Monday, September 19, 2016

Aku Berduka. Sangat.

Kedua kaki yang terbiasa menopang tubuh gue dalam menghantam semua cobaan hidup, bener-bener lunglai. Nggak ada kekuatan sama sekali. Tulang-tulangnya kerasa kayak ilang nggak tau kemana. Air mata terproduksi dengan teramat banyaknya sehingga sanggup terus mengalir selama rasa kaget dan duka yg amat dalam ini ada di dada.

Udah nggak peduli lagi alis harus diapain, mata harus dibingkai dengan eyeliner, dan pinggiran bibir yang gelap harus ditutupi dengan lipstik. Nggak peduli lagi. Biarkan mereka apa adanya. Biarkan mereka ikut berduka. Kedua tangan yang terbiasa dipakai untuk 'mencangkul' demi memenuhi semua kebutuhan 4 anak, cuman bisa memegang lemah lengan anak kedua gue, Marshall.

Anak manis yang baru berusia 10 tahun ini harus mengubah fungsinya dari seorang anak yang juga berduka sangat, menjadi sosok lelaki yang menjadi tempat ibunya bersendar. Menguatkan ibunya. Mommy runtuh. Gitu pikirnya.

Iya. Big Mommy rasanya lossss kehilangan separuh jiwa dan raganya. Suami yang biasanya menjadi setengah jiwanya dalam berjuang di dunia, telah dipanggil Allah. Gue nggak tau gimana harus bangkit sesudah ini. Gue nggak tau gimana harus menjadi kuat sesudah ini. Gue nggak tau gimana bisa hidup tanpa cintanya sesudah ini.

Gue hanya bisa menangis. Meraung. Bersender. Gue lemah.. Gue nggak ingin beliau pergi secepat ini.

Lalu tiba-tiba situasi berubah. Total.
Tiba-tiba berasa seolah-olah gw berada beberapa meter dibatas tanah. Menyaksikan orang-orang yang sedang berduka. Gue menyaksikan suami gue menitikkan air mata. Empat anak gue berangkulan menangis bersama. Mereka menangisi kepergian Big Mommy nya.

Ternyata gue yang sedang berkafan siap-siap masuk ke liang kubur. Sementara gue berusaha menjerit kepada suami dan anak-anak gue. Nggak ada yg bisa denger sama sekali. Nggak ada.

"Saling jaga ya nak.. saling sayang.
Kalian harus kuaaatt!!!"

Mereka nggak dengar.
Tanah mulai dijatuhkan ke liangnya. Pertanda sebentar lagi akan tertutup jasad gue dengan tanah.

Mulai berasa sakit.
Mulai berasa takut.
Gue sangat jarang ketakutan. Tapi ini gue takut dan gue pun mulai nangis menjerit.

Gue coba menjeritkan ke suami dan anak-anak gue. Nggak ada yang bisa denger. Nggak ada.

"Jangan pernah tinggalkan shalaaaaattt. Jangan! Kalian pasti menyesal. Sakit banget ini! Banyakin amal baik. Banyakin!!"

Terus gue teriak kesakitan. Tapi gue nggak tau gue diapain.

Lalu gue terhenyak. Gue sadar dengan keadaan deg2an. Gue nggak lagi tidur. Tapi tiba2 gambaran itu muncul di dalam kepala gue.

Strong message. Banget.
Gue tersadarkan akan banyak hal.

Gue belum sepenuhnya mencintai Allah. Gue menumpahkan keseluruhan cinta gue ke suami gue. Sehingga apa jadinya kalau beliau dipanggil nanti. Gue akan lemah. Sangat. Beda halnya kalau gue konsentrasikan cinta gue kepada Allah. Pasti cinta gue terhadap suami juga terjaga. Tapi ada sumber kekuatan yang masuk ke hati gue untuk persiapan ketika hal yg gue takutkan terjadi.

Gue masih harus meningkatkan hormat dan rasa bakti gue ke suami gue. Karena di dunia ini, jelas terlihat gue masih 'lumpuh' tanpa beliau.

Gue masih kurang amalan baik.
Shalat gue pun masih belum baik.
Masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki diri. Masih. And I will take that chance. Starting from now. Ketika strong reminder itu terjadi beberapa jam yg lalu dan langsung gue tuliskan ketika gue sedang terduduk di Mall menunggu jadwal meeting.

Tulisan ini akan menjadi pengingat gue from time to time. In syaa Allah.


Saturday, July 9, 2016

The Love is Still There: Kaos Kaki


Gue itu kemana-mana kalo keluar rumah pasti pakai kaos kaki. Kaos kaki tipis muslimah itu lho. Nggak perlu lah gue jelaskan mengapa ya. Dan nggak perlu jugalah dipertanyakan mengapanya.

Dan.. dari dulu sampek sekarang.. dengan segala kegiatan gue yang segambreng, dari mulai urusan anak-anak sampek urusan cari duit, salah satu cara gue untuk ngecharge tenaga adalah dengan tidur di mobil. Gue itu orangnya pelor abis dari dulu. Begitu masuk mobil dan mesin mobil nyala, mata gue kayak digelayutin hantu pertanda ngantuk dan dalam hitungan detik bisa langsung.. blek... tidur. Temen-temen kuliah gue sampek ngasih julukan 'Abek' singkatan Anak Bekasi ke gue.. :D

Saturday, July 2, 2016

Es Krim Ekonomis atau Es Krim Bangsawan?


Ceritanya lagi berduaan sama si bungsu di Mall of Indonesia. Biasa deh.. kudu ngontrol wahana Dead Prison yang di running oleh teamnya Kompi Zombie. Eh eh eh... rugi deh kalo belon nyobain wahana zombie ini. Suwer deehh..

Okeh.. balik ke cerita awal.

Thursday, June 16, 2016

#TemenBaru: April Hamsa, Uang Jajan dari Blogging





Gue mau share lagi hasil chatting-chattingan sama temen baru Blogger gue. Siapa tau ada men-temen yang stay-at-home mom, tapi pingin punya kesibukan santai di rumah dan menghasilkan.

April Hamsa.
Apa adanya.
Nggak banyak gue ketemu sama ibu2 muda yang kalo chatting ya apa adanya aja gitu. Banyak yang berusaha menunjukkan ke-super woman-annya. Mungkin termasuk gue. Kalo April sik nggak.

Wednesday, June 1, 2016

#TemanBaru: Rach Alida Bahaweres, Pejuang Masalah Perempuan via Media


Gue punya temen baru seorang jurnalis. Gue share sedikit tentang dia karena gue yakin pasti akan ada manfaatnya untuk para wanita yang membaca. Para pria juga deng..

Namanya Rach Alida Bahaweres. Masih aktif bekerja di majalah Gatra dan juga aktif di AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Ketika gue chatting dengan mbak Alida, langsung ngeklik aja gitu. Well, temen baru gue ini agak beda. Ibu beranak tiga ini mempunyai ketertarikan besar untuk membahas masalah perempuan melalui kemampuannya dan lingkungannya. Ya karena kebetulan mbak Alida ini adalah seorang jurnalis, jadi dia menyuarakan perjuangan masalah perempuannya melalui media. But hey, it's even sharper than a sword!

Ketika gue tanya sejak kapan dan kenapa awalnya kok suka nulis tentang permasalahan perempuan, jawabnya:

"Sejak awal, mba. Sejak kuliah S1 semakin keliatan ketertarikan di isu perempuan. Apalagi pembimbing S1 aku juga dosen terkait gender di UI. Walau beliau mengajarkan komunikasi.

Dari situ, aku aktif di AJI, membuat aku jadi harus semakin belajar juga tentang perempuan. Ditambah lagi, aku melihat, dulu jarang yang menulis tentang perempuan. Hal sederhana, nggak menulis tentang profil perempuan."

Dan ketika gue tanya lagi, apa particular reasonnya sehingga tertarik nulis isu perempuan? Jawabnya: 

"Gimana ya. Aku melihat perempuan itu dulunya seringkali diangkat di media mengalami diskriminasi, yang diangkat banyak unsur seksualitasnya saja. Selain itu, korban kejahatan.

Media kan juga punya kode etik jurnalistik membahas tentang perempuan, tidak diskriminasi terhadap perempuan, tapi itu yang masih banyak pelanggaran. Apalagi aku menemui banyak perempuan yang disekelilingku menjadi korban"


Seiring dengan berjalannya waktu, mbak Alida pun dipertemukan dengan wanita yang menjadi korban KDRT, seksualitas, dan kejahatan lainnya. Mereka yang sudah menjadi korban, kerap kali malah diasingkan oleh masyarakat, mereka disalahkan, tapi satu sisi mereka harus bangkit untuk menghidupi anak-anak mereka.

Mbak Alida pernah dipertemukan dengan seorang wanita yang merupakan istri kedua, beranak 3, dan suami sedang dipenjara. Terbayang nggak oleh kita gimana pontang-pantingnya wanita tersebut bertahan menghidupi dirinya dan 3 anaknya? Tapi mungkin banyak juga yang langsung melihat ke akarnya: itulah kalau jadi istri kedua.. :( Gue sik beberapa kali bertemu dengan orang-orang judgemental seperti ini.

Lanjut lagi dengan cerita wanita tadi, ditengah kepontang-pantingan (ini emang ada yak kata kepontang-pantingan.. LOL) dia harus banting tulang kerja ini itu, sementara suaminya merongrong minta uang terus demi nyabu di penjara. For God's sake!!!

Ada satu lagi cerita..
Ketika sedang di Medan untuk sebuah acara, mbak Alida ini bertemu dengan seorang ibu. Ibu itu tersenyum. Mereka berdua ternyata sama-sama merupakan nara sumber. Bedanya si ibu merupakan nara sumber kesaksian. Di hadapan audiens, si ibu menceritakan tentang anaknya yang menjadi korban perkosaan oleh ayah kandungnya sendiri. Anaknya pun trauma pastinya. Udah kayak gitu, suaminya itu selingkuh pulak. WHAATTT!!!

Gue aja nggak bisa ngebayangin gimana cara ibu itu move on dengan hidupnya? Hatinya pasti hancur dengan kejadian anaknya diperkosa oleh ayahnya sendiri. Dan dia harus menjadi obat untuk trauma anaknya. Dan dia harus tetap berjuang bertahan hidup. Let's take a look at ourselves in the mirror. Gue merasa malu di keadaan yang seperti sekarang ini gue masih aja mengeluh. Gue harus perbanyak bersyukur dengan segala kemudahan dan kebahagiaan yang ada di hidup gue. Another reminder from my new friend. Inilah indahnya silaturrahmi.

Mari kita lihat dari sisi media. Menurut Mbak Alida, masih ada media yang mengangkat isu seperti contoh di atas dengan pendekatan tulisan yang menyalahkan perempuan.

Kemana si ibu kok anaknya bisa diperkosa?

Hal yang dipelajari oleh mbak Alida dari isu-isu perempuan yang ditemuinya adalah banyak perempuan yang mengalami diskriminasi dan menjadi korban, tapi mereka malah diasingkan. Perempuan itu kemudian bangkit dan berusaha sendiri. Sebaiknya, kita tak menyalahkan mereka tanpa tahu sebetulnya apa yang mereka alami. Karena hidup mereka sudah berat, kita belum tentu kuat bila berada di pihak mereka.

Semoga kedepannya gue akan dipertemukan lagi dengan teman baru yang semacam Mbak Alida, karena pasti akan ada hal-hal baru yang menjadi pelajaran hidup. And I hope akan semakin bertambah jumlah wanita yang ikut memperjuangkan isu-isu perempuan yang ada di kehidupan kita. Amin.

Sunday, May 15, 2016

#TemanBaru: Anita Carolina, Semangatnya Blogger Newbie

Wait!
Itu bukan maksud saya ngelabelin blogger lama, blogger baru. Senior Junior. Tapi itu memang Anita, teman baru saya, yang bilang kalau dirinya masih newbie. Masih baru. Dan pasti ada dari Anita ini yang bisa kita ambil poin-poinnya. Saya sik pinginnya profil temen-temen baru saya di blog ini bisa memberikan ide atau mungkin membakar semangat para pembaca yang baik hatinya.

Anita Carolina Tampubolon.
Awal chatting di group sama Anita, pertanyaan pertama saya adalah:

"Ini bukan Anita Carolina penyanyi jaman 80an kan?"

Friday, May 6, 2016

#OneStepAhead: Cara Memilih Pendidikan untuk Anak



Materi yang disajikan di acara Office-to-Office Talkshow yang diadakan oleh Nutrilon Royal ini, dibawakan oleh Drh. Damayanti Jusuf, M.SC., Ph.D. Beliau seorang praktisi pendidikan di Indonesia, dan pemilik SD Kupu-Kupu dan Sekolah Menengah Garuda Cendekia.

Setelah One Step Ahead Mum mengerti bagaimana mengawal tumbuh kembang anak, lalu mengidentifikasi potensi anak, selanjutnya  ibu dapat melakukan perencanaan, dimana salah satunya adalah memberikan dukungan yang tepat bagi anak. 

Mengenai pemilihan pendidikan anak, ini merupakan kebingungan yang akan selalu ada. Bisa dibilang bisa menimbulkan masalah baru buat para orangtua. Tapi sekali lagi, segala sesuatunya bisa disiasati kok. Kita para orangtua harus selangkah lebih maju dalam mempersiapkan pendidikan anak, mulai dari memilih sekolah yang tepat, memberikan pendampingan di sekolah hingga menyesuaikan dengan gaya belajar anak. Karena pada dasarnya setiap anak memiliki potensi akan sesuatu hal dan pendidikan yang tepat dapat memaksimalkan potensinya tersebut. Disamping itu orangtua juga harus memasukkan berbagai aktivitas di luar sekolah yang dapat medorong potensi anak secara maksimal.

Apa aja sih pertimbangan dalam memilih sekolah? Ada 4 hal, dan akan gue share infonya satu per satu.

1. Idealisme Keluarga



Dalam menentukan pendidikan yang akan kita pilihkan untuk anak, sebelumnya harus punya visi keluarga dulu. Apakah keluarga oke-oke aja apabila anak bersekolah di sekolah islam, misalnya? Atau keluarga beragama islam, tapi bersekolah di sekolah Katolik, misalnya? Jadi sesuaikan dulu dengan visi keluarga.

Lalu cari tau kurikulum yang digunakan oleh sekolah yang di tuju. Apakah Nasional Plus (bisa ditanyakan ke sekolah yang bersangkutan). Apakah bilingual.

Sesudah itu orientasi sekolah. Harus disurvey betul-betul. Bagaimana keamanannya. Kebersihannya. Lingkungan sekitarnya. Suasana kelasnya. Guru-gurunya. Dan hal-hal detail lainnya. Ini yang kadang banyak sudah dilakukan oleh orangtua, tapi mereka nggak detail-detail amat ngeliatnya.

Dan tentukan apakah orangtua ingin menyekolahkan anaknya di sekolah Negeri atau Swasta. Buat list plus minusnya bersekolah di negeri. Lalu buat plus minusnya bersekolah di swasta. 

Untuk menentukan sekolah menengah untuk anak, ditentukan juga.. apakah ingin yang pulang hari atau yang tinggal di asrama. Sama kayak yang sebelumnya, dibuat juga list plus minusnya. Supaya mempermudah kita untuk menentukan keputusan.

2. Kondisi Keluarga
Ini juga harus dibahas dengan detail nih. Apakah orangtua berdomisili tetap di suatu daerah? Nggak akan pindah-pindah? Apakah orangtua memiliki pernikahan campuran (nikah dengen WNA)? Karena ini berpengaruh ke jenis sekolah yang akan diambil. Apakah sekolah internasional atau sekolah yang menggunakan bahasa ibu atau ayah?

Kalau misalnya ortu masih harus berpindah-pindah, jadinya kan bisa ditentukan cari sekolah yang nggak kayak roket melesat biayanya. 

3. Keuangan Keluarga
Nah ini yang penting nih. Pada akhirnya segala pertimbangan sebelumnya itu, harus disesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga. Karena apabilah pilihan jatuh kepada sekolah swasta, itu artinya uang yang disediakan nggak akan sedikit.

4. Kondisi Anak
Kondisi anak harus selalu ada dalam pertimbangan orangtua. Biar bagaimanapun, yang akan menjalani nantinya adalah anak kita.

Secara umum yang harus kita lihat adalah sebagai berikut:

Kita harus bisa melihat kemampuan akademis anak.

Lalu lihat juga persaingan saat akan masuk ke sekolah tersebut. Soalnya kan ada yaaa.. untuk masuk ke suatu sekolah tertentu, daftarnya harus beberapa tahun sebelumnya.

Lalu lihat juga ukuran sekolahnya. Apakah terlalu kecil, atau terlalu besar.

Lalu bagaimana keadaan sosioekonominya. Karena sudah pasti, anak akan terpengaruh dengan kondisi sosioekonomi teman-temannya. Bukan nggak mungkin ketika kelas 2 SD nanti, si anak akan memaksa meminta dibelikan handphone mahal atau sepatu mahal hanya karena dia ngeliat teman2nya..

Dan kalau secara khusus, yang harus kita perhatikan adalah:

Cara belajar spesifik, difabel, kesubel. 

Apakah ada program pembelajaran khusus di sekolah tersebut, siapa tau anak kita membutuhkan.

Dan lihat juga ration guru : murid. Jangan sampai anak kita masuk ke sekolah yang gurunya kewalahan mengatasi muridnya karena jumlahnya terlalu banyak.

Nah hal-hal yang sudah gue jembrengin di atas itulah yang harus kita pertimbangkan dengan baik saat kita mau memilih pendiidikan untuk anak kita. Kalau udah mantap dengan pilihan, tinggal bagaimana komitmen One Step Ahead Mum dalam mendampingi anak kite bersekolah.

Yang harus diingat pada saat kita mendampingi anak bersekolah itu adalah:

ORANGTUA ADALAH ORANGTUA PERTAMA DI RUMAH.
GURU ADALAH ORANGTUA KEDUA DI SEKOLAH.

GURU ADALAH GURU PERTAMA DI SEKOLAH
ORANGTUA ADALAH GURU KEDUA DI RUMAH

Dan yang sering dilupakan orangtua adalah, bahwa orangtua dan guru itu adalah partner. Ini yang harus kita tanamkan baik-baik. Sehingga orangtua nggak bisa main lepas tangan aja akan perkembangan anaknya dalam hal pendidikan hanya karena merasa sudah ‘membayar’ ke sekolah/guru.

Dan yang harus dipahami juga oleh para guru adalah, bahwa orangtua itu bukan klien. Jadi harus ada revolusi pemahaman juga dari para guru agar bisa menjalin komunikasi yang interaktif dengan para orangtua yang merupakan partner para guru.

Dan kita sebagai orangtua dan juga para guru harus bisa mendidik anak agar belajar menghargai sekolah dan gurunya.

Ada hal-hal yang harus kita lakukan dan tidak boleh kita lakukan saat kita mendampingi anak-anak sekolah. Menurut ibu Damayanti, ini dia listnya:

DO:
  1. Melunasi SPP - ini penting agar kita bisa tetap fokus pada pengamatan perkembangan anak tanpa ada gangguan masalah. Dan membuat anak belajar dengan tenang juga tanpa harus menerima panggilan dari guru.
  2. Mendukung sekolah - terutama pada kebijakan-kebijakannya yang mendukung kegiatan belajar anak di sekolah.
  3. Membantu anak sesuai jenjang - ini juga penting untuk dilakukan karena gue masih melihat ada orangtua yang justru lepas tangan dengan kegiatan belajar anaknya. Baru mulai turun tangan ketika anaknya kelas 6 SD karena mau persiapan Ujian Nasional. Lah kemane aje yak...
  4. Mengobrol dengan anak - gue terbiasa banget melakukan ini dengan 4 anak gue. Dan mereka juga jadinya terbiasa menceritakan hal-hal yang baik dan buruk yang terjadi di sekolah, jadi mempermudah gue dalam mendampingi mereka bersekolah.
  5. Berkomunikasi dengan sekolah - berdasarkan obrolan dengan anak-anak tadi, jadinya gue bisa berkomunikasi dengan pihak sekolah apabila ada kejadian-kejadian tertentu. Gue juga terbiasa banget berkomunikasi mengenai progres anak-anak gue terutama dalah hal-hal yang emang perlu banget diperhatikan.

Seperti itulah ilmu yang gue dapat dari pakar pendidikan Indonesia di acara talkshow yang diadakan oleh Nutrilon Royal. Langkah-langkah jelas banget jadi bisa jadi pegangan buat kita-kita dalam menentukan pendidikan anak-anak kita.

Pesan terakhir dari ibu Damayanti adalah, anak itu adalah titipan dari Tuhan. Jadi sudah menjadi kewajiban semua orangtua agar bisa menjaga mereka sebaik mungkin. Kita sebagai orangtua harus selangkah lebih maju dalam memilih pendidikan anak. One step ahead, one step at a time.

Sebetulnya sik sesudah sesinya ibu Damayanti, Nutrilon Royal juga menghadirkan pakar financial planner yang udah ngetop banget di Indonesia, Ligwina Hananto. Tapi.. berhubung gue bener-bener paid attention banget pas dia ngomong, dan gue nggak terlalu ngerti bagaimana membahasakan pengetahuan finansial yang gue dapet dari mbak Wina ini, jadi minta maaf banget gue nggak bisa cerita banyak di blog gue ini.


Long story short, apa yang disampaikan mbak Wina adalah kita memang sudah seharusnya menyiapkan dana pendidikan untuk anak dari jauh-jauh hari. Persiapannya itu bisa dengan cara investasi ke:

- Tabungan/Deposito
- Logam Mulia
- Reksadana
- Surat Berharga
- Properti

Dan Tips yang diberikan untuk menyiapkan dana pendidikan anak adalah:
  1. Tentukan dulu sekolahnya dimana (ini bisa merujuk ke tips dari ibu Damayanti)
  2. Cari tau biayanya berapa
  3. Jangka waktu untuk mulai masuk sekolah dan lamanya pendidikan
  4. Hitung kebutuhan di masa mendatang
  5. Siapkan dana mulai dari sekarang
  6. Investasi sesuai profil risiko.

Terus terang gue agak mumet begitu di sharing by mbak Wina ini.. hahhahaa.. secara anak gue kan 4 yaa.. dan gue dan suami itu tipe yang gimana Allah aja lah.. (please please agen asuransi yang abis baca postingan gue ini, nggak perlu prospek-prospek gue yaa.. please..) 

Dan gue sik udah usul ke pihak Nutrilon Royal untuk membuat sesi khusus mengenai perencanaan keuangan untuk emak-emak. Pasti gue bakalan duduk paling depan dan nyimak dengan jidat berkerut deehh...

Oke… demikian ilmu yang bisa gue share.. yang gue dapet dari Nutrilon Royal. I was so happy diundang ke acara talkshow ini, karena biar bagaimanapun setiap orangtua pasti butuh reminder.



Dadaaaahh….

#OneStepAhead: Menggali dan Mendukung Potensi Anak



Fakta yang nggak bisa dipungkiri lagi di sekitar kita adalah sebagian besar ibu pasti punya keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada anak. Tapi nggak tau atau kurang paham apa aja yang paling dibutuhkan oleh anak.

Banyak faktor sik kenapa fakta ini jadi ada. Bisa jadi karena kurangnya pengetahuan dalam membimbing anak, ibu yang belum siap untuk menjadi ibu, faktor kegiatan yang sangat hectic, dll dll dll. Dan di postingan sebelumnya gue bilang bahwa ya kan nggak ada sekolah persiapan untuk menjadi ibu kan.. tapi ya ilmu gratis banyak. Asal mau belajar. Dan gue juga belajar dari program Office-to-Office Talkshownya Nutrilon Royal. Nara sumber yang dihadirkan juga yang berkelas. Dan gue akan sampaikan detail ilmu apa yang gue dapat.

Tema yang diusung dan sekaligus menjadi tagar oleh Nutrilon Royal adalah One Step Ahead. Dan di talkshow kali ini akan diperinci menjadi One Step Ahead Mum. Di sesinya Psikolog Ajeng Raviando, Psi yang kebetulan juga teman gue (anak kita sama-sama bersekolah di sekolah yang sama.. terus gue juga pernah makeupin Mbak Ajeng ini untuk acara photoshoot), hadirin hadirat diajarin langkah-langkah gimana caranya jadi One Step Ahead Mum (Ibu yang selangkah lebih maju).

One Step Ahead Mum itu adalah seorang ibu yang tidak hanya memahami apa yang terbaik untuk masa depan anaknya, tapi juga aktif mendukung anaknya dengan mencari tahu apa potensi anak.

Emang sik banyak yang bisa scan anaknya: oh anak gue suka gambar, anak gue suka nyanyi, anak gue suka nulis..
Tapi kalo yang gue liat sik banyak yang masih kurang spesifik saat nge-scan kesukaan anaknya secara detail.

Anak suka gambar. Sukanya gambar apa? Contoh kasus adalah si sulung Melvyn waktu dia umur 3 tahun - 6 tahun. Dia seneng banget gambar. Tapi gue perhatiin lebih detail lagi, dia itu sukanya ngegambar segala jenis dinosaurus. Umur 4 tahun dia udah tau apa jenis-jenis dinosaurus. Dan umur 6 tahun dia janjian sama sahabatnya bahwa dia akan menjadi Paleontologis pas udah gedenya nanti. Kenapa dia bisa menjadi spesifik itu? Karena gue dan suami bener-bener memantau secara detail kesukaannya. Terus kami stimulasi dengan penunjang kesukaannya itu. Beliin buku yang isinya dinosaurus. Langganan TV kabel sehingga ada channel TV yang suka bahas tentang binatang purbakala. Dll dll.

Anak gue suka nyanyi. Sebetulnya empat2nya suka nyanyi. Tapi si sulung udah jadi jaim sekarang. Terus kayaknya berasa rugi kalo ngeluarin suaranya.. hahahaa.. Tapi adik-adiknya yang 3 orang masih istiqomah dengan  kesukaan nyanyi-nyanyi mereka. Yang gue pantau bukan hanya sekedar mereka doyan nyanyinya. Tapi gue selami lebih dalam lagi.

Marshall. Suka nyanyi. Tapi ternyata dia lebih suka nyanyi untuk dirinya sendiri, demi merangsang pikirannya untuk bikin lagu. Yup! Anak gue yang satu ini udah mulai bikin-bikin lagu sejak kelas 3 (sekarang kelas 4). Cara bikin lagunya juga yang koboi banget. Dia nyanyi2 terus direkam di henpon. Awalnya emang dia ‘terinspirasi’ dulu dengan lagu2 yang sedang hits. Awalnya kayak ngejiplak nadanya. Tapi gue arahin gimana dari proses terinspirasi itu akhirnya bisa bikin lagu sendiri tanpa harus mencontek. Ya gue jelasinnya standard aja sik.. kalo terlalu njelimet ntar anak gue mimisan lageeehhh… Kesian kan anak gue. Terus apa langkah selanjutnya dari gue untuk mendukung potensinya? Gue udah arrange Marshall les piano sama adiknya temen gue. Belum berjalan sik.. tapi in syaa Allah akan mulai di saat yang tepat nanti.

Marvell suka nyanyi. Dan dia banci tampil. Dia seneng diliat orang. Dan dia PDnya bener-bener kepedean kalo udah tampil di depan orang. Apa yang gue lakukan? Gue arahin dia lebih detail tentang how to sing yang benar. Terus minimal sebulan sekali gue ajak anak-anak gue untuk nonton live musik, dan Marvell udah pasti naik ke panggung untuk nyumbang lagu. Kebetulan my BFF got married to vokalis bandnya Chaplin yang manggung muluk. Plus.. gue bikinin krucil ini akun Smule, jadi mereka bisa nyanyi2 puas disana dan dengerin penyanyi2 lain yang join nyanyi dengan mereka. Dan mereka compare their ability dengan anak-anak lainnya.

Kira-kira begitulah versi gue gimana memahami potensi anak lebih detail lagi.

Balik lagi ke One Step Ahead Mum, silahkan diliat foto di bawah ini tentang apa yang perlu kita perkaya untuk menjadi One Step Ahead Mum..



Bingungkah apa itu kecerdasan majemuk? Namanya juga majemuk yak, artinya kan banyak ya. Kecerdasan majemuk itu ada 8 kecerdasan. Ini dia macam2nya..



Nggak harus sedelapan2nya terlihat menonjol di anak kita lho. Kedelapannya itu sudah pasti ada di anak kita. Tapi hanya satu atau beberapa aja yang menonjol. Contoh kasus kalo di anak-anak gue yaaa...

MELVYN. Yang menonjol itu kecerdasan bahasa, kecerdasan logika, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan visual - spasial.
MARSHALL. Kecerdasan bahasa, musikal.
MARVELL. Kecerdasan bahasa, kecerdasan intrapersonal, musikal.
MAYRA NAJMAH. Kecerdasan bahasa, kecerdasan logika, musikal

Namun.. jeng-jeeeeengg….
Dari 8 macam kecerdasan yang disebutin di atas, penting bagi anak untuk memiliki kecerdasan intrapersonal. Karena kecerdasan inilah yang bisa memudahkan kita para ibu untuk mengembangkan potensi anak.

Kenapa anak kita perlu memiliki kecerdasan intrapersonal? Karena untuk menjadi seorang anak yang selangkah lebih maju, anak perlu kecerdasan ini. Kecerdasan intrapersonal yaitu kemampuan untuk memahami diri sendiri yang akan membantunya menghadapi situasi dan mengendalikan dirinya.

Nah terus gimana dong kalo anak kita terlihat tak ada tanda-tanda kecerdasan intrapersonal dalam dirinya? Jangan gusar jangan ragu.. jangan pula galau. Karena kecerdasan adalah hal yang bisa kita stimulasi. Bisa men-temen liat pas gue jembrengin di atas kan.. dari empat anak gue, hanya 2 anak yang kecerdasan intrapersonalnya menonjol. Yang 2 lagi nggak. Yang gue lakukan sekarang adalah menstimulasi 2 anak lainnya sehingga mereka bisa memiliki kecerdasan intrapersonal.

Cara gue menstimulasi mereka kayak apa? Ya masih standard aja sik.. secara gue kan nggak pakar yak di bidang psikologi. Yang gue lakukan adalah gue meningkatkan intensitas komunikasi dengan 2 anak lainnya. Sering ngobrol heart-to-heart. Gue suntik mereka dengan rasa percaya diri. Gue yakinkan mereka bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. Gue yakinkan mereka untuk membuktikan bahwa mereka bisa dan hasilnya pasti akan bagus. Setelah mereka bisa membuktikan (walaupun setelah beberapa kali mencoba), akhirnya pelan-pelan kecerdasan intrapersonal mereka jadi nambah. Gitu sik kalau gue.

Dan untuk bisa menstimulasi kecerdasan majemuk si anak, kita harus paham bener dengan gaya belajar yang pas untuk anak.



Pada akhirnya, kalau para orangtua udah tau apa aja kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh anak, orangtua perlu mendukungnya dengan pola asuh yang tepat juga. Pola asuh kayak gimana sik yang tepat untuk membimbing anak-anak kita yang merupakan generasi Z ini?


Positive Parenting itu ngebantu banget dalam penerapan disiplin efektif dan interaksi menyenangkan antara orangtua dan enak. Ingat kata kuncinya yaa men-temen… disiplin efektif dan interaksi menyenangkan. Ada kedisiplinan yang harus diterapkan. Jadi kalo positif bukan berarti harus iya mulu apa yang dimau anak.

Kiat mengasuh anak dengan cara Positive Parenting yang diberikan oleh mbak Ajeng kemarin itu adalah:
  1. Jadilah model yang baik dan ajari anak dengan teladan.
  2. Kenali perkembangan anak
  3. Luangkan waktu berkualitas dengan rutin & beri kasih sayang tanpa syarat
  4. Beri dukungan, tunjukkan penghargaan dan fokus pada tingkah laku positif.
  5. Berikan konsekuensi logis juga ruang untuk tumbuh dan melakukan kesalahan.
  6. Tanamkan nilai-nilai.
  7. Lakukan diskusi dan negosiasi serta ciptakan ‘Komunikasi Efektif'
  8. Bersikap tegas, disiplin jelas & konsisten

Sekarang ini kan udah maju kan yak. Udah mulai ada deh tuh tes-tes untuk melihat potensi anak. Tapi.. sebenernya nih.. tes sesungguhnya untuk melihat potensi minat dan bakat anak adalah observasi yang dilakukan secara rutin sejak usia dini oleh orangtua. Jadi ya semuanya balik lagi ke orangtuanya sik..

Mungkin ada yang masih bingung apa aja sik yang kita butuhkan sebagai ortu untuk mengidentifikasi potensi anak. Kita membutuhkan hal-hal ini:
- kepekaan dan kejelian
- pemahaman terhadap beberapa bidang minat
- observasi
- eksplorasi minat
- pilih satu - dua, lalu kembangkan.
- kembangkan bakat anak, bukan bakat orangtua.

Nah.. point yang terakhir itu gongnya deh tuh. Karena ya emang banyak banget ortu yang masih ‘memaksakan’ bakatnya untuk dimiliki anak. Mereka suka lupa bahwa anak itu adalah pribadi unik yang memiliki potensi yang berbeda dengan orangtuanya.

Terus kalau kita udah ready nih mau mengembangkan potensi anak. Terus apa dong kiatnya dalam mengembangkan potensi bakat dan minat anak? Ini dia jawabannya yak..

  1.  Cermati berbagai kelebihan, ketrampilan, dan kemampuan yang tampak menonjol pada anak.
  2.  Bantu anak dalam meyakini dan fokus pada kelebihan diri
  3. Kembangkan kepercayaan diri anak
  4. Perkaya anak dengan wawasan, pengetahuan, serta pengalaman di berbagai bidang.
  5. Upayakan berbagai cara untuk meningkatkan minat anak untk belajar dan menekuni bidang yang menjadi kelebihan
  6. Sediakan fasilitas dan sarana untuk mengembangkan bakat.
  7. Motivasi dan stimulasi anak dalam menekuni bakat dan minat.
  8. Dukung anak untuk mengatasi kendala dan kesulitan ketika menjalani proses pengembangan bakat dan minat.

Pesan terakhir sik dari mbak Ajeng adalah.. jangan lupa untuk:
- memberikan nutrisi terbaik untuk tumbuh kembang anak.
- memberikan pendidikan dan pengetahuan sesuai dengan karakter anak
- siapkan serta ajarkan keterampillan finansial untuk masa depan anak.

Nah… kebingungan baru timbul kan. Gimana caranya memilih pendidikan anak yang tepat? Untuk hal ini gue akan posting di postingan selanjutnya aja yaaa.. Materi memilih pendidikan anak ini disampaikan oleh Drh. Damayanti Jusuf, M.SC., Ph.D, seorang praktisi pendidikan dan juga pemilik SD Kupu-Kupu dan Sekolah Menengah Garuda Cendekia. Cusss deh langsung ke postingan selanjutnya yaaa men-temeeeenn...

Dadaaaaahhh….


Instagram | Twitter | Youtube | Facebook Page | Makeup Artist Blog Makeup

#OneStepAhead: Memantau Tumbuh Kembang Anak



Pernah saya mendengar statement dari ibu Elly Risman: “untuk menjadi orangtua itu nggak ada sekolahnya”. Iya bener. Seandainya ada sekolahnya. Terus ada acara naik kelasnya. Terus ada acara graduationnya. Setidaknya palingan saya udah nggak punya yang namanya panick attack dalam membimbing 4 anak saya: Melvyn, Marshall, Marvell, Mayra Najmah.

Emang nggak ada sekolahnya. Tapi banyak ilmu gratisnya. Banyak workshopnya. Yang penting balik ke kita lagi, mau belajar nggak? Nah kalas saya tipe yang dimana aja ada ilmunya, gue kejar deh. Apalagi gratis. Apalagi tujuannya untuk kebaikan anak-anak.

Alhamdulillah kemarin ini gue diundang ke acara Office-to-Office Parenting Talkshow yang diadakan oleh Nutrilon Royal di Bursa Efek Indonesia, dengan tagar #OneStepAhead. Beuuhh neeyykk.. banyak banget ilmu yang gue dapet disana. Tapi apalah ilmu yang kita dapat kalau nggak dibagi-bagikan, tul?

Untuk itu makanya postingan blog mengenai One Step Ahead Mum ini akan gue posting dalam 4 artikel yaa. Karena kalau gue posting dalam 1 artikel, gue yakin kalian akan mimisan bacanya nanti. Karena gue mau nyampein informasinya penuh. Nggak seuprit-seuprit. Nggak dikit-dikit. Mau kan? Mau kan?



Ilmu yang pertama dari Dr. Bernie Endyarni Medise, SpAK, MPH. Seorang Dokter Spesialis Anak dan Tumbuh Kembang. Mengenai Pentingnya Pemantauan Tumbuh Kembang Anak Sejak Awal Kehidupannya untuk Mempersiapkan Masa Depannya. Biar cepet nangkep di kepala, gue ketik ulang ya: penting banget kita merhatiin perkembangan anak kita di umur 0-5 tahun. 

Definisi anak apaan sik?
Kalau menurut UU no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak: anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan

Dan jangan sampek salah kaprah ya. Anak itu bukan ‘bentuk mini’ orangtuanya. Nggak asik sekali anak kita diliatnya kalau dia adalah suami kita tapi dalam bentuk mini. Ya kan? Ya kan?
Anak mempunya keunikan fisik sendiri yang berbeda dari kedua orangtuanya. Mereka punya keunikan kepribadian sendiri yang juga berbeda dari orangtuanya. Maha besar Allah yang menciptakan manusia.


Yang wajib banget kita perhatikan adalah CIRI KHAS ANAK yaitu: tumbuh dan berkembang. 2 hal tersebut haruslah ada pertambahannya, terutama pada saat golden periodnya (0-3 tahun). Tumbuh dan berkembang itu adalah 2 hal yang berbeda yaa men-temen sekalian.

Anak tumbuh diukur dari:
berat badan
lingkar kepala
tinggi badan

selama ada penambahan dalam ketiga hal diatas, berarti anak kita tumbuh dengan baik. Kalau yang tidak bertambah dari 3 hal diatas pada saat golden periodnya dalam waktu yang lama, maka kita harus buru-buru konsultasi ke dokter. Itulah makanya yaaa… pada saat kita habis lahiran anak, pihak Rumah Sakit ngebekelin kita dengan buku catatan anak. Disana kita mengisi data-data tentang bayi baru kita. Ketiga hal diatas akan dicatat oleh suster yang mengukur pertambahan ketiganya.

Gue jadi inget buku Rumah Sakit yang diserahkan waktu gue abis ngelahirin Twinster dan juga Mayra Najmah. Bukunya dari Nutrilon dan di dalamnya udah terisi lengkap data-datanya twinster. Ada cap kakinya juga. Lucuk.

Ok.. kembali ke pembahasan..
Sekarang tentang berkembang. Anak itu berkembangnya dilihat dari perkembangan fungsi tubuh

Bagaimana perkembangan motorik kasarnya?
Bagaimana perkembangan motorik halusnya?
Bagaimana perkembangan bahasanya?
Bagaimana perkembangan personalisasi dan sosialisasinya?

Semua itu harus kita perhatikan dengan baik. 

Lalu apa yang membuat anak kita bisa tumbuh dan berkembang dengan baik? Faktor apa aja yang berperan?
Ada 3 faktor ya sodara-sodara...
Genetika (keturunan)
Environment (pola asuh, psikologis, kesehatan, imunisasi, stimulasi)
Nutrisi (ASI, MP ASI, makanan seimbang)

Penting bagi kita untuk melihat faktor-faktor yang bisa mempengaruhi genetika anak-anak kita nanti. Kalo jaman dulu kan para orangtua mengedepankan Bibit, Bebet, Bobot dalam menentukan calon pendamping anaknya. Itulah cara mereka memastikan bahwa anaknya akan memiliki masa depan yang baik. Walopun belon tentu juga berhasil sik. Tapi jaman sekarang cukup kita pastikan bahwa pasangan sehat secara fisik dan mentalnya, agar dapat memberikan keturunan yang sehat juga.

Selanjutnya environment/lingkungan yang kita berikan untuk anak kita haruslah baik. Pola asuh seperti apakah yang akan kita terapkan kepada anak-anak kita. Militerkah? Orangtua tipe keset kah? Demokratiskah?
Seperti apakah stimulasi untuk tumbuh kembangnya yang akan kita berikan?
Setiap anak membutuhkan imunisasi. Mereka membutuhkan bantuan dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya. Mereka punya hak untuk itu. Jadi utamakan kebutuhan anak dalam hal imunisasi ini. Because they really need it.

Dalam membimbing anak-anak kita agar bisa berkembang dengan baik, stimulasi yang kita berikan haruslah:
  1. Setiap hari. Diulang setiap ada kesempatan.
  2. dalam suasana bermain dan interaktif.
  3. Penuh kasih sayang dan gembira.
  4. dengan pola asuh yang otoritatif (demokratik)
  5. Diberi contoh, dibantu, dan tuntas (selesai).
  6. penuh pujian dan penghargaan.

Lalu mengenai nutrisi. Pastikan anak terpenuhi kebutuhan ASInya. Apabila si ibu tidak dalam kondisi tidak bisa memberi ASI, maka usahakan banget-banget kebutuhan ini terpenuhi. Karena beda banget lho antara sistem kekebalan anak-anak ASI dan anak-anak yang tidak mendapatkan ASI.

Lalu berikan anak kita Makanan Pendamping ASI yang memang sesuai dengan umurnya. Sesuai juga dengan kondisi kesehatannya. Apabila anak kita alergi telur, udah pasti kita nggak bisa kasih MP ASI yang ada kandungan telurnya kan. Jadi kita sebagai emaknya emang harus aware banget.

Dan ketika mereka sudah melewati masa2 ASI dan MP ASI, makan kita harus memberikan mereka makanan yang seimbangnya. Jangan kasih makanan yang hanya dominan lemak dan karbohidrat aja, misalnya. Poin terakhir ini sik merupakan PR besar untuk gue nih. Secara gue sekarang dalam masa nggak ada ART nih, dan kemampunan masak memasak gue itu masih di bawah standard lah. Jadi masih belum komplit penyajiannya. But am getting there, for sure. I’m still learning. Yah doakan sajalah dalam proses belajar ini, tiba-tiba dapet berkah punya ART baru, ye kaaann? Amin-kan dong sodara-sodaraaa...



Baeklah sekian dulu postingan pertama #OneStepAhead yang isinya  tentang tumbuh kembang anak, yaaakk.. Silahkan intip artikel selanjutnya yang gue dapet dari psikolog Ajeng Raviando, Psi mengenai Menggali dan Mendukung Potensi si Kecil. Cuuuss yaaa….

Dadaaaah...

Instagram | Twitter | Youtube | Facebook Page | Makeup Artist Blog Makeup

Tuesday, May 3, 2016

Nu Oceana: Kenapa Gue Butuh



Akhirnya kami sekeluarga nginjakin kaki lagi di Bali. Pulau dimana pengunjungnya itu harus berani nantangin matahari. Gue bukan penyuka matahari. Kalau matahari tempat belanja, gue suka. Disana banyak diskonan atau program beli 2 dapat 3.

Anyway..
Kami sekeluarga ini deket. Kami tau apa kesukaan satu sama lain. Krucil pun tau gue doyannya minum apa. Tapi begitu hari pertama kami di Bali, mereka ngeliat gue nenteng sesuatu yang beda. Anak #3 Marvell pun nanya..

Saturday, April 30, 2016

#TemanBaru: Ida Tahmidah, Menulis Juga Milik Anak-Anaknya


"Apaa? Ah gilak.. sekolahnya gimana tuh?"

"Waduh.. mau dikirim perang ke Amerika ya nanti kalau sudah besar?"

"Hah? Sebulan ngeluarin uang berapa loe, Mayo?"

Itu salah tiga dari respon orang-orang yang tau gue punya 4 anak di ibukota Jakarta ini. Beberapa ada yang melihat itu sebagai suatu kehebatan. Ada yang melihat itu sebagai suatu kenekatan. Ada yang melihat itu sebagai kegilaan. Ada yang melihat itu sebagai panutan. Apapun itu.. gue yang menjalani cuman bisa bilang alhamdulillah..

Etapi... kenalan deh sama teman baru gue. Ida Tahmidah. Teman baru gue di dunia per-blog-an. Ibu dari 5 anak *iyaaa... 5 anak!* yang berusia 44 tahun, tinggal di Cimahi, Jawa Barat. Kesan gue atas teman baru gue ini, orangnya tenang, kalem, tapi anak-anaknya rame. Ada 5 anak.. 

Azizah Amatullah 17 tahun.
Miqdad abddillah 14 tahun.
Fathiya Amatullah 13 tahun. 
Mushab Abdillah 11 tahun.  

Maghfira Aulia Amatullah 8 tahun. (dan gue lupa nanya kenapa cuman si anak bontot yang namanya ada 3 kata :P)

Anyway..
Mbak Ida ini dulu awalnya adalah pekerja kantoran. Ketika hamil pertama, langsung memutuskan berhenti kerja. Sama seperti gue, mbak Ida ini nggak punya rencana mau punya anak banyak. Kita mah gimana Allah aja. Kalau gue kan cuman hamil 3 kali tapi dapet anaknya 4. Kalo mbak Ida, hamilnya 8 kali, dan sempat keguguran 3x. 

Tapi yang namanya rejeki anak nggak kemana ya kaan.. melihat adanya peluang bisnis karena rumah tinggalnya itu dekat dengan beberapa Perguruan Tinggi, akhirnya mbak Ida bikin bisnis kecil-kecilan yang memberikan uang jajan besar yaitu Laundry Kiloan. Kalau gue nyebutnya Cukil a.k.a Cuci Kiloan.

Ok. Jadi mbak Ida ini adalah Ibu Rumah Tangga, punya 5 anak, punya usaha cukil, dan blogger juga, dan aktif pengajian-pengajian juga, dan aktif berkomunitas juga, dan aktif menjadi pendamping kegiatan menulis anak-anaknya (oke ini nanti akan gue ceritakan di bawah yaaa). Nah terus gimana ngatur waktunya beraktifitas? Gimana ngatur waktunya untuk tetap ngeblog? Sementara blognya itu tidak terlantar dan isinya berkualitas. Kalau men-temen berkunjung ke www.IdaTahmidah.com disitu akan mendapati banyak postingan dengan tema yang lengkap. Parenting, motivasi, kewanitaan, Islam, teknologi, kuliner, dan tema-tema lainnya.

Dengan humblenya mbak Ida ngejawab:
"Ga ada strategi khusus siih...cuma bangun lebih awal aja..kerja sama dengan suami juga.. Anak-anak dibuat nggak manja dan harus mandiri."

"Anak dibuat nggak manja dengan mengerjakan tugas mrk masing-masing.. Beresin kamar masing-masing, cuci piring masing-masing, cuci baju seragam buat yg besar. Hari libur kerja bareng..masak bareng. Gitu aja sih..."

Yang namanya blogger pastilah suka nulis. Udah bukan rahasia Illahi lagi itu kan yaa. Nah mbak Ida yang suka nulis ini baru kenal internet pas hamil anak keempat. Terus mulai browsing sana-sini. Terus mulai kenal dunia blogging. Terus mulai deh nyoba-nyoba blogging. Awal blogging dulu di Multiply. Isinya kebanyakan curhatan-curhatan. Tapi mulai 2012 lah mbak Ida akhirnya ngegarap blognya yang lebih serius lagi.

Yang serunya tuh yaa.. menulis itu bukan cuman jadi hobi mbak Ida. Menulis juga merupakan hobi anak-anaknya. Setidaknya 2 dari 5 anaknya berbakat menulis yang luarbiasa. Anak sulungnya, Azizah, sudah memiliki 6 buku antalogi dan juga solo. Sedangkan anak ketiganya, Fathiya, sedang proses buku antalogi kedua.

Langsunglah gue keingetan sama 3 krucil gue, Marshall - Marvell - Mayra Najmah, yang lagi demen-demennya bikin komik sendiri. Terus mereka sekarang juga lagi getol bikin short story in english di laptop kakaknya. Sementara gue belum begitu membimbing atau approach mereka banget masalah tulis menulis ini... Langsung dooong pingin tau detail nih cerita mbak Ida dan anak-anak penulisnya..

Kenapa kok anak-anaknya bisa pinter-pinter banget nulis? Oiya.. kenapa gue bilang pinter? Karena pas Azizah (anak pertama) kelas 4 SD (sekarang 17 tahun), dia ngasih draft 1 novel ke ibunya dan minta dikirimkan ke percetakan. Pernah mbak Ida kaget begitu ngeliat di koran, ternyata ada cerpen anaknya diterbitkan. Ternyata diam-diam Azizah ngirimin via email.

Terus..
anak yang ketiga, Fathiya, sejak kelas 3 SD tiap tahunnya ikutan Konferensi Penulis Cilik Indonesia sampai sekarang kelas 6 SD. Selama SD, sudah 4 kali ikutan pengayaan kepenulisan di Jakarta. Sementara untuk ikutan KPCI itu, haruslah diseleksi dari semua penulis cilik di Indonesia. Alhamdulillah Fathiya kepilih terus. Di KPCI itulah Fathiya banyak mendapatkan masukan dari para penulis yang namanya sudah besar.

Jadi.. kenapa pada pinter-pinter nulis..
Kalau kata mbak Ida, anak-anaknya itu senang banget membaca. Kalau sudah senang membaca, nanti larinya ke menulis. Si sulung dulu awalnya ikut-ikutan emaknya maenan Multiply. Tapi kok ya kebanyakan chattingnya dari pada ngeblognya. Akhirnya dikasihlah syarat oleh mbak Ida bahwa kalau mau main internet, blognya harus diisi dulu dengan tulisan atau resensi buku yang sudah dia baca. Baru boleh internetan. Aaahh.. ibunya pintar!

Pesan dari mbak Ida, untuk ibu-ibu yang anaknya seneng nulis (gue.. yak itu gue..), dukunglah kesukaan anak dengan mencarikan kesempatan-kesempatan yang berhubungan denagan kesukaannya itu. Gue juga baru tau dari mbak Ida bahwa di Mizan ada pelatihan penulisan untuk anak. Jadi orang tuanya memang harus aktif nyariin kesempatan untuk si anak.

Aaahh.. I can see clearly now!
Tuh kan.. nggak pernah ada ruginya mengenal lebih jauh teman baru. Karena pasti ada ilmu yang bisa kita dapat dari teman-teman yang ada di kehidupan kita. Nice to know you mbak Ida dari Cimahi. Semoga ada saatnya kita bisa ketemuan in real life yaaa.. Lebih seru lagi kalo kita berdua foto bareng dengan semua anak-anak kita.. Hahahhaa.. macam pesantren nanti keliatannya yaaa.. penuh beneeerrr... :D

Segitu dulu yaaa postingan tentang teman baru gue ini. Pasti... ya pasti.. Pasti ada manfaatnya untuk men-temen yang membacanya.

Dadaaaahhh...



Friday, April 15, 2016

#TemanBaru: Ira Guslina dengan Segala Tipsnya

Nggak pernah ngerugiin kok punya temen baru itu, sodara-sodaraah. Kalo emang loe lagi nggak sial dapet temen baru yang gengges tapinya yaaa.. Dan yang pantas gue bahas di rumah The Kairupan ini tentunya adalah teman baru yang memberikan manfaat untuk gue, dan juga pastinya untuk orang lain. Makanya gue share disini..

Sebut saja Ira Guslina.
Blogger aktif. Ibu dari 2 anak balita kinyis-u yang keduanya berusia 2 tahun ke bawah. Kalau banyak yang bercerita bahwa sejak punya anak kegiatan ngeblognya jadi berkurang, ini nggak kejadian sama Ira.

Kalo ditanya repot apa nggak, ya repot jawabnya. Tapi waktu buat ngeblog mah bisa diatur. Yang penting emang mau nyediain waktunya. Biasanya Ira kalo ketak ketik blog itu pas shubuh, siang, dan malam ketika krucil-krucil sedang bobok damai. Bikin artikelnya juga nggak langsung jadi juga. Ada prosesnya.

Awalnya kita harus tau dulu mau nulis apa.
Abis itu bikin pointernya. Yang detail dari awal sampek akhir.
Kalau udah kayak gitu, udah enak kalo mau ngetik artikelnya. Tinggal disambung2in aja. Jadi kalo terinterupsi karena anak-anak bangun, nggak akan gagap mendadak karena kelupaan apa yang mau ditulis sebelumnya. Malah katanya jadi sering ketambahan ide.

Intinya sik.. anak bukan penghalanglah pastinya ya, sodara-sodara. Kalo emang loe emang mau ngerjain sesuatu, ya harus ada penyesuaian aja sik sebetulnya. Ira.. she walks the talks. Coba tengok aja blognya di www.DuniaBiza.com. Blognya update terus. Setidaknya dalam seminggu itu ada 2 postingan. Dan gue jamin, temen-temen akan banyak dapet ilmu dari tips-tips dan cerita yang ada di DuniaBiza.com. Dari tips menentukan tanggal operasi caesar, cara investasi, tips membawa bayi naik pesawat, cerita travelling, sampai ke informasi hak korban kecelakaan.

Ira ini dulu juga bekerja. Nggak dulu banget sik. Baru berhenti kerja itu pas September 2015. Pertimbaangan berhenti kerja itu karena ingin mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya. Ditambah lagi, setelah dihitung-hitung, kalau kerja kantoran 'untungnya' sedikit. Atau malah bisa dibilang impas. Karena kalo kerja, Ira jadi ada pengeluaran tambahan untuk tansport, nanny-nya anak-anak, biaya makan siang yang seringnya jajan di luar.

Nah karena itu akhirnya diputuskan berhenti kerja aja. Sekarang ini akhirnya cuman fokus ngurus anak2 dan blogging dan jadi penulis lepas dan jadi content writer. Hal2 yang bisa dilakukan di bawah atap rumah.

Tips dari Ira kalau temen-temen mau mulai blogging adalah lakukan tanpa adanya paksaan. Lalu bergabunglah dan aktif di komunitas. Salah satu komunitas yang diikuti Ira adalah Blogger Perempuan. Dari situlah Ira banyak mendapatkan ilmu mengenai optimasi blogging. Sesudah itu jangan lupa untuk melalukan networking dengan blogger-blogger lain untuk memperluas jangkauan blog kita.

Ah yaaa segitu aja dulu tulisan singkat gue tentang Ira Guslina, yang gue ketik dari Nusa Dua Resort, Bali. Salah satu contoh ngeblog yang gue lakukan disela-sela waktu cewawakan sama suami dan anak-anak. Sekarang gue mau cewawakan lagi yaa.. kalo emang loe haus akan informasi dan tips yang detail, langsung aja yaaa geledah blognya temen baru gue, Ira Guslina.

Dadaaahh...

Saturday, April 2, 2016

CARA MENDIDIK ANAK BEREMPATI



“Mommy, do you want me to massage your back?"

“Kecilin musiknya, Mama lagi terima telepon!"

“Don’t go inside mom’s room, Mommy’s sleeping.."

“Baby (the lil sister), you can take my chicken. I only eat one.."

Itulah beberapa rasa empati yang ditunjukin anak-anak gue di rumah. Bukan. Gue menulis itu bukan berarti gue mau bilang bahwa gue sudah berhasil mendidik anak-anak gue sebagai anak-anak yang berempati. Justru malah gue mau share pembahasan psikolog tentang bagaimana caranya kita mendiidik anak kita agar menjadi anak-anak yang berempati.

Wednesday, March 30, 2016

#TEMANBARU: Elisa Koraag, Cerminan untuk Para Mantan Karyawan

Gue punya temen baru lagi doong. Sebelumnya kan gue udah pernah bilang kan.. kalo sebulan 2x gue akan bikin postingan tentang temen-temen baru gue. Tujuannya untuk sharing pengalaman aja. Siapa tau bisa jadi inspirasi temen-temen yang ngebaca blog gue. Siapa tau bisa menjadi inspirasi bagaimana teman-teman mau beraktifitas.


Sekarang gue mau cerita tentang mbak Elisa Koraag. Gue yakin pasti abis baca postingan ini ada teman-teman yang terinspirasi untuk menjadi blogger. In syaa Allah..

Monday, March 28, 2016

MELEPAS ANAK REMAJA TRAVELLING SENDIRI. KENAPA GUE HARUS MEWEK?

Si sulung janji.. begitu sampai di Bali, handphone Nokia legend-nya ini
akan dinyalain dan nelp Big Mommy

Berawal dari ide sang suami. Berhubung si sulung masih bertahan dengan nilai paling tinggi di kelas, dan berhubung sang ayah stay di Bali sampai akhir bulan ini, beliau mencetuskan gimana kalau ngirim si sulung ke Bali untuk ngisi liburan mid semester. Nanti balik lagi ke Jakarta bareng papanya..

Kata suami..
Daripada Granny beliin lego lagi..
Daripada dia cuman ngisi waktu main lego.. 
(oya.. si sulung ini lagi digrounded nggak boleh main gadget selama 3 bulan)..
Jadi better dia nambah pengalaman hidup.

Ayah (baca: suami gue) ngusulin agar si sulung berangkat sendiri naik pesawat ke Bali. Tapi kan ini akhir bulan, sayaaaaanggg… Akhirnya ya itu.. keluarga besar yang rutin kasih hadiah ketika si Sulung hasil rapornya paling tinggi, dikerahkan oleh Ayah untuk ngasih hadiahnya perjalanan Melvyn ke Bali.

Tuesday, March 22, 2016

NGGAK HARUS SELALU JADI BINTANG??

Pic courtesy of Ekstrimis 70

Seluruh timeline socmed gue isinya lagi rame tentang reuni SMA angkatan gw hari Minggu, 19 Maret kemaren. Sekedar info, gue itu bersekolah di SMA 70 Bulungan, angkatan 92-95, yang nama angkatannya bernama Ekstrimis.

Gue sama sekali nggak keberatan dengan postingan temen2 gue yang bejibun di timeline gw. Karena sebagian besar banget ada foto gue. Gue sangat berteman sekali waktu SMA. Gue bergaul dengan nyaman dan dengan personaliti gue apa adanya.

Kembali ke acara reunian kemarin itu..
Dari pertama gue mau masuk gerbang, gue udah mulai jejeritan ketemu teman. Semakin kedalam semakin ngejerit. Kesenengan. Peluk-pelukan. Sun-sunan. Sibuk foto-fotoan. Sampek nggak napsu mau makan.. (really???)

Namanya udah usia, lutut udah mulai kasih alarm kalo mulai lelah. Kerongkongan mulai kering kehausan. Lalu memutuskan duduk sejenak di area Jakarta Food Truck punya temen sebangku gue saat SMA. Apakah gue duduk dengan keadaan tenang?

Sunday, March 13, 2016

#TemanBaru: Hairi Yanti, Penulis Cerpen Anak

Gue orang yang bakal frustasi kalau segala sesuatunya monoton. Itu-itu aja.
Makanya harus ada perubahan atau sesuatu yang bertambah dalam hidup gue.
Kegiatan. Skill. Rencana. Termasuk teman baru.

Dalam beberapa bulan ke depan, gue mau nulisin profil temen-temen baru gue di komunitas Blogger Perempuan. Tujuannya apa? Issshhh... mulia banget ciin tujuannya. Untuk menginspirasi teman-teman semua, siapa tau ada di antara teman-teman baru gue ini yang bisa menginspirasi kalian sesuai dengan karakter kalian. Mulia kan tujuannya? 

Untuk teman gue yang pertama..
Please welcome, ladies and gentlemen..
Hairi Yanti..!!!
Or you can call her Yanti.


Yanti adalah seorang blogger yang tinggal di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Tapi Yanti ini bukan cuman seorang blogger. Tapi juga penulis cerpen anak. See? Ada lagi opsi lain untuk menambah aktifitas kita kaann..

Kalo emang kalian suka nulis, suka menghayal, suka ngobrol sama anak-anak.. mungkin bisa mempertimbangkan jadi penulis cerpen anak untuk mengisi kegiatan. Gue nggak tau deh ada banyak atau nggak penulis cerpen anak  di Indonesia, tapi Yanti ini adalah temen (baru) gue yang pertama yang berprofesi sebagai penulis cerpen anak. Gue jadinya suka aja gitu nanya-nanya ke Yanti tentang profesinya ini.

Dan yah kan gue horangnya seneng berbagi ilmu doong yaaa... makanya dicintai teman-temannya kaaann (preeeeddd), jadi akan gue share pastinya dimarih tentang yang gue tanya-tanyain ke Yanti.

Sebetulnya bukan tiba-tiba aja Yanti bangun tidur, terus menyibakkan rambut, beranjak dari tempat tidur, terus ngadep ke kaca dan bilang "ow yeah, saya mau jadi penulis cerpen anak!". Bukan gitu awalnya.

Awalnya ya emang Yanti ini seneng baca. Seneng nulis. Seneng nulis tentang apa aja. Tapi dari hasil tulisan-tulisannya yang dikirim ke media, yang paling sering diterima dan dimuat itu kok ya malah cerpen anak. Jadinya ya sejak tahun 2015 yang lalu, Yanti mutusin untuk fokus di nulis cerpen anak aja.

Gue tumbuh sebagai anak yang baca majalah Bobo waktu kecilnya. Langganan. Paling seneng kalau tiap kali terima hadiah 2 minggu sekali yang diselipin di majalahnya. Nah, tulisan-tulisan cerpen anaknya Yanti ini paling sering dimuat di majalah Bobo. Bukan jaman dulu yaa.. Tapi jaman sekarang.. :P

Beda nggak sik nulis cerpen anak dan nulis cerpen remaja atau dewasa?
Ya beda lah ya pastinya dari beberapa sisi. Dari tema aja udah beda kaan. Untuk anak kan nggak mungkin kita pakein tema kasih-kasian antar sesama jenis... eeeehhh... antar lawan jenis maksudnyaaa.. yakali ya mau nulis tentang LGBT buat anak-anak. Bisa-bisa dipancung sama emak-emak sedunia nyata nanti..

Kalo kata Yanti yang pasti beda adalah cara gaya bahasanya. Kalo cerita anak atau cerpen anak  atau yang akan gue singkat menjadi cernak, gaya bahasanya lebih sederhana karena menyesuaikan dengan bahasa anak-anak dan juga pemahamannya. Kalimat yang digunakan juga nggak bisa panjang-panjang.

Sama kayak menulis tulisan apapun, menulis cernak ya pasti ada kesulitannya juga. Kadang Yanti juga sulit kedapatan ide. Nggak usah Yanti, semua penulis juga pasti adalah masa nangis meraung-meraung sedih nggak dapet ide.. (lebay detected!). Kadang Yanti lancar nih nulis cernah.. eehh at the end dia ngerasa garing sama hasil tulisannya. Kadang udah lancar nulis awal-awalnya.. eehh.. kesulitan mikirin gimana nuntasin ceritanya.  Makanya kata Yanti nih, kalo udah selesai tuh ya rasanya senengnya kebangetan. Apalagi kalau udah berhasil nembus media. Bahagianya berlipat-lipat. Rapih pula lipatannya.

Yanti mah nggak pelit! Gue belon pernah dijajanin sik. Tapi keliatan dengan dia membagi tips bikin cerpen anak dengan menggunakan pointer. Coba dibaca deh tipsnya. Itu mah bukan cuman tips untuk nulis cerpen anak, bisa diaplikasikan untuk nulis apapun. Ga caya sama akooh? Lha kok ya nggak percaya thooo.. ini gue nulis tentang Yanti itu ya dengan mempraktekkan cara pointer yang dikasih Yanti itu kok yaaa.

Psssstt.. Ini Yanti bilang ke gue, kalo emang udah kelar nulis cernak, langsung cool down. Jangan langsung tunggang langgang karam kirim ke media. Diemin dulu aja katanya. Ibarat abis masak nasi, mateng kaan, ya diemin aja dulu. Diemin dulu seharilah.. atau beberapa jam kalo emang loe terlalu excited nggak sabaran. Kalo pas Yanti lagi males, dia bisa ngediemin sampek seminggu. Abis itu dibaca ulang, terus dipoles lagi biar makin kece. Baru deh dikirim-kirim ke media yang dituju.

Kalo lagi ngirim tulisan, dulu Yanti suka ngirimnya dengan 2 cara. Via email. Dan juga Via pos. Tapi pas kesini-kesininya dia liat ternyata banyak responnya via email, akhirnya Yanti mulai ngirimin via email aja deh hasil tulisan-tulisannya. Lebih praktis juga kaaan.. 

Kalo udah dikirim ke media... selanjutnya ya dilupakan aja. Jangan terlalu dipikirin, nanti jadi susah move on. Lanjut aja dengan niatan tulisan selanjutnya. Ntar tiba-tiba nerima kabar bagus deh, kalo cerpennya dimuat. Kalo ngga ya berarti bukan hal buruk juga kan.

Honor yang diterima per cernak itu sik tergantung medianya yaa. Tapi ya kira-kira berkisar Rp150,000 - Rp300,000. Mayan banget itu siik yaa untuk hal yang kita kerjain di depan lektop. Pas gue tanya lebih happy mana, tau cernaknya mau dimuat atau pas terima honor? 

"Aduh.. Itu pilihan yg sulit pertanyaannya. Kalau cernak dimuat bahagia karena tau bakal dapat honor #ups.. " Gitu katanya..

Manusia itu hidup harus bertumbuh. Udah pasti Yanti punya keinginan lebih untuk kedepannya. 

Mau nulis cerpen remaja. 
Mau nuis cerpen dewasa.
Mau belajar nulis artikel untuk koran.
Mau nulis novel anak-anak.
Mau nulis novel remaja.
Mau nulis novel dewasa.

Keinginan-keinginan yang akan membuat hidupnya bertumbuh pastinya. Mari kita aminkan para jemaah sekaliaaaaan... (((AMIIIIIN)))

Buat teman-teman yang baca postingan gue ini, semoga aja profil temen baru gue ini ada gunanya ya. Banyak kok opsi-opsi yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu kita. Yah untuk latihan mah, bisa laah kita bikin aja blog khusus untuk cerpen anak. Buat latihan nulis aja dulu gitu.. Kalo udah lihai, baru think to bring it to another level. Kirim ke media. Then to another level. Bikin novel.

Kalau mau baca cernak-cernaknya Yanti yang dipublish di media, langsung aja ngesot ke blognya Yanti ya para pembaca yang budiman. Gue yakin pasti bisa menambah inspirasi.