Thursday, May 29, 2014

Dear (Bad) Smokers with No Brains

Agak sadis emang judulnya. Tapi gue menulis ini bukan gue tujukan untuk teman2 gue yang perokok. Karena gue tau mereka adalah para perokok with good attitudes. With smart brain.

Dan kalau misalnya pada akhirnya loe tersinggung, itu artinya loe menggolongkan diri loe kepada kategori perokok with no brain.. The choice is yours, my friends..

Gue baru aja balik dari makan bakso di daerah Tebet. Bakso Gondrong namanya. Tempatnya di pinggir jalan. Cuman pake tenda doang. Open space. Gue nggak sendirian, tapi ditemenin salah satu anak zombie gw, Rizal.

Ketika santapan bakso gue hampir habis, datenglah 4 orang. Berikut deskripsi gue tentang 4 orang ini, seingatnya gue.. in syaa Allah

Laki2 pake kaos biru. Kurus. Nggak terlalu tinggi. Kulit kuning langsat.

Laki2 pake kaos putih. Badan besar dan tegap. Lumayan tinggi. Kulit coklat gelap. Pipi penuh jerawat dan bekas jerawat. Rambut cepak macam tentara.

Laki2 ketiga. Gue nggak melihat tampilannya. Dia duduk sebaris sama gw, jadi gue nggak sempet liat perawakannya.

Cewek yang tampilannya ibu2 muda. Dengan pakaian serba ketat ngejepletet. Gemuk. Kulit wajah putih pucet macam abis perawatan dokter.

Selama mereka makan, si laki2 kaos putih lebih banyak ngobrol sama si cewek. Si kaos putih ngocehin ttg seseorang yang lagi menggalang kerja bakti membetulkan rumah. Dan betapa si kaos putih itu 'enek' liat muka si seseorang itu. Yang cewek ngeladenin ocehan si kaos putih. Yang 2 laki2 lainnya cuman anteng nikmatin bakso.

Gue nguping? Oh tidak. Suasana di pinggir jalan raya itu lumayan sepi krn hari libur. Dan si kaos putih itu ngobrolnya dengan suara yg cukup lantang sehingga membuat orang2 yg semeja dengan dia bisa denger obrolannya.

Ketika bakso gue habis, gue dan Rizal memang sepakat untuk nggak langsung beranjak. Karena gue mau beli es podeng dulu.

Gerombolan si kaos putih pun kelar makan baksonya. Ketika gue lagi ngobrol sama Rizal, gue ngerasain asap rokok masuk ke dalam kerongkongan gue. Dan ketika gue liat, si kaos putih dan kaos biru lagi ngerokok. Dan ternyata si cowok ketiga pun ngerokok juga. Kalau si cewek ngejepletet gue nggak tau deh. Karena nggak keliatan.

Seperti biasa, gue langsung bersuara. Dengan nada baik2 gue berucap..

"Maaf mas, asap rokoknya ke arah saya"
Seumur hidup gue ketika gue mengucapkan ini kepada pria yang merokok, alhamdulillah mereka selalu beranjak mengubah posisi, atau malah beranjak pergi menjauh. Kadang disertai ucapan "maaf..." kadang juga tidak. Tapi nggak masalah laah. Yang penting mereka merespon keberatan gue...

Gue lihat si kaos biru langsung mengubah posisi duduknya sedikit dan menggerakkan tangannya ke bawah meja. Sehingga asap rokoknya nggak terbawa oleh angin ke arah gue.

Tapi si kaos putih?
Dengan dagu diangkat keatas. Kedua tangan bertumpu di meja sambil ngetik2 blackberrynya dengan sebatang rokok terselip di jari2 tangan kanannya.

Nggak mungkin dia nggak dengar gue ngomong. Karena posisi dia duduk, lebih dekat ke gue dibanding si kaos biru. Lalu gue bersuara lagi..

"Mas??"

Dan dia menjawab..
"Ini diluar ruangan bu, jadi bebas"

Disinilah gue bisa bilang, dengan badan sebesar dan setegap itu, laki2 ini bisa dibilang nggak punya otak. No Brain. Apa karena loe sedang diluar ruangan, loe bebas ngerokok seenaknya? Jadi karena gue nggak ngerokok, gue nggak berhak untuk bernafas lega tanpa asap rokok?

Untuk kalian para perokok yang berpikir seperti ini, sadarilah bahwa rokok sudah menggerogoti otak kalian juga.

Apakah gue diem aja? Oh tentu tidak. Gue masih punya otak yang mampu memberikan perintah kepada diri gue untuk bersuara dan membela hak gue.

"Iya, tapi bukan berarti mas bisa merokok seenaknya kan"

Si kaos putih tetap diam dengan posisi semula. Gue tetep ngeliatin dia. Sedetik. 2 detik. 5 detik. 10 detik. Lalu gue bersuara lagi.

"Mas, saya meminta dengan baik-baik lho ya.."

"Iya, sebentar..." masih dengan gayanya semula.

2 detik kemudian dia bilang "mas, berapa semuanya..". Dia nanya ke tukang bakso.

Mata gue tetep melihat tajam ke laki2 nggak tau malu ini. Sementara 3 orang yang lain nggak bersuara. Termasuk si cewek ngejepletet.

Ketika mereka sudah membayar baksonya, dan mereka berjalan ke arah kanan menuju mobil mereka, si kaos putih menyempatkan berseloroh ke gue..

"Kalau mau bebas asap rokok, makan di restoran aja bu.."

Betapa gue mau tertawa kasihan ke laki2 itu. Sudahlah otaknya nggak berfungsi utk berpikir, dia merendahkan kastanya sendiri. Dia lho ya yang menciptakan kasta bagi dirinya. Artinya perokok seperti dia tempatnya memang makan di pinggir jalan. Dan orang2 yang nggak suka asap rokok seperti gue, tempat makannya di restoran nyaman. Dia pikir gue akan diam mendengar ucapannya. Ah.. dia nggak tau bahwa ibu empat anak ini ada internal toa mesjid di dalam perutnya 😁😁😁

Gue pun berujar lantang..
"Bukan saya yang ke restoran, tapi kamu yang harus tau diri kalau ngerokok"

Dan si kaos putihpun hanya mampu mengulang:
"Ke restoran aja sana.."

Dan ketika si cewek ngejepletet udah mendekati pintu mobil.. seketika itu juga dia berusaha jadi pahlawan kesiangan buat temannya. Dia pun teriak. Dan tentu aja gue nggak gubris. Karena dia bukanlah sumber masalah bagi gue..

"Heh buuu... ke restoran aja sanaaaa"
Yup.. cuman sekedar peramai suasana aja dia memang. Mungkin supaya nanti dia terlihat ada andil di mata temennya itu. Kasian memang.

Si kaos putih masih menyempatkan berujar dari samping mobilnya:
"Ini diluar.. jadi ke restoran aja sana"

Dan penutupan dari gue adalah:
"Nggak.. kamu yang pake otaknya!! Mau mati jangan ajak2 orang.."

Sangat nggak masuk di akal melihat tabiat orang yang kayak gitu.
Perbuatannya mengganggu orang sekitar. Dan ketika dibilangin baik2, ngototnya seolah2 seperti orang yang haknya harus didahulukan dari orang lain.

Sama aja kayak ketika loe lagi pake payung diluar. Lalu payung loe itu nyenggol muka orang. Lalu orangnya kasih tau loe bahwa payung loe mengganggu dia.

Apa loe akan bilang "ini diluar.. kalau nggak mau kena payung.. ke mall aja sana.."

Eh.. pas nggak sik analoginya? :P

Jadi...
Gue pribadi nggak ada sentimen tersendiri kepada para perokok. It's your choice. Orang-orang terdekat gue juga banyak yang perokok kok. Tapi mereka cukup tau bagaimana menghargai orang lain di sekitarnya. Mereka sangat tau bagaimana merespon keberatan orang2 di sekitarnya.

Gue nggak tau apakah memang banyak Brainless Smokers seperti si kaos putih diluar sana? Semoga nggak. Kalaupun banyak, semoga mereka tau bakal banyak orang2 seperti gue yang akan bersuara lantang atas tabiat buruknya itu.

Gue yakin.. walaupun si kaos putih segitu ngototnya tadi dan dibantu pemandu soraknya, di dasar hatinya pasti dia malu. Dan semoga hati nuraninya bisa menggerakkan otaknya untuk berpikir, bahwa kejadian spt tadi jangan sampai terjadi lagi. Bahwa lain kali ketika dia merokok dimanapun dia berada, dia harus tau bahwa asap rokoknya jangan sampai mengganggu orang2 di sekitarnya dia. Dia harus merespon dengan baik keberatan orang akan asap rokoknya.

Apakah ada yang pernah mengalami hal yang sama seperti gue? Atau mungkin lebih buruk?

2 comments:

  1. Ahh samaaa, sy jg benci bgt sm perokok yg ga tau aturan.. di rumah bnyk yg merokok, tp klo sy tegur sih msh ngerti.. duh klo sy di posisi bun yonna mgkn sy marah abis2an.. sy bacanya aja greget.. >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah makanya kita harus bersuara yaa... supaya orang2 nggak tau diri itu bisa menghargai orang lain

      Delete

Si Entong (Harus) Kerja

Punya anak banyak, membuat saya dan suami punya 'gaya' tersendiri dalam mendidik anak-anak kami. Sejak kecil kami nggak membiasak...