Wednesday, December 23, 2015

No (Specific) Mother's Day for Me

Yesterday was Indonesian Mother's Day.
Am about to tell you my kinda Mother's Day.

Mother's Day..
Started on July 1st, 2000 when I married to the most wonderful man in the world. Then every single day of my life was Mother's Day.

Mother's Day..
Is not the day when I should get special treatments from my family. Coz I always have them. Day to day. Hours to hours. Minutes to minutes. Every seconds.

Mother's Day..
Is not the day when I have to spoil and please myself with good things. Coz basically I can have them anytime I want. Ow.. when it's not the end of the month for sure. When I have to tighten up the family budget 😄😄😄

Mother's Day..
Is not the day when I have to see how thankful my husby and my kids to have me as the great woman in their lives.
It is the day when I have to show them my gratitude. When I have to thank them..

To my husband..
Thank you for giving me the chance to be a mother for your 4 wonderful kids.
Thank you for opening the door to a very wonderful world. Motherhood.
Thank you for always hold my hand during the journey.

To my Melvyn..
Thank you for all the new lessons you gave to me.
I learned how to deal with extra-energetic child. How to deal with big brain kid. How to deal with teenager.

To my twinster. Marshall and Marvell.
Thank you for being the sweetest twin monsters in the world. I learned more about patience. Expectations. Great souls. Respects. I learned more about being tough.

To my lil girl. Najmah.
Thank you for giving me lessons about how to be a real woman. I learned more about beauty. Behaviour. Fear. Girl with brain. I learned all of that from you.

And my lessons are not ended yet. It will continue till the end of my time. For sure.

Mother's Day.
No need special gift for Big Mommy, my husby and kids. All of you are my extraordinary gifts just by breathing and be happy.


Saturday, February 7, 2015

Goodnite, Sexy!

4 anak ritualnya kasih goodnight kisses dulu ke Big Mommy sblm tidur. Then came the flamboyant boy to kiss me..

Boy: Goodnite.................. sexy!
Me: goodnite! And why did you call me that?
Boy: because you look sexy!
Me: What is sexy to you?
Boy: nothing.. goodnight, sexy!
Me: So it's not pretty? Or beautiful?
Boy: No.. sexy!

Akuh bingung. And played my card:

Me: And for your info... that's why I wear hijaab to make me look not sexy.

Boy: ow.. okey. Goodnite!

Then I dialled his father 😄😄😄

#AnakItuAdalahMarvell
#YangBeberapaKaliBilangEmaknyaBagusanNggakPakeHijab

Monday, February 2, 2015

Revolusi Mental Orang Tua. Versi Gue.


I learn a lot from my kids.
Especially I learn a lot from my eldest. Karena selalu ada 'kasus' baru kalau sama si Sulung. Terus nanti pas ngadepin adik2nya jadinya udah lebih smooth.

Si sulung untuk pertama kalinya ikutan turnamen taekwondo. Dan hanya dari 1 event ini, gw bisa belajar banyak. Inilah beberapa diantaranya.. yang menunjukkan bahwa Revolusi Mental diperlukan banget oleh orang tua di Indonesia. 

=======

Aaarrgghh... this was the hardest lesson.
Begitu gue tau si Sulung mau ikutan turnamen, pertanyaan pertama gue ke dia adalah:

"Are you sure? Are you ready?"

Dan dia jawabnya yakin banget.. dengan YES.

Sebetulnya.. pertanyaan itu adalah untuk diri gue sendiri.
Sebetulnya yang nggak ready itu adalah gue.
Hati gue ngilu ngebayangin anak gue tendang-tendangan.
Kena perutnya. Kena kepalanya. Kena mukanya.

Tapi ya gue harus belajar. That was a huge step for me.

Begitu hari H-nya.. gue bener2 nervous. Mulut gue berasa kering. Senewen. Suami sampai gue larang untuk nelpon2 karena gue senewen.
Dan gue harus bersikap cool and calm di depan anak2.
Aaargghh.... aren't mother the best actors? :D

But I did it. I was awesome. I guess.
Diluar jeritan2 macam orang kesurupan pas si Sulung lagi tanding.
I was still awesome.
Next time I'll be calmer. I'll be cooler.

Revolusi mental pertama.
Revolusi mental selanjutnya..
Ini diluar diri gue.

Pertandingan udh dimulai.. beberapa partai udh jalan. Di salah satu arena, ada anak sekitaran umur 8 thn tanding. Salah satunya jatuh dan lututnya keinjek lawan. Kesakitan. Nangis.

Bapak2 yg dari tadi berisik di belakang gue dgn logat Sumatranya langsung ngakak ngetawain kenceng banget dan bilang ke anaknya yg umurnya sekitar 8 thn juga:

"Bwahahahaha... nangis! Masa gitu aja nangis.. ahahahhahaa... liat tuh!" Sambil nyikut anaknya.

Gue nengok ke belakang dan spontan bilang: "ya ampun.. kok diketawain sih"

Najmah nanya: kenapa Mommy?

Dengan lantang dan gue tau itu bapak ngeliatin dan dengerin gue, gue pun bilang:

"Sangat tidak baik ya sayang kita menertawakan orang yg sedang kesakitan. Apalagi anak kecil. Secara moral, kelakuan itu buruk sekali.."

Then I don't  hear his laughter anymore..

I mean.. GOD.. really??
Seorang bapak. Berumur matang. Berperilaku seperti itu di depan anaknya?
Dan thanks to him.. gue jadi punya perfect examples yang nyata di depan mata untuk anak2 gue. Mereka jadi tau bahwa orang kayak gitu ada. Mereka bisa belajar dari seorang ayah perilaku yang memalukan.

Revolusi Mental selanjutnya yang diperlukan orang tua Indonesia:
Gue duduk diantara orangtua2 dari sebuah club taekwondo. Kebanyakan dari mereka logat Sumatra. Salah satu anak cowok dari club tersebut udah kelar tanding. Sekitar umur 8-9 tahun. Kalah.

Kecewa keliatan banget dari wajahnya. Gue bisa rasain gimana perasaan di dalem hatinya, kudu balik ke tempat duduk dia yang penuh dengan para orang tua dan juga teman2nya.

Begitu dia sampai di tempatnya, seorang wanita yang gue asumsikan adalah ibunya bilang:

"Kalah? Yeeeee... itulah.. kamu itu kurang fokus.." sambil kasih senyuman seringai yang gue ngeliatnya kesel banget. Gue yang nggak ikut tanding, nggak ngerasain kalah, gue aja eneg banget liat senyumnya.

Terus gue liat ke anaknya. Dia nunduk sambil rahangnya sedikit gerak2. Dia menahan emosi nampaknya. Terus dia duduk. Seorang ibu ngasih dia makanan KFC. Dan ibu2 lain ada yang nanya juga: "gimana? menang? kalah?"

Wanita yang gue asumsikan ibunya langsung jawab: "kalah.. abisan.. dia itu kurang fokus!"

Mothers... did you really have to do that?
Apa perasaan loe udah mati hanya untuk bisa ngerasain apa yang ada di hati anak loe?

Disini gue udah mendapatkan pengingat duluan.. tentang apa yang harus gue lakukan ketika anak gue kalah nanti. Ataupun menang.

Hargai perasaan anak. Rangkai kata-kata yang benar.
Sesuatu yang emang gue pun masih harus belajar banyak.

Oke.. Revolusi Mental selanjutnya:

Masih tentang salah satu orang tua dari klub yang sama.
Dia punya 3 anak yang tampangnya bule2. Cowok semua. Ikutan tanding semua.

Anak pertama kayaknya udah SMA. Atau mungkin kuliah. Namanya Michael.
Anak kedua sekitar umur 10 thn. Namanya Shane.
Anak ketiga sekitar umur 8 thn. Gue nggak tau namanya siapa. Kayaknya Jeremy deh.

Anak ketiganya tanding duluan. Kalah.
Gue bisa denger pembicaraan si anak dengan salah satu ibu2 yang nanyain dia menang atau kalah..

"(aku) kalah. Abisan lawannya nggak seimbang. Dia lebih tinggi gitu."

Terus ibunya datang. Dan membahas kekalahan anaknya dengan ibu2 yang lain.. ucapannya pun sama. Bahwa lawan anaknya nggak seimbang.

And I saw the fight. It was a fair one. Tinggi mereka sama. Hanya saja lawannya itu lebih agresif.

Anaknya yang kedua tanding. Menang.
Menang bukan karena dia berhasil mengalahkan lawan. Tapi karena lawannya nggak hadir. Jadi menang.
Nggak ada pembahasan apa2 dari si ibu tentang hal ini.

Anaknya yang pertama tanding. Gue nggak liat fightnya. Kalah.
Anaknya sih diem aja. Gue emang liat anaknya yang pertama ini karakternya emang pendiem. Nggak banyak ngobrol. Dia sibuk dengan tab, handphone dan earphonenya aja. Nggak merhatiin pertandingan2 yang berlangsung.

Dan gue liat ibunya membahas kekalahan anaknya dengan ibu2 yang lain.
Ucapannya juga mengacu bahwa lawan anaknya nggak sepadan.

Ow God.. really?
Sampai kapan kita sebagai orang tua harus menyalahkan faktor luar untuk sebuah kegagalan yang dilakukan anak kita?
Terus jadinya kapan dong pikiran kita mau terbuka untuk meng-scanning apa yang harus dibenahi dalam diri anak kita?

Dan kejadian ini adalah reminder yang berharga banget untuk gue. Gue bener-bener bisa melihat dari sisi luar, what it looks like to the parents and also to the children.

Being a parents itu emang nggak ada sekolah khususnya. Satu-satunya cara adalah kita harus mau membuka hati dan pikiran kita untuk belajar dari sekitar.. dan yang terpenting adalah belajar dari anak kita.

Dan ya... postingan ini adalah semata-mata untuk gue yang masih harus melakukan revolusi mental sebagai orang tua.

Grateful: Jatuh Hati



Pagi ini pas gw lagi sendiri, gw narik nafas panjang sekali. Memghembuskannya tdk dgn kecepatan tinggi.

Gw review lagi apa yg gw punya.
Gw jadi tau rasa syukur yang gw lupa.

Ya allah.. terima kasih.
Sudah membiarkan hamba jatuh hati.
Cinta mati.
Pada seorang manusia yang baik hati sekali.
Ow.. dan juga gantengnya bikin hati happy.

Bersama dia...
Hal-hal baik selalu terjadi.
Tak terduga. Nggak disangka2.

Makasih ya Allah yaaaaa....

Udah. Itu dulu. 😆😆😆

Sunday, February 1, 2015

Anakku Menangis...



Bukan. Bukan karena dia kalah.
Yup, si Sulung hari ini ikut turnamen taekwondo. Baru pertama kali.
Yup, si Sulung ikutan ekskul Taekwondo di sekolahnya. Dan baru 6 bulan join.

Dia nyerang.
Dia bertahan.
Dia kalah.
Tapi memang hari ini belum waktu yang terbaik bagi dia untuk memang.

Gw bisa liat wajah kecewanya. Bisa gw rasain. Tapi dia gengsian, kayak gw. Dia tunjukkan ke dunia kalau dia fine. Gw bisa ngerasain energi yg dia keluarin untuk bisa ngumpetin perasaan dia yg sebenarnya.

Di mobil.
"How do you feel, kak?"
"Gapapa.." katanya...

Terus gw merantaikan ucapan...
"Kamu ngerasa apa? Kecewa? Gemes?
IT'S OK! What you did was great!

Lawan kamu, lebih berpengalaman dari kamu. Dan kamu bisa bertahan ngadepin serangannya tanpa kamu harus tersungkur atau ngebungkuk2 kesakitan. I was so amazed by that. I just knew that you were that strong!

I knew you will do your best.. I believed in you... tapi tadinya mama takut apa kamu bisa bertahan.. because i saw peserta2 lain ada yg sampai tersungkur, berdarah2, kesakitan. I just knew. And you were awesome!"

Katanya...
"Kakak itu gemes ma.. kakak kecewa. Kakak itu lupa blocking.. kakak tadi itu mau kasih bla bla bla.. *lalu dia ngomongin istilah2 taekwondo yg gw nggak ngerti*"

Lalu mulut gw bersuara lagi...
"It's OK kalau kamu kecewa. That's normal. Perasaan normal kalau orang kalah adalah kecewa. Mana ada orang kalah terus dia loncat2 kesenengan dan langsung sujud2.

It's normal untuk kecewa. Tapi jangan kelamaan. Because you have to get up. You have to turn it into perasaan gemes.. so you can do better next time.

One other great thing you did was... kamu nggak menggunakan luka parah di telapak kaki kamu sebagai salah satu faktor yg bikin kamu lemah. Because you were so focus to do the best. Not everybody can do that.

I saw a mother with her 3 sons yang ikutan lomba. Mereka kalah semua. Ibu dan anak sama2 cari kesalahan.. yang lawannya yang lebih tinggi laahh... yang lawannya nggak seimbanglah.. Tapi kamu nggak begitu.

You know what I prayed to Allah today? I didn't ask for you to win this tournament. I asked to Allah to give a great experience for your life. And what you had today was a great one. Because you already a winner, sayang. And I'm so proud of you!"

Lalu sambil nyetir gw pun nengok ke si Sulung..
Dia menyeka air matanya. Dan ambil tissue untuk lap ingusnya..
Anakku menangis.

I smile. And had a thought. Maybe I can be a good taekwondo coach.

Wednesday, January 14, 2015

Don't Judge a Mom by Her 'Cover'



Take a look at my lil princess.
Ketika dia belum berumur 1 thn, masih dlm hitungan bulan... ketika itu pula gw menggendongnya dalam pelukan. Bangga. Penuh cinta. Banget!

Ketika itu pula seorang pria paruh baya bertemu dengan kami. Orang yang gw kenal. Orang banyak pun kenal. Berwibawa. Berpendidikan. Kaya raya. Sekarang sdh almarhum.

Saat itu dia menyapa gw yang sedang besar2nya, dengan jilbab dan gamis selebar tenda, sambil menggendong anak pula. (Kurang lebih seperti ini) Almarhum menyapa:

"Wah lucunya... ini anak yang keberapa? Waduh ke-empat? Nanti kalau sudah besar mau dikirim perang melawan Amerika ya?"

Take a look at (again) my lil princess. Terbersit dalam lintasan aja tidak pernah... untuk mengajarkan.. atau mengirimkan anak2 yang keluar dari rahim gw untuk berperang. Hidup dalam benci. Atau apalah yang negatif lainnya.

Malah kalau seandainya bisa... I want them to live forever. In peace.

Yah begitulah kalau seorang wanita bergamis.. berjilbab sebesar tenda... mempunyai anak banyak. But I forgave him. Long long time a go. May he rests in peace.

Disclaimer: Ini semata2 hanya utk gentle reminder agar kita selalu berpikiran terbuka. And don't judge a mom by her 'cover'.

How Do You Talk to an Angel?

Scene 1: Di bagian mainan anak-anak. Tiba-tiba ada anak yang kira-kira umur 4 tahunan langsung teriak. "Mau yang ini!!!!" ...