Tuesday, November 28, 2017

Si Entong (Harus) Kerja


Punya anak banyak, membuat saya dan suami punya 'gaya' tersendiri dalam mendidik anak-anak kami. Sejak kecil kami nggak membiasakan bikin perayaan ulang tahun. Kecuali si Sulung Melvyn. Berhubung cucu pertama, dan waktu itu belum ada adik-adiknya, jadi sempat tiap kali ulang tahun pake perayaan. Itu pun Granny-nya yang bikinin pesta. Tapi begitu bererot anak bertambah jadi 4, diputuskan nggak ada yang namanya perayaan ulang tahun. Kenapa?

Kami memutuskan tiap mereka ulang tahun, itu cukup menjadi private family time aja. Kami makan malem atau makan siang bareng, lalu mereka terima kado dari orang tuanya, Grannynya, tantenya. Udah cukup. Dan kami kasih pengertian juga, dengan begitu kami bisa kasih hadiah ulang tahun yang nilainya lebih. Keempat anak kami juga sudah dibiasakan dari kecil diberi pengertian mengenai 'pengeluaran uang yang berlebih' dan mengapa The Kairupan ini harus berhemat.

Alhamdulillah, dari keempat anak kami, nggak ada satupun anak yang sangat demanding kalau ingin sesuatu. Sampe ngamuk-ngamuk atau nangis-nangis kalau barang yang diinginkannya nggak terpenuhi. Sama sekali nggak ada yang kayak gitu. Karena bener-bener dari kecil itu udah diajakin diskusi dan diajakin hidup prihatin. Terserah deh udah ngerti apa belom. Dan akhirnya lama-lama mereka terbiasa.

Jaman saya masih kerja di Majalah AsiaViews (projectnya Majalah Tempo), sebulan sekali 3 krucil Marshall, Marvell, Mayra Najmah udah rutin kerja sebulan sekali bantuin Big Mommy. Jadi tiap kali Big Mommy harus ke bank untuk urusin semua pembayarannya AsiaViews, abis ngejemput mereka pulang sekolah, kami langsung ke Bank. Masing-masing anak udah punya tugas masing-masing. Ada yang bukain pintu mobil buat emaknya, ada yang bawain map emaknya, ada yang ngantriin untuk emaknya, termasuk bersikap manis selama di Bank. Kalau udah selesai, masing-masing dari mereka dapet 'gaji' Rp5,000 😄

Bahkan ketika akhirnya mereka semua mempunyai handphone, tidak ada dari kami yang mengkhususkan mengeluarkan uang untuk membelikan mereka kebutuhan mewah itu. Mereka dapet dari hadiah ulang tahun dari om dan tantenya, dan ada juga yang dari lungsuran emaknya. Itupun pemakaiannya dibatasin banget. Dan kalaupun mereka fokus banget pake hp dalam waktu lama, itu pun karena mereka serius ngedit video.

Lalu apa hubungannya dengan si Entong? :D
Oiyaaa.. mari kita bahas si Entong. #AnakItuAdalahMarvell ini termasuk anak yang seleranya tinggi, selain kakaknya. Kalau ada maunya, dia bener-bener keukeuh teguh kukuh pendirian mau itu barang. Akhir-akhir ini dia kepengen upgrade handphonenya ke yang harganya 3jutaan. Ya pasti nggak mau beliinlah emak bapaknya ini. Lalu dia memutuskan untuk kumpulin uangnya di tantenya. Lalu dia bahaaaaaassss terus tentang handphone ke orang-orang di sekitarnya. Termasuk orang tuanya.

"If you want it, you have to work." kata Big Mommy.

"I know, Mom. So I need job, mom."

"I let you know if I have it."

Lalu lumayan intenslah dia nanyain lowongan kerja ke emaknya 😄
Oh My Allah.. anak ini emang deh. Sewaktu bulan Oktober kemaren, sempet dia kerja jadi talent zombie untuk event Halloween. Seneng banget dia. Uangnya udah terkumpul banyaklah. Sampek akhirnya minggu lalu, I called him to his phone.

"Syauqi, do you still need job?"

"Ya ofcourse dong Mom."

"Ya udah, mau jadi talent hantu nggak untuk premiere film Mata Batin? Nanti kamu keluar masuk studionya gitu, bikin kaget orang."

"Iya mau, Mom."


Akhirnya deal lah ya. Di hari H, dia dimekapin oleh emaknya jadi hantu anak kecil seperti yang di film. Sebelumnya dia sehat-sehat aja. Tapi mungkin karena pas dimekapin, di belakang dia itu kipas angin langsung, dan mungkin juga faktor makanan yang disediain panitia yang ada cuminya (karena si Entong alergi cumi), malam itu tiba2 aja si Entong panas tinggi.

Sebelumnya, begitu abis dimakeupin sama emaknya, dia langsung keliatan letih gitu badannya. Sampek akhirnya Big Mommy nyuruh dia rebahan. Lalu dia tertidur pulas sampek nganga asoy gitu.


Lalu kami sekeluarga mulai masuk bioskop karena pemutaran film udah mau dimulai. Saya dapet kabar dari asisten kalau Marvell ngerasa mual dan dia nggak mau keluar. Akhirnya Big Mommy lapor ke papanya.

"Dia harus keluar. Nggak enak sama yang punya acara" gitu kata Bapake.

Lalu Big Mommy telp si Entong.

"Syauq, what happened?"

"Syauqi ga enak badan Mom.."

"Do you still can walk?"

"Yes, Mom."

"So you better start walking and go out there, darling. Yang namanya kerja itu ya harus begitu. Harus komit, Nak. Semampumu aja, Sayang."

For centain parents, mungkin saya dan suami dicap tega kali yaa.. Tapi we don't see ourselves that way. Anak-anak harus diajarkan walaupun mereka kerja sama orang tuanya, mereka harus commit dengan tugas yang harus mereka laksanakan. Mereka udah harus dikenalin dengan profesionalitas sedari kecil. Toh yang penting dikerjain semampunya aja dulu. In syaa Allah kami juga bisa liat mana yang bahaya, mana yang nggak.


Pemutaran film pun dimulai. Pas film udah setengah putaran, saya ditelp sama salah satu panitia. Di kasih tau kalau Marvell panas tinggi dan muntah-muntah. Akhirnya Big Mommy keluar studio dan nengokin si Entong.

Dia lagi terkapar tiduran abis minum teh anget. Dia bilang kalau dia ngerasa mual. Tapi dia udah sempat jalan ke 3 studio.

"Tinggal 2 studio lagi, Mom.."

"Don't you worry about it, sayang. Sekarang istirahat aja ya"

"Ini pasti karena cuminya, Mom.. Aku itu masih mau jalan lagi, tapi tiap kali mau jalan aku mual.." terus air matanya ngucur.

"Iya, it's ok, Sayang. Istirahat aja dulu yaa.."

Begitu acara pemutaran film selesai, pas kami cek si Entong masih tidur. Badannya panasnya tinggi banget. Udah diminumin tolak angin dan panadol juga sebelumnya. Pas kami lagi kumpul-kumpul di ruang makeup, si Entong pun ngingo.. Big Mommy rada nggak nangkep dia ngomong apaan. Tapi kata asisten gue, si Entong bilang kalau dia nggak selesein jalan ke semua studio, nanti honornya dipotong sama Mommy. 

Aduh asli emaknya bingung.. antara terharu dan mau ngakak.
Memang kami selalu tekankan ke anak-anak, kalau kerjanya nggak maksimal, pastinya akan ada penyesuaian honor. Udah pasti ini harus diajarkan supaya mereka ngerti bahwa kerja itu harus kasih hasil yang maksimal. Dan untuk mengajarkan ke mereka juga, bahwa there's no such a special treatment yang membedakan mereka dengan talent-talent lain.

Panita pun cerita ke Big Mommy, kalo si Entong itu tadinya ngotot mau tetep lanjutin jalan. Walopun dia abis muntah-muntah.

"Kasian mommy, udah makeupin aku kayak gini, terus masa aku malah tiduran.."

"Gapapa, Mommy pasti ngerti kok.." Lalu dia nurut untuk istirahat aja.

Begitu Big Mommy bangunin untuk hapus makeup dan copot softlens, si Entong langsung ngomong..

"I'm sorry, Mommy.."

"Sorry for what?"

"Mommy udah makeupin aku kayak gini. Akunya malah sakit. Aku nggak mau lagi makan yang ada cuminya"

"It's ok, darling. Don't you worry about it. Yang penting Syauqi udah berusaha. And don't worry, honornya nggak dipotong kok.. " 😄😄😄

You did a great job, Marvell. And I was so proud of you.. The lesson we gave you was waay more important than hitung-hituan luas bangun ruang di Matematika 😄  Enjoy your salary, darling..

Thursday, November 16, 2017

Masako Aman untuk Anak Kita?


Minggu lalu saya dapet undangan Bicara Gizi Bersama Masako dengan topik utama yaitu Strategi Penurunan Berat Badan Anak Gemuk. Yang akan dibahas utama adalah tentang makanan anak. Tapi yang bikin acara adalah Masako, bumbu penyedap rasa yang pastinya ada MSGnya. Seperti yang kita tau, banyak orang tua yang memilih nggak temenan sama apapun yang mengandung MSG untuk anak-anaknya. Maka dari itu saya penasaran mau dateng. Karena, terus terang saya adalah emak-emak koboi banget. Anaknya banyak. Jadi sebisa mungkin apa-apanya itu harus praktis. Dalam urusan masak apalagi.

Waktu The Kairupan sempat nggak ada ART yang handle urusan rumah termasuk masak, Madam terpaksalah yang handle itu semua. Dan untuk urusan dapur saya ngandelin banget semua bumbu-bumbu yang praktis untuk ngempanin makan anak-anak saya. 

Monday, August 14, 2017

How Do You Talk to an Angel?


Scene 1:
Di bagian mainan anak-anak. Tiba-tiba ada anak yang kira-kira umur 4 tahunan langsung teriak.

"Mau yang ini!!!!"
"Kita liat dulu yang lain yuk"
"Nggak mauk!!! Mau yang iniiiii!!! Yang ini pokoknya!!"
Lalu tiba-tiba nangis kejer di area mainan anak-anak. Di Mall.
Nggak cuman sampe situ, si anak lanjut jongkok. Lalu duduk. Lalu ngegoser-goserin kedua kakinya. Sambil nangis kejer. Lalu tiduran. Lalu guling-guling. Sambil nangis kejer.

Friday, August 11, 2017

This is Us: Pelajaran dalam Rumah Tangga


"We had a fight and we both need a minute to catch our breath. The kids are gonna be fine. We show them how in healthy marriage that it’s just gonna be just a bloop in the radar few years from now. We’re the parents. We do the best we can. But at the end of the day, what’s happened to them, how they turn out, it’s bigger than us. Sometimes they make good decision, sometimes bad decision. Every once in a while they’re gonna do something that knocks our feet. Our kids are gonna be fine."

Tuesday, August 8, 2017

Anak Pasti Akan Memilih Ibunya


"Gue sedih. Ketika gue pulang ke rumah (dari kerja), anak gue bukannya ngedatengin gue. Tapi malah nyari mbaknya."

Kata seorang ibu muda lagi curhat ke temennya. Pilu banget nadanya. Bukannya doyan nguping. Tapi waktu itu jarak antara meja saya dan kumpulan ibu-ibu muda itu deketan. Plus si ibu muda ngomongnya rada besar juga volumenya. I couldn't help but follow her stories kan jadinyaaa :D

Saturday, August 5, 2017

Sebelum Punya Anak, Punya Value Dulu Dalam Keluarga



"Jadi orang tua itu emang nggak ada sekolahnya. Kita nggak dididik untuk menjadi orang tua yang baik. Jadi sebelum kita bisa bicara (tentang peraturan) ke anak, orang tua sudah harus punya commitment dulu tentang value apa yang akan diterapkan pada anak"

Jeng..jeeeng...
Susunan kata-kata itu saya tangkap ketika pertama kali hadir di seminar parentingnya ibu Elly Risman beberapa tahun yang lalu. Lupa tahun berapa. Tapi twinster masih kucil-kucil. Saat itu saya niat banget untuk memperdalam ilmu parenting, mengingat krucil kenyataannya nggak akan bertahan cilik terus. Yang saya ingat saat itu udah ada gejolak dalam menghadapi si sulung Melvyn.

Si Entong (Harus) Kerja

Punya anak banyak, membuat saya dan suami punya 'gaya' tersendiri dalam mendidik anak-anak kami. Sejak kecil kami nggak membiasak...