetulnya nggak sekeren itu sik gue.. Etapi emang mayan keren laaah karena sebetulnya kemarenan itu gue diundang oleh Bebelac untuk hadir ke eventnya mereka di Kota Kasablanca. Namanya undangan. Bisa aja dong gue tolak. Tapi gue itu orangnya paling demen sama hal-hal yang pembahasannya tentang parenting. Karena menjadi orang tua itu nggak ada sekolahnya. Makanya tugas gue sebagai orang tua adalah memintarkan diri gue, dengan cara gue sendiri, dan dengan keinginan untuk menjadi orang tua pintar yang jangan sampek redup. That was the reason gue memutuskan hadir.


Balik lagi ke topik tentang bagaimana kita bisa mendidik anak berempati, bisa memiliki karakter kepahlawanan itu tadi.

Berhubung anak-anak itu masih berpikir konkrit, mereka jadinya agak sulit menangkap kata-kata atau penjelasan abstrak mengenai hal yang rumit. Secara teorinya kan kita sebaiknya menggunakan maksimal 15 kata dalam memberikan penjelasan kepada anak kaan. Tapi kadang kita jadinya mumet sendiri mikirin penjelasannya dengan jumlah kata yang dibatasi. Plus.. menjelaskan nilai baik pada anak lewat kata-kata akhirnya hanya akan lewat gitu aja.

Biar efektif, kita bisa mendidik anak berempati atau yang lebih luasnya mendidik anak mengenal nilai-nilai baik dengan 3 cara ampuh:

  1. Story Telling: membaca buku cerita dengan tokoh yang senang menolong orang lain dan mengaitkannya dalam kegiatan sehari-hari.
  2. Role Play/Bermain Peran: bermain peran berganti-gantian sebagai orang yang butuh pertolongan dan orang yang akan menolong.
  3. Modelling: berperilaku sesuai apa yang diajarkan pada anak agar anak dapat meniru perilaku tersebut.

Plus.. kita sebagai ortu juga harus udah mulai memupuk sehingga rasa empati pada anak itu timbul. Caranya memupuknya adalah dengan:
  1. Berikan pujian pada saat anak berusaha membantu orang lain
  2. Berikan anak kesempatan untuk memcoba membantu orang lain
  3. Ajak anak diskusi ketika melihat orang yang membutuhkan bantuan
  4. Buat tradisi keluarga dalam bidang aksi sosial.

Terus.. terus.. Gue kan banci nanya yaa.. Karena gue kan pingin banget nambah pengetahuan. Dalam hal apapun. Ditambah lagi ada psikolog kaann.. jadi gue harus banget deh nanya.

Di event itu pertanyaan gue ada 2 yang gue lemparkan ke Mbak Vera sang psikolog.

  1. Adakah batasan umurnya dimana kita bisa ketok palu “hiyaaakk.. anak saya ternyata belum cerdas secara emosional”. Karena sometimes kan kita melihat, di satu sisi si anak keliatan cerdas emosionalnya. Di sisi lain, terlihat kurangnya.
  2. Adakah tips untuk orang tua dalam menghadapi tuntutan kecerdasan akademis? Karena salah satu anak saya punya masalah dengan fokus, gampang sekali terdistract dengan hal lain saat belajar, lalu lupa apa yang sudah diajarkan sebelumnya.

Jawaban Mbak Vera atas pertanyaan gue kurang lebih kayak gini..

Tidak ada batasan umur. Karena yang namanya anak ya pasti mereka perlu untuk terus belajar. Yang penting, dilihat apakah sudah sesuai dengan levelnya. Karena ukuran kecerdasan emosi anak bayi dan anak umur 3 tahun itu berbeda. Yang terpenting lagi, kita sebagai orang tua juga jangan pernah menyerah untuk terus menstimulus anak kita agar kecerdasan emosinya terus tumbuh. Ingatkan lagi. Ingatkan terus. Ingatkan lagi. Ingatkan terus.

Untuk pertanyaan yang kedua, gue mendapatkan tips baru *yay!*. Sebelum anak mulai belajar, coba anak diberikan kegiatan yang melibatkan motorik kasarnya. Kasih anak kegiatan mengeluarkan energinya. Contoh-contoh kegiatan yang mengekspose motorik kasar anak (untuk umur 1-6 tahun) ada di Bebe Park. Contoh-contohnya ada di foto-foto ini.









Tapi kalo untuk anak-anak gue, karena umurnya udah diatas 6 tahun, berarti sebelum mulai belajar nanti, gue akan arahkan mereka untuk main badminton, atau mungkin sing and dance with the mother.

Alasan gue membuat blog www.TheKairupan.com ini adalah untuk rekam jejak 4 anak gue. Sesuatu yang bisa mereka nikmati baca pas udah besar nanti. Tapi.. buat pembaca budiman yang nggak suka ngeblog mungkin, atau mungkin sukanya foto-fotoin anak dan share ke sosmed, ada baiknya ikutan deh #BebeHero 2016. Cara ikutannya gampang banget pulak.

Tinggal upload foto atau video anak di http://bebeclub.co.id/growthemgreat/ dan disertai cerita singkat tentang foto atau video itu.

Terus tinggal tunggu deh pengumuman pemenangnya. Emang kalo menang dapetnya apa? Nanti anak kita berkesempatan jadi bintang iklan Bebelac dan liburan ke Australia, dan dapatkan juga hadiah emas tiap minggunya.

Ini yang enak kaaann… Kita mendidik anak sesuai jalurnya. Terus ada rewardsnya juga dari Bebelac. Jangan lupa ikutan yaa wan-kawan semuaa...



Btw…
Gue juga punya socmed yang lain sapa tau kawan-kawan mau follow… ada twitter gw di @YonnaKairupan , instagram gue di @YonnaKairupan , ada facebook page gue di Yonna Makeup Artist , dan please add my Snapchat di YonnaKairupan. Dan.. Kalau pembaca yang budiman mau belajar mekap dikit-dikit, atau pingin liat behind the scenes pas gue lagi kerja jadi Makeup Artist, bisa subscribe di Youtube Channel gue yaa..

Dadaaahh...

No comments:

Post a Comment

How Do You Talk to an Angel?

Scene 1: Di bagian mainan anak-anak. Tiba-tiba ada anak yang kira-kira umur 4 tahunan langsung teriak. "Mau yang ini!!!!" ...